ulumul qur’an

ILMU-ILMU MAKKIYAH DAN MADANIYAH

Disusun Oleh: Ainul Yaqin

Makalah

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Ulumul Qur’an Kelas A

Dosen Pengampu: Prof. Dr. HM. Muchojjar HS., MA.

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2009

ILMU-ILMU MAKKI DAN MADANI

  1. I. PENDAHULUAN

Al-Qur’an sebagai kalamullah sekaligus mukjizat nomor wahid yang diturunkan kepada Khatimul Ambiyak Wal-Mursalin melalui malaikat Jibril, secara bertahap selama 23 tahun untuk menjawab pertanyaan yang di majukan kepada Muhammad SAW. (Asbabunnuzul) (Bahar Azwar, 2005: 9) yang diturunkan sebagai “…….Petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenahi petunjuk itu dan pembeda antara Haq dan Bathil, “ (QS. Al-Baqoroh: 185) (Depag, 1993: 45).

Sementara Qurais Syihab dalam buku Sejarah dan Ulumul Qur’an menerangkan bahwa ayat-ayat Makkiyah turun selama 12 tahun 5 bulan 13 hari (Qurais Syihab, 1999: 64) sisanya tidak dijelaskan apakah semua disebut ayat-ayat Madaniyah.

Karena Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia, maka manusia yang merasa dimanusiakan oleh Allah sangatlah penting memahaminya, al-Qur’an merupakan samudra ilmu bagi manusia ditinjau dari segala aspek, sebab turunnya, daerah-daerah atau tempat turunnya, demikian juga waktu, sehingga bisa menganalisa nasyakh mansyukhnya ayat, yang hal itu diberi nama dengan ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah oleh kesepakatan ulama. Abul Qasim Al-Nisaburiy dalam bukunya “Dirosat fi ‘Ulum al-Qur’an” pernah berkata bahwa Ilmu-ilmu Al-Qur’an yang paling mulya diantaranya adalah:

  1. Mengenai Nuzulnya
  2. Tempat dan urutannya yang turun di Makkah dan Madinah
  3. Ayat yang turun di Makkah hukumnya Madinah
  4. Ayat yang turun di Madinah hukumnya Makkah
  5. Ayat yang turun di Makkah tentang penduduk Madinah
  6. Ayat yang turun di Madinah tentang penduduk Makkah
  7. Ayat yang turun di Madinah mirip Makkah
  8. Ayat yang turun di Juhfah
  9. Ayat yang turun di Baital Maqdis

10.  Ayat yang turun di Ta’if

11.  Ayat yang turun di Hudaibiyah

12.  Ayat yang turun di malam hari

13.  Ayat yang turun di siang hari

14.  Ayat yang turun di saksikan sejumlah malaikat

15.  Ayat yang turun tanpa di saksikan sejumlah malaikat

16.  Ayat-ayat Madaniyah di Surat-Surat Makkiyah

17.  Ayat-ayat Makkiyah di Surat-Surat Madaniyah

18.  Ayat-ayat yang di bawa dari Makkah ke Madinah

19.  Ayat-ayat yang di bawa dari Madinah ke Makkah

20.  Ayat-ayat yang di bawa dari Madinah ke Habsyah

21.  Ayat-ayat yang nturun secara Global

22.  Ayat-ayat yang turun berikut tafsirnya

23.  Ayat-ayat yang status katagorinya diperselisihkan, sebagian mengatakan Madaniyah sebagian mengatakan Makkiyah. (Kamaluddin Marzuki, 1994: 46)

Dari 23 permasalahan di atas membuat pembaca kebingungan dan melelahkan, namun semua itu sangat penting dipahami dan dikuasai bagi yang ingin mengenal Kalamullah lebih mendalam. Pada permasalahan di atas para pakar Al-Qur’an dan ulama mufassirin menyebutkan dengan istilah ilmu-ilmu Makkiyah dan Madaniyah, akan tetapi pembahas menelaah dari perkataan Abul Qasim begitu membingungkan serta atas dasar alasan menghormati dan menghargai dari berbagai pendapat para ulama yang berbeda memahami pembagian Makkiyah dan Madaniyah, maka pembahas mencoba menarik benang merah dan menawarkan bahwa :

Ayat-ayat yang bermasalah  saling tarik menarik antara Makkiyah dan Madaniyah, pembahas memberikan istilah dengan ayat-ayat Bainal Makki wal Madani (antara ayat Makkiyah dan Madaniyah) dan di harapkan oleh pembahas agar pembaca lebih cepat memahami pengertian-pengertiannya, perbedaandan ciri-cirinya serta cara mengetahuinya, termasuk beberapa Surat Makkiyah dan Madaniyah yang diperselisihkan.

  1. II. PEMBAHASAN
  2. A. Pendekatan pada Pemahaman Surat Makkiyah dan Madaniyah

Para ulama mencoba menganalisa pemahaman Makkiyah dan Madaniyah bersandar pada utama yaitu :

  1. Sima’ie Naqli (pendengaran seperti apa adanya)

Cara Sima’ie Naqli yaitu didasarkan pada riwayat shahih dari para sahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan turunnya wahyu.

  1. Qiyasi Ijtihadi (kias hasil ijtihad) (Mudzakkir AS, 2006: 82)

Cara Qiyasi Ijtihadi yaitu didasarkan pada ciri-ciri Makki dan Madani yaitu jika dalam Surat Makki terdapat suatu ayat yang mengandung ayat Madani atau mengandung peristiwa Madani maka dikatakan Madani. (Mudzakkir AS, 2006: 83)

  1. B. Perbedaan Makki dan Madani
    1. Ditinjau dari segi kaitannya dengan waktu turunnya.

Makki adalah yang diturunkan sebelum hijrah meskipun bukan di Makkah.

Madani adalah yang turun setelah hijrah walaupun turunnya di Makkah (Ismail Moh. Bakir, 1991: 01) sebagaimana yang terdapat pada Surat An-Nisa’ ayat 58:

* ¨bÎ) ©!$# öNä.ããBù’tƒ br& (#r–Šxsè? ÏM»uZ»tBF{$# #’n<Î) $ygÎ=÷dr& #sŒÎ)ur OçFôJs3ym tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# br& (#qßJä3øtrB ÉAô‰yèø9$$Î/ …

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya… (QS. An-Nisa’: 58) (Depag, 1989: 128)

  1. Ditinjau dari segi tempat turunnya.

Makki adalah yang turun di Makkah dan sekitarnya seperti di Mina, Arafah dan Hudaibiyah.

Madani adalah ayat yang turun di Madinah dan sekitarnya seperti di Uhud, Quba’ dan Sil (Ismail Moh. Bakir, 1991: 01)

  1. Ditinjau dari segi sasaran pembicara

Makki adalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Makkah.

Madani adalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Madinah.

Berdasarkan pendapat ini para pendukungnya menyatakan bahwa ayat Qur’an yang mengandung seruan Yaa ‘ayyuhan nas adalah Makki sedangkan ayat yang mengandung seruan Yaa ‘ayyuhal ladzina ‘amanu adalah Madani  (Ismail Moh. Bakir, 1991: 02)

Namun melalui pengamatan yang cermat tidak semua Surat Qur’an berdasarkan seruan tadi misalkan ayat yang di Surat al-Baqarah memakai kalimat Yaa ‘ayyuhan nas sedangkan Surat al-Baqarah disepakati sebagai Surat Madani seperti al-Baqarah ayat 21.

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Y9$# (#r߉ç6ôã$# ãNä3­/u‘ “Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs?

Wahai manusia beribadahlah kepada tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 21). (Depag, 1989: 11)

Atau di Surat al-Hajj, Makki akan tetapi di dalamnya ada lafadz  Yaa ‘ayyuhal ladzina ‘amanu seperti pada al-Hajj ayat 77

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qãèŸ2ö‘$# (#r߉àfó™$#ur (#r߉ç6ôã$#ur öNä3­/u‘ (#qè=yèøù$#ur uŽöy‚ø9$# öNà6¯=yès9 šcqßsÎ=øÿè? )ÇÐÐÈ

Wahai orang-orang yang yang beriman berrukuklah kalian, dan bersujudlah, dan menyembahlah kepada Tuhanmu dan berbuat baiklah agar kalian termasuk orang-orang yang beruntung. (QS. al-Hajj: 77) (Depag, 1989: 523)

  1. C. Ciri-Ciri Khusus untuk Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah
    1. Ciri-ciri Surat Makkiyah
      1. Setiap Surat  yang mengandung “KALLA
      2. Setiap Surat yang mengandung “SAJADAH
      3. Setiap Surat yang terdapat Yaa ‘ayyuhan nas kecuali pada Surat Al-Hajj ayat 77.
      4. Setiap Surat yang mengandung kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu kecuali Al-Baqarah
      5. Setiap Surat yang terdapat kisah Adam dan Iblis kecuali Al-Baqarah
      6. Setiap Surat yang di buka dengan huruf singkatan seperti Nun, Alif la m mim, kecuali Surat al-Baqarah dan Ali Imran sedangkan Surat Ar-Ra’du masih diperselisihkan.

Sedangkan ditinjau dari ciri-ciri temanya Makkiyah mempunyai kriteria:

  1. Peletakan dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlaq mulia yang menjadi dasar utama terbentuknya suatu masyarakat penyingkapan dosa orang musyrik seperti perempuan yang di kubur hidup-hidup
  2. Mengisahkan para Nabi dan umatnya sebagai pandangan bagi mereka untuk mengetahui para pendusta sebelumnya serta sebagai hiburan buat Nabi untuk lebih tabah menghadapi gangguan
  3. Ajakan tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian sebagai risalah kebangkitan dari hari pembalasan dan argumentasi terhadap orang-orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti nasional dengan ayat kauniyah
  4. Suku kata yang pendek-pendek disertai dengan kata yang mengesankan dan pernyataan yang singkat (Moh. Abdul Adzim, 2002: 204)
  5. Ciri-ciri Surat Madaniyah
    1. Setiap Surat berisi kewajiban atau Had dan Fara’id
    2. Setiap surat yang di dalamnya disebutkan orang-orang munafik keculi surat Al-Ankabut
    3. Setiap surat yang di dalamnya terdapat dialog dengan ahli kitab
    4. Setiap surat yang ayatnya panjang-panjang dan ada ungkapan Yaa ‘ayyuhal ladzina ‘amanu (Moh. Abdul Adzim, 2002: 205)

Sedangkan  ditinjau dari ciri khas temanya, Madaniyah punya kreteria

  1. Menjelaskan ibadah muamalah, had, kekeluargaan, warisan jihad, hubungan sosial, hubungan internasional, baik di waktu damai maupun perang, kaidah hukum dan masalah perundang undangan
  2. Seruan terhadap ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani serta ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang. (Moh. Abdul Adzim, 2002: 205)
  1. D. Pembagian Surat-Surat Makkiyah, Madaniyah Serta di Antara Makkiyah dan Madaniyah
    1. Berikut susunan surat-surat Makkiyah berdasarkan kronologi turunnya adalah sebagai berikut (M. Qurais Shihab, 1999: 71)
No. Urut No. Surat Nama Surat
1. 96 Al-Alaq
2. 68 Al-Qalam
3. 73 Al-Muzzammil
4. 74 Al-Muddatsir
5. 1 Al-Fatihah
6. 111 Al-Masad
7. 81 Al-Takwir
8. 87 Al-’Ala
9 92 Al-lail
10. 89 Al-Fajr
11. 93 Al-Duha
12. 94 Al-Insyiroh
13. 103 Al-Ashr
14. 100 Al-Adiyat
15. 108 Al-Kawtsar
16. 102 Al-Takasur
17. 107 Al-Maun
18. 109 Al-Kafirun
19. 105 Al-Fil
20. 113 Al-Falaq
21. 114 Al-Nas
22. 112 Al-Ikhlas
23. 53 An-Najm
24. 80 ’Abasa
25. 97 Al-Qadar
26. 91 Al-Syams
27. 85 Al-Buruj
28. 95 Al-Tin
29. 106 Al-Quraisy
30. 101 Al-Baqarah
31. 75 Al-Qiyamah
32. 104 Al-Humazah
33. 77 Al-Mursalat
34. 50 Qaf
35. 90 Al-Balad
36. 86 Al-Thariq
37. 54 Al-Qamar
38. 38 Shad
39. 7 Al-A’raf
40 72 Al-Jin
41. 36 Yasin
42. 25 Al-Furqan
43. 35 Al-Fathir
44. 19 Maryam
45 20 Thaha
46 56 Al-Waqi’ah
47 26 As-Syuara’
48 27 Al-Namal
49 28 Al-Qashas
50 17 Al-Isra’
51 10 Yunus
52 11 Hud
53 12 Yusuf
54 15 Al-Hijr
55 6 Al-An’am
56 37 Al-Shaffat
57 31 Luqman
58 34 Sabak
59 39 Al-Zumar
60 40 Ghafir
61 41 Fushshilat
62 42 Al-Syura
63 43 Al-Zukhrof
64 44 Al-Dukhan
65 45 Al-Jatsiah
66 46 Al-Ahqaf
67 51 Al-Dzariyat
68 88 Al-Ghasyiyah
69 18 Al-Kahfi
70 16 Al-Nahl
71 71 Nuh
72 14 Ibrahim
73 21 Al-Anbiya’
74 23 Al-Mu’minun
75 32 Al-Sajadah
76 52 Al-Thur
77 67 Al-Mulk
78 69 Al-Haqqah
79 70 Al-Ma’arij
80 78 Al-Naba’
81 79 Al-Naziyat
82 82 Al-Infithar
83 84 Al-Insyiqaq
84 30 Al-Rum
85 29 Al-Ankabut
86 83 Al-Muthaffifin
  1. Berikut susunan surat-surat Madaniyah berdasarkan kronologi turunnya adalah sebagai berikut (Qurais Shihab, 1999: 72)
No. Urut No. Surat Nama Surat
1. 2 Al-Baqarah
2. 8 Al-Anfal
3. 73 Al-Imran
4. 33 Al-Ahzab
5. 60 Al-Mumtahanah
6. 4 Al-nisa’
7. 57 Al-Hadid
8. 47 Al-Qital
9 65 Al-thalaq
10. 59 Al-Hasyr
11. 24 Al-Nur
12. 22 Al-Hajj
13. 63 Al-Munafiqun
14. 58 Al-Nujadilah
15. 49 Al-Hujurat
16. 66 Al-Tahrim
17. 64 Al-Taghabun
18. 61 Al-Shaf
19. 62 Al-Jumuah
20. 48 Al-Fath
21. 5 Al-Maidah
22. 9 Al-Tawbah
23. 110 Al-Nashr
  1. Berikut susunan surat-surat di antara Makkiyah dan Madaniyah berdasarkan beberapa Surat dan ayat yang diperselisihkan oleh para Ulama.

Menurut Quraish shihab dalam bukunya Sejarah dan Ulumul Qur’an, Surat Makkiyah tidak berarti seluruh ayat yang terdapat dalam Surat tersebut diturunkan di Makkah sebelum hijrah; sebaliknya. Penamaan itu hanyalah karena surat tersebut memuat mayoritas ayat Makkiyah atau Madaniyah” (Qurais Shihab, 1999: 72), juga atas dasar dari pendapat Abul Qasim yang begitu membingungkan pembaca serta atas dasar alasan menghormati dan menghargai dari berbagai pendapat para ulama yang berbeda memahami pembagian Makkiyah dan Madaniyah. adalah sebagai berikut :

No. Urut Nama Surat/Ayat Keterangan
1. Al-Fatihah Diperselisihkan para Ulama’
2. Al-Ra’d Diperselisihkan para Ulama’
3. Al-Rahman Diperselisihkan para Ulama’
4. Al-Shaf Diperselisihkan para Ulama’
5. Al-Taghabun Diperselisihkan para Ulama’
6. Al-Tathfif Diperselisihkan para Ulama’
7. Al-Qadar Diperselisihkan para Ulama’
8. Al-Bayyinah Diperselisihkan para Ulama’
9 Al-Zalzalah Diperselisihkan para Ulama’
10. Al-Ikhlash Diperselisihkan para Ulama’
11. Al-Mu’awwidzatayn

(Al-Falaq dan Al-nas)

Diperselisihkan para Ulama’
12. Ayat 13 Surat Al-Hujarah Turun di Makkah hukumnya Madinah
13. Ayat 3-5 Al-Maidah Turun di Makkah hukumnya Madinah pada hari jumat ketika umat Islam Wuquf di Arafah waktu haji Wada’
14. Ayat 17 Al-Anbiyak Madinah mirip Makkah, turun berhubungan dengan kedatangan kaum Nasrani Najran

Hal di atas kami kutip dari pembahasan Quraish Shihab dalam buku ”Sejarah dan Ulumul Qur’an”  beberapa surat atau ayat yang bermasalah dalam kesimpulan Antara Makki dan Madani tidak semua kami katagorikan pada ayat yang bermasalah, seperti Ayat yang di turunkan pada siang hari, malam hari, yang di saksikan sejumlah malaikat atau yang tidak disaksikan malaikat, karena bagi pembahas masih jelas waktu dan tempat diturunkannya.

  1. III. FAIDAH – FAIDAHNYA

Berpijak terhadap pengertian Makkiyah dan Madaniyah seperti telah diuraikan pada pembagian tersebut, setidaknya akan dapat menafsirkan ayat-ayat Al-Quran sesuai historis, geografis, hudud atau faraid  dan lain sebagainya, kendatipun demikian perlu diketehui bahwa tidaklah cukup untuk memahami Ulumul Quran tanpa disiplin ilmu yang lain. Disamping demikian pemahaman terhadap ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah sangat bermamfaatuntuk langkah-langkah dalam menyampaikan da’wah islamiyah untuk menghindari kekeliruan dalam menafsirkan dan memberikan informsi kepada masyarakat, seperti karakter orang-orang Mekah yangberbeda dengan orang–orang Madinah sehingga membutuhkan penyampaian dakwah yang berbeda, seperti pada surat al-An’am Ayat 33,

ô‰s% ãNn=÷ètR ¼çm¯RÎ) y7çRâ“ósu‹s9 “Ï%©!$# tbqä9qà)tƒ ( öNåk¨XÎ*sù Ÿw štRqç/Éj‹s3ム£`Å3»s9ur tûüÏHÍ>»©à9$# ÏM»tƒ$t«Î/ «!$# tbr߉ysøgs† ÇÌÌÈ

Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah,QS: al-An’am:33 (Depag, 1989: 523)

Dalam ayat tersebut Allah menghibur Nabi Muhammad s.a.w. dengan menyatakan bahwa orang-orang musyrikin yang mendustakan Nabi, pada hakekatnya adalah mendustakan Allah sendiri, karena Nabi itu diutus untuk menyampaikan ayat-ayat Allah.

Demikian pula surat Al-Hijr,ayat 14-15:

öqs9ur $oYóstFsù NÍköŽn=tã $\/$t/ z`ÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# (#q=sàsù ÏmŠÏù tbqã_ã÷ètƒ ÇÊÍÈ   (#þqä9$s)s9 $yJ¯RÎ) ôNtÅj3ߙ $tR㍻|Áö/r& ö@t/ ß`øtwU ×Pöqs% tbrâ‘qßsó¡¨B ÇÊÎÈ

14. dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya,

15. tentulah mereka berkata: “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan Kami adalah orang orang yang kena sihir”. QS, Al-Hijr,: 14-15 (Depag, 1989: 523)

Di samping itu juga terdapat ayat-ayat yang menunjukkan keberpihakan sebelah, kepada orang musyrikin terkadang mencaci, mencela dan bernada keras dengan menunjukkan ketololan mereka serta menghibur nabi dan orang-orang Muslim dalam menghadapi berbagai tantangan dari mereka.

Disamping itu pula terdapat terdapat ayat-ayat yang menganjurkan untuk bersikap toleran dan suka member maaf kepada mereka.

Lain halnya pada situasi setelah Rosulullah Hijrah ke kota Madinah, masyarakat Kota Madinah terdapat tiga golongan Manusia yaitu:

Pertama : Golongan Yahudi

Terhadap golongan ini, Al-Quran membantah, mengureksi serta mengajak   mereka, agar kembali pada kalimat yang bersamaan antara mereka dengan umat Islam, yaitu hanya bertuhan kan Allah sebagai sesembahan Umat hingga ahir Zaman

Kedua : Golongan Munafik

Terhadap Golongan ini, Al-Quran membuka kedok kejahatan-kejahatan dan rahasia-rahasianya.

Ketiga : Golongan Muslim, yang terdiri dari Muhajirin dan Ansor

Terhadap golongan Islam ini, al-Quran di samping agar umat islam terus tetap menempuh jalan yang yang diridhai  oleh Allah juga al-Quran secara bertahap memberikan aturan-aturan hukum yang kehidupan manusia secara perorangan maupun kemasyarakatan  (kenegaraan), dalam bidang politik, perekonomian, budaya dan lain sebagainya. (Zuhdi Masjfuk,H,1997: 73)

Dari sekian macam beraneka ragam multi Aqidah yang dihadapi Rosulullah di kota Madinah belum lagi kondisi orang Musyrik yang di Mekah tentunya harus melalui penanganan-penanganan yang berbeda dan semua itu terselesaikan dengan ayat-ayat yang turun di Mekah dan di Madinah serta yang turun diantara Mekah dan Madinah, sehingga Islam betul-betul bias menitralisir segala permasalahan Umat, bahkan tidak hanya itu, dengan al-Alquran kita bisa sampai sekarang sudah bisa menjawab tantangan Zaman.

  1. IV. PENUTUP dan KESIMPULAN

Dari Analisa pembahas atas kongklusi Ilmu-ilmu Makki dan Madani maka pembahas membagi pada tiga pokok Klasifikasi.

  1. Makkiyah adalah :

Ayat Qur’an yang turun sebelum hijrah walaupun turun disekitar Madinah, ayat Qur’an yang turun di Makkah walupun turunnya setelah hijrah, ayat Qur’an yang turun khitabnya di tujukan kepada penduduk Makkah

  1. Madaniyah adalah :

Ayat Qur’an yang turun sesudah hijrah walaupun turun di sekitar Makkah, ayat Qur’an yang turun di Madinah, ayat Qur’an yang khitobnya ditujukan di kepada penduduk Madinah

  1. Diantara Makkiyah dan Madaniyah (Baina Al-Makki Wa Al-Madani)

Ayat Qur’an yang dipermasalahkan penempatannya oleh para ulama’ karena saling tarik menarik seperti surat Al-Hajj ayat 77,

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qãèŸ2ö‘$# (#r߉àfó™$#ur (#r߉ç6ôã$#ur öNä3­/u‘ (#qè=yèøù$#ur uŽöy‚ø9$# öNà6¯=yès9 šcqßsÎ=øÿè? ) ÇÐÐÈ

Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. QS. Al-Hajj : 77, (Depag, 1989: 523)

Dan pada surat Al-Baqarah ayat 21.

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Y9$# (#r߉ç6ôã$# ãNä3­/u‘ “Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇËÊÈ

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, QS, al-Baqarah: 21(Depag, 1989: 523)

Bahkan masih banyak ayat yang bermasalah berbeda penafsiran dalam menempatkan antara makkiyah dan Madaniyah Seperti surah al-A’rad namun bagaimanapun tujuan dalam mengklasifikasi ayat tersebut masih tidak keluar pada eksistensinya, untuk memberikan pemahaman yang lebih mudah  atas Al-Quran sebagai kitab yang terahir diturunkan pada nabi ahir zaman.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abdul Adzim-Azzarqany, Syekh Muhammmad, 2002, Manahil a-Urfah Fi’ulum al-Qur’an, Jakarta: Gaya Media Pratama.

Anwar, Rosihan, 2001, Samudra Al-Qur’an, Bandung: Pustaka Setia .

Azwar, Bahar, 2005, Manfaat Puasa menurut ilmu Kesehatan, Jakarta : PT Agro Media Pustaka

Departemen Agama, 2000, Al-Qur’an Terjemah, Semarang: CV. Al-Waah.

Ismail, Moh. Baqir,  1991, Dirasah fi Ulumil Qur’an, Kairo: Darul Manar.

Khalil Al-Qatan Manna’, 1973, Mabahis fi Ulumil Qur’an, Masyurat Al-Asra’i Hadis, Terj. Mudzakkir, 2001, Bogor: Pustaka Letera Antar Nusa.

Marzuki, Kamaluddin, 1994, Ulumul Qur’an, Bandung: PT. Remaja Rosida Karya.

Shihab, M Quraish, dkk., 1999, Sejarah dan Ulumul Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus.

Zuhdi Masjfuk, H, Prof. Drs, 1997, Pengantar Ulumul Qur’an, Surabaya: Karya Abditama.

About these ads