ETIKA ISLAM

etika islam tradisionalis ibnu abi ad-dunya

oleh : budi santosa

BAB I

PENDHULUAN

Latar Belakang

Istilah etika[1] sebetulnya tidak terlalu akrab dengan islam sebagai sebuah agama dan ajaran, islam lebih familer dengan istilah akhlak,[2] tetapi kalau dilacak dari pengertian harfiahnya kedua istilah tersebut mempunyai arti dan makna yang mirip dan bahkan sama persis, hanya saja menurut penerawangan penulis kedua istilah tersebut berbeda dari segi sumbernya saja, istilah etika terlahir  dari “rahim” fikiran yunani sedangkan akhlak adalah bahasa al-qur’an. Salah satu yang menarik dalam kajian makalah ini adalah bagaimana mengupas etika dalam konteks keislaman yang berbau tradisional, penulis mengistilahkan “masih perawan” dari pemikiran yunani tentang etika sebagai cabang filsafat, dan salah seorang tokoh islam yang rajin mengmpulkan dalil-dalil hadits dan nasehat-nasehat para sahabat tentang etika adalah Ibnu Abi Ad-Dunya, yang akan kita bahas dalam makalah ini.

Penulis sedikit melakukan “small research” (baca: penelitian kecil) atau studi literature, untuk melacak historis baground etika islam tradisionalis Ibnu Abi Ad-Dunya, sebab belum ada literature yang penulis temukan yang membicarakan khusus tentang sejarah hidup dan pemikiran Ibnu Abi Ad-Dunya, dan ternyata setelah mengadakan penyelidikan literature beliau bukan seorang “filosof etika” yang mengikuti pergumulan tentang konsep etika secara filosofis. Ibnu Abi Ad-Dunya adalah pakar hadits yang mengumpulkan dalil-dalil naqli tentang norma-norma etika, yang ia bukukan dalam karyanya dalam kitab Makarimal Akhlak. Atas dasar itulah, dalam makalah ini penulis menggunakan dua pendekatan, yaitu “pendekatan historisitas” dan “pendekatan normativitas”, sehingga makalah ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, pada bab I mengupas tentang etika islam tradisionalis Ibnu Abi Ad-dunya ditinjau dari sisi historis, hal ini penulis maksudkan untuk memberikan pemahaman bahwa sesungguhnya term etika islam tradisional adalah norma-norma etika yang belum dan tidak bersentuhan dengan wilayah etika rasional, etika islam tradisional benar-benar berupa sekumpulan norma-norma naqliyah yang bersumber dari al-quran dan hadits yang bersih dari jamahan “tangan-tangan” filsafat etika mazhab yunani. Sebagaimana pernyataan Komarudin Hidayat dalam sebuah blog di internet, ia mengatakan bahwa :

“Sebagai cabang dari filsafat etika dibagi menjadi dua aliran, yaitu  subyektifisme dan obyektivisme, aliran subyektivisme berpandangan  bahwa  suatu tindakan  disebut  baik  manakala sejalan dengan kehendak atau pertimbangan subyek tertentu. Subyek disini bisa  saja  berupa subyektifisme  kolektif,  yaitu  masyarakat,  atau  bisa   saja subyek Tuhan. Faham subyektifisme etika  ini  terbagi  kedalam beberapa  aliran,  sejak dari etika hedonismenya Thomas Hobbes sampai ke faham tradisionalismenya Asy’ariyah. Menurut  faham  Asy’ariyah,  nilai  kebaikan  suatu    tindakan bukannya  terletak  pada obyektivitas nilainya, melainkan pada ketaatannya pada kehendak Tuhan. Asy’ariyah berpandangan bahwa manusia itu  bagaikan  ‘anak  kecil’  yang  harus   senantiasa dibimbing oleh wahyu karena tanpa wahyu  manusia  tidak  mampu memahami mana yang baik dan mana yang buruk”[3]

Untuk sampai kepada pembahasan etika islam tradisionalist Ibnu Abi Ad-Dunya maka penulis akan melacaknya dari kajian sejarah munculnya aliran etika tradisionalisme yang dimotori oleh Asy’ariah dan salah seorang tokoh ahli hadits yang “mungkin” mengikutinya adalah Ibnu Abi Ad-Dunya yang selanjutnya membuat sebuah karya tertulis dalam kitabnya makarimal akhlak pada zaman dinasti Abbasyiah. Walaupun oleh kalangan sejarawan islam sangat jarang membahas tentang tokoh ahli hadits ini (Abi Ad-Dunya) hal ini disebabkan karena beliau tidak banyak bahkan tidak sama sekali “ikut berjamaah” mengikuti pergumulan pemikiran tentang konsep, seluk beluk etika atau etika dalam konteks kefilsafatan sebagaimana tokoh-tokoh filosof islam lainnya.

Pada bagian kedua, atau bagian akhir dari makalah ini, penulis mencoba mengupas etika islam tradisionalis Ibnu Abi Ad-Dunya dengan pendekatan normative, pada bagian kedua dari makalah ini, penulis akan memaparkan nilai-nilai norma etika islam tradisional yang diambil dari kitab makarimal akhlak karya Ibnu Abi Ad-Dunya. Dalam karyanya ini tidak sedikitpun adanya pembahasan panjang lebar secara filosofis mengenai konsep etika tetapi dari kitab karya ibnu abi ad-dunya ini kita akan banyak memperoleh pentingnya nilai-nilai etis.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Etika Islam Tradisionalis Ibnu Abi Ad-Dunya Sebuah Kajian Historis

  1. 1. Etika Islam Tradisionalis

Sebelum kita berbicara tentang term etika islam tradisionalis,marilah kita sejenak menyimak pernyataan Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya “Islam Religion, History and Civilization”, ia menjelaskan bahwa

“the whole life of muslims is permeated by ethical consideration, as islam does not accept the legitimacy of any domain wether social, political, or economic, falling outside of ethical consideration. The principles of all Islamic ethics are to be found in the Qu’an and Hadith, which exhort muslims to perform what is good and to refrain from what is evil”.[4]

Dari pernyataan Seyyed Hossein Nasr di atas, menekankan bahwa ummat islam dalam menjalani kehidupannya mempertimbangkan norma etika mempunyai suatu prinsip bahwa, yang menjadi sumber rujukan adalah Al-Quran dan Hadits, untuk melakukan dan mengukur yang baik dan menahan diri dari larangan. Jadi pada dasarnya term “Islamic ethics” (etika islam) adalah norma-norma etika yang berasal atau bersumber dari al-quran dan hadits sebagai rujukan utama ummat islam.

Senada dengan konsep etika islam Seyyed Hossein Nasr di atas, Abdullathif Muhammad Abdu seorang Doktor dan Dosen pada fakultas Darul Ulum Universitas Kairo, mengemukakan konsepnya tentang akhlak fil islam, berikut penulis kutip dari kitabnya “Al-Akhlak Fil Islam”

اما الاخلاق كعلم  له أصوله وقواعده وأمثلته, فقد عرف بما يلي :

“هو علم يبحث فى الاحكام العملية التى تعرف بها الفضائل لتقتنى, و الرذائل لتجتنب, بهدف بزكية النفس”

وإذا أضفنا إلى هذا التعريف عبارة “على أساس من الوحي الإلهي” لا ستطعنا أن نعرف علم الاخلاق الإسلامي على النحو التعالى :

“هو علم يبحث فى الأحكام, أو المبادئ التى تعرف بها الفضائل لتقتنى, والرذائل لتجتنب, بهدف تزكية النفس, على أساس من الوحي الإلهي”[5]

“adapun akhlak dalam konteks ilmu memiliki dasar-dasar, kaidah-kaidah dan contoh-contoh. Akhlak telah didefinisikan sebagai berikut. Ahklak adalah ilmu yang membahas hokum-hukum perbuatan yang dengan itu semua dapat diketahui perbuatan-perbuatan yang utama/mulia untuk diikuti, dan perbuatan-perbuatan yang buruk untuk dijauhi dengan tujuan untuk membersihkan diri/hati. Jika kita tambahkan pada definisi tersebut dengan kata-kata “berdasarkan wahyu ilahi (islam)” maka kita dapat mendefinisikan akhlak (etika) islam sebagaimana berikut: ilmu Akhlak islam adalah ilmu yang membahas hokum-hukum, dasar-dasar untuk mengetahui perbuatan yang mulia untuk diikuti dan perbuatan yang buruk untuk dijauhi dengan tujuan untuk membersihkan hati/diri berdasarkan wahyu ilahi (Al-Qur’an)”.

Dari kedua pendapat tersebut menurut hemat penulis memiliki kesamaan dalam memaknai konsep etika islam, bahwa yang dimaksud dengan etika islam (Islamic ethics) secara sederhana adalah kaidah-kaidah atau atau norma-norma etika yang mnejadikan Al-Qur’an dan hadits Nabi sebagai sumber, rujukan dan untuk mengukur mana perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk. Akan tetapi, menurut hemat penulis ketika kita berbicara tentang term “etika islam tradisionalist” maka ceritanya akan panjang dan persoalan-persoalan yang akan muncul tidak sesederhana pada term “etika islam”. Apalagi term “etika islam tradisionalis” ditambahkan dengan seorang “tokoh etika” muslim yaitu Ibnu Abi Ad-Dunya, maka tidak akan terlepas dari pergumulan pemikiran tentang etika islam tradisionalis dengan kajian historis.

Untuk itu Sebelum lebih jauh membicarakan nilai-nilai pokok tentang norma-norma etika islam tradisionalis Ibnu abi Ad-dunya, ada baiknya penulis akan mengajak pembaca untuk melakukan rihlah pemikiran (baca : perjalanan pemikiran) seputar etika islam tradisional dari sisi historisitas, sebab antara sisi normativitas dan historisitas dalam konteks filsafat etika tidak bisa dipisahkan, meminjam istilah Amin Abdullah “filsafat etika pertautan antara normativitas dan historisitas”.

Etika sebagai sebuah istilah harfiah dalam islam sebetulnya tidak akan pernah di temukan, tetapi ketika kita berbicara tentang etika sebagai sebuah makna dan substansi maka akan identik dengn kata-kata akhlak. Lebih jauh lagi etika sebagai sebuah cabang dari filsafat otentik yunani, sebenarnya menurut penerawangan penulis tidak lahir dari “rahim” pemikiran islam, Berkaitan dengan hal ini berikut penulis akan mengutip pernyataan Ahmad Mahmud Shubhi dalam bukunya “Filsafat Etika Tanggapan Kaum Rasionalis dan Intuisionalis Islam” ia menjelaskan

“filsafat etika  nyaris menjadi sebuah wilayah yang tidak dijamah para pengkaji dan penulis sejarah peradaban islam, baik klasik maupun modern. Ibnu Khaldun misalnya, dalam pasal enam mukaddimahnya yang membahas tentang cabang ilmu pengajaran, metode, dan seluruh dimensinya, secara panjang lebar menjelaskan tentang etika. Demikian juga, yang dilakukan Ibn Shd’al-Andalusi”.[6]

Lebih tegas lagi Shubuhi menjelaskan

“boleh dibilang, para penulis sejarah dan intelektual modern sepakat bahwa tidak ada mazhab etika dalam pemikiran islam. Alasannya, ummat islam memiliki sumber yang cukup dalam al-Quran dan hadits. Karenanya mereka tidak merasa perlu dengan pembahasan filosofis tentang persoalan etika. Al-quran dan Hadits sendiri menghindari pembahasan filosofis terhadap etika, apalagi menciptakan mazhab-mazhab etika dengan segala system berfikirnya. Pembahasan etika dalam islam, baru mendapat tempat ketika islam bersentuhan dengan peradaban Yunani…”.[7]

Namun diakhir penjelasannya Shubhi menyimpulkan bahwa etika islam telah mempunyai warna tersendiri, artinya pengkajian persoalan etika dapat dikaji dari kerangka rasionalitas Islam, dan bukan dari warisan filsafat Yunani yang kerap kali tidak merefleksikan semangat islam dengan baik.[8]

Senada dengan hal di atas pernyataan Amin abdullah dalam sebuah artikelnya tentang “Problematika Filsafat Islam Modern: Pertautan Antara Normativitas dan Historisitas” yang terangkum dalam buku “Spiritualitas al-Qur’an dalam Membangun Kearifan Ummat” ia menjelaskan bahwa

“pemikiran keagamaan, khususnya keberagamaan islam dan keberagamaan pada umumnya, seringkali melupakan factor historisitas kekhalifahan yang melekat pada bangunan pemikiran keagamaan tersebut, terlebih lagi dalam wilayah etika. Apa yang disebut etika, biasanya hanya merujuk pada etika normative yang dipahami sebagai “absolute” . sedang norma-norma sebenarnya tidak hanya diambil dari kitab suci tetapi orang-orang terdahulu baik dengan menggunakan “salaf” tradisi nenek moyang, maupun tradisi keluarga klan dan suku. Pemikiran suni seringkali menggunakan pemikiran filosofis tentang etika dalam pemikiran islam. Hal demikian tidak saja terjadi dalam kalangan atau golongan penyangga tradisi, bahkan dari kalangan filosofis pun ada pula kecendrungan demikian”.[9]

uraian diatas penulis suguhkan hanya untuk mencoba menegaskan bahwa term etika secara teoritis-filosofis sebetulnya tidak berasal dari alam pemikiran islam, etika islam lahir dari “perkawinan” kerangka rasionalitas dan normativitas islam dengan teori otentik filsafat etika Yunani yang bersifat rasionalistis-empiris yang kebetulan terlebih dahulu muncul. Dengan demikian, Sekiranya Uraian di atas dan pada pendahuluan makalah ini juga sedikit dikupas tentang hal yang sama. Sampai disini barangkali sudah cukup memberikan gambaran bahwa yang dimaksud dengan etika islam tradisionalis adalah kajian dan norma-norma etika (bersumber dari dalil-dalil naqli) yang belum “bersenggolan” dengan pemikiran-pemikiran “etika mazhab Yunani” yang bersifat rasional. Lebih tegas lagi, penulis ingin mengajak menyepakati “untuk sementara” bahwa etika islam tradisionalis adalah “sekumpulan norma-norma etik yang bersumber dari Al-Quan dan Al-Hadits yang belum dan tidak tercampur dengan pemikiran-pemikiran etika mazhab Yunani”.

Perbincangan di atas sengaja penulis uraikan untuk mendudukkan posisi istilah “etika islam tradisionalis” sesuai dengan posisi yang semestinya dan tidak tercampur aduknya dengan wilayah-wilayah pembicaraan yang akan membuat kerancuan pemahaman. Sekarang marilah sejenak kita melirik ke sejarah kemunculan aliran etika islam tradisionalis, sampai kepada salah seorang tokohnya Ibnu Abi Ad-dunya. Sebagaimana dijelaskan pada bab I bagian pendahuluan, bahwa aliran etika islam tradisionalis yang dimotori oleh Abul Hasan Al-Asya’ary, ia berpandangan bahwa nilai  kebaikan  suatu    tindakan bukanlah  terletak  pada obyektivitas nilainya, melainkan pada ketaatannya pada kehendak Tuhan. Asy’ariyah berpandangan bahwa manusia  itu  bagaikan  “anak  kecil”  yang  harus   senantiasa dibimbing oleh wahyu karena tanpa wahyu  manusia  tidak  mampu memahami mana yang baik dan mana yang buruk. Pandangan As’ary ini kemunginan selanjutnya yang mempengaruhi Ibnu Abi ad-Dunya.

  1. 2. Biografi Singkat Ibnu Abi Ad-Dunya

Tidak banyak ahli sejarah islam yang mencatat secara lengkap kehidupan Ibnu Abi Ad-Dunya, penulis mencoba melakukan “penelitian kecil” (studi literature) dan melacak berbagai literature namun sampai makalah ini selesai belum ada buku yang penulis temukan yang khusus membicarakan kehidupan beliau, tetapi dari berbagai sumber (internet) penulis dapat melacak informasi tentang Ibnu Abi Ad-Dunya walaupun secara singkat.

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ubaid Ibnu Abi Ad-Dunya, lahir di Bagdad pada tahun 201 H/823 M dan meninggal pada tahun 281 H/894 M. ia hidup pada masa kekhalifahan Abbasyiah dan mengajarkan etika kepada khalifah Al-Mutawakkil. Ibnu abi Ad-Dunya adalah salah satu ulama salaf yang mengumpulkan berbagai hadits yang terkait dengan ajaran islam mengenai moralitas, sehingga beliau menulis sebuah kitab yang bertitel Makarimal-Akhlak. Ibnu Abi Ad-Dunya dikenal sebagai pakar hadits pada zamannya, disamping sebagai pakar hadits ia juga dikenal sebagai seorang pemberi petuah ulung. Pada saaat memberikan petuahnya ia bisa membuat pendengarnya tertawa, tetapi sebaliknya juga membuat pendengarnya menangis tersedu-sedu. Intlektual kelahiran Baghdad yang satu ini, sungguh luar biasa produktivitasnya dalam menulis. Setidaknya ada sekitar 164 karya yang berhasil diselesaikan, diantaranya adalah kitab Makarimal Akhlak. Kitab Makarimal-Akhlak setebal 305 halaman yang ditulis Ibnu Abi A-Dunya memuat kurang lebih 487 petuah-petuah moral, baik yang dinukil dari Nabi maupun para sahabat, dan disertai dengan menyebutkan transmisinya (sanad). Semua petuah etis tersebut dibagi menjadi 10 bab, diantaranya adalah bab tentang akhlak atau etika yang baik, tentang malu, kejujuran, menyambung tali silaturrahmi, amanah dan dermawan. Uniknya lagi dalam kitab ini tidak ada satu pun pembahasan secara filosofis tentang etika,[10] menurut hemat penulis inilah salah satu ciri-ciri mendasar  mengapa Ibnu Abi Ad-Dunya dikelompokkan dalam aliran etika islam tradisionalis, dimana kitab yang ia tulis tidak sama sekali membicarakan konsep etika secara filosofis atau menafsirkan dalil-dalil naqli (hadits) yang terdapat dalam kitabnya dengan menggunakan penalaran atau akal (rasional) sebagaimana aliran etika islam objektiv rasional yang dikembangkan oleh kaum muktazilah.

  1. 3. Kondisi social, politik dan pemikiran  pada masa Ibnu Abi Ad-Dunya hidup

Uraian pada sub bab ini penulis maksudkan untuk mengetahui kondisi social, politik dan corak pemikiran yang berkembang pada saat Ibnu Abi Ad-dunya hidup, dengan demikian sedikit tidak kita akan mengetahui dan melacak mengapa Ibnu Abi Ad-Dunya memilih aliran etika islam tradisionalis, sebab seorang tokoh akan banyak terpengaruh oleh kondisi social politik dan corak pemikiran yang sedang berkembang pada saat ia hidup.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Ibnu Abi Ad-Dunya lahir pada tahun 201 H/823 M dan meninggal pada tahun 281 H/894 M, hal ini berarti ia hidup, dari lahir sampai meninggal pada periode awal dan periode lanjutan Bani Abbasyiah. Dalam buku “Ensiklopedi Tematis Dunia Islam seri Khilafah” dijelaskan bahwa Bani Abbasyiah dibagi dalam tiga periode yaitu periode awal, periode lanjutan dan periode akhir, Bani Abbasyiah periode awal berakhir pada 847 M pada pemerintahan khalifah Al-wasik.[11] Kalau dilihat tahun lahir Ibnu Abi Ad-Dunya yaitu tahun 823 M maka ia menghabiskan masa kecilnya sampai remaja pada masa khalifah Al-wasik.

Musrifah Sunanto dalam bukunya “Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam” menggambarkan kondisi social, politik dan corak pemikiran pada masa Bani Abbasyiah periode awal, ia menjelaskan bahwa :

  1. Dari segi politik kekuasaan sepenuhnya dipegang oleh khalifah yang mempertahankan keturunan Arab murni dibanti oleh wazir, menteri, gubernur, dan panglima beserta pegawai-pegawai yang berasal dari berbagai bangsa dan masa ini yang sedang banyak diangkat dari golongan golongan mawali keturunan Persia
  2. Kota bagdad sebagai ibu kota Negara, menjadi pusat kegiatan politik, sosisal dan kebudayaan, dijadikan kota intenasional yang terbuka untuk segala bangsa dan keyakinan sehingga terkumpullah di sana bangsa Arab, Turki, Persia, Romawi, Qibthi, Hindi, Barbari, Kurdi dan sebagainya.
  3. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai sebagai sesuatu yang sangat penting dan mulia. Para khalifah dan pembesar lainnya membuka kemungkinan seluas-luasnya untuk kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Para khalifah sendiri pada umumnya adalah ulama yang mencintai ilmu, menghormati sarjana dan memuliakan pujangga.
  4. Kebebasan berfikir diakui sepenuhnya. Pada waktu itu akal dan fikiran dibebaskan benar-benar dari belunggu taklid, kondisi yang menyebabkan orang sangat leluasa mengeluarkan pendapat dalam segala bidang aqidah, filsafat, ibadah, dan sebagainya.
  5. Para menteri turunan Persia diberi hak penuh dalam menjalankan pemerintahan sehingga mereka memegang peranan penting dalam membina tamadun islam. Mereka sangat mencintai ilmu dan mengorbankan kekayaannya untuk meningkatkan kecerdasan rakyat dan memajukan ilmu pengetahuan.[12]

Kalau kita analisa dari gambaran kondisi social, politik dan corak pemikiran pada masa awal menjelang akhir Bani Abbasyiah satu, atau menjelang berakhirnya periode awal Bani Abbasyiah, maka pada masa-masa inilah Ibnu Abi Ad-Dunya menghabiskan masa kecilnya sampai masa remaja dimana, kota Baghdad sebagai tempat kelahiran Ibnu Abi Ad-Dunya adalah kota pusat pemerintahan, pusat perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, masa Abbasyiah periode awal ini adalah masa keemasan islam. Kondisi inilah yang membentuk kepribadian Ibnu Abi Ad-Dunya, dimana ia sebagai salah seorang masyarakat penduduk Baghdad terpengaruh dengan kecintaan masyarakat dan dukungan khalifah akan ilmu pengetahuan. Jadi tidak mengherankan apabila Ibnu Abi-Adunya banyak belajar ilmu pengetahuan di kota ini, terutama ilmu-ilmu agama, seperti ilmu hadits, ilmu al-Quran dan ilmu-ilmu alat lainnya. Yang menarik adalah pada masa ini corak berfikir atau kebebasan berfikir sangat dibebaskan, artinya penggunaan akal rasio dalam pengembangan ilmu pengetahuan tidak terkecuali ilmu-ilmu agama dan ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya dikembangkan dengan sentuhan akal. Dapat disimpulkan bahwa Ibnu Abi Ad-Dunya kecil, belum terpengaruh secara corak pemikiran yang mengedepankan akal. Lebih jauh lagi penulis dapat menyimpulkan bahwa menjelang akhir Bani Abbasyiah periode awal, umur Ibnu Abi Ad-Dunya genap berusia 24 tahun, jadi pada masa ini Ibnu Abi Ad-Dunya benar-benar hanya mengalami perkembangan intelektualnya saja (masa menimba ilmu), belum mempunyai “mazhab” aliran tertentu terutama mazhab etika islam tradisionalis.

Pada masa remaja Ibnu Abi Ad_Dunya atau  menjelang ia dewasa, ada dua periode kekhalifahan yaitu khalifah Al-ma’mun (813-833 M) dan Khalifah Al-Mu’tasim (833-842 M) kedua khalifah ini banyak terpengaruh oleh filosof muslim pertama yaitu A-Kindi, dalam hal ini Musyrifah Sunanto menjelaskan

“Setelah dewasa ia (Al-Kindi) pergi ke Baghdad dan mendapat lindungan dari khalifah Al-Ma’mun (813-833 M) dan khalifah Al-mu’tasim (833-842 M). Al-Kindi menganut aliran Muktazilah  dan kemudian belajar filsafat. Zaman itu adalah zaman penerjemahan buku-buku Yunani dan Al-Kindi kelihatannya turut juga aktif dalam gerakan penerjemahan ini tetapi usahanya lebih banyak dalam memberikan kesimpulan daripada menerjemahkan karena sebagai orang yang berada, ia dapat membayar orang untuk menerjemahkan buku-buku yang diinginkannya. A-Kindi mendapat kedudukan yang tinggi dari Al-Ma’mun, Al-Mu’tasim, dan anaknya yaitu Ahmad bahkan menjadi gurunya”[13]

Sejarah mencatat bahwa aliran muktazilah yang telah terpengaruh oleh fikiran-fkiran Yunani selanjutnya mendapat tempat yang subur pada kekhalifan Al-Ma’mun (813-833 M) dan kesuburan aliran mu’tazilah berakhir pada kekhalifahan Al-mu’tasim (833-842 M), lebih tegas lagi A. Syilabi dalam bukunya “Sejarah Kebudayaan Islam 3” ia menjelaskan

“Khalifah Al-Ma’mun yang telah menjadikan muktazilah sebagai “mazhab” dalam menjalankan pemerintahannya telah campur tangan secara keras dan menggunakan kekuasaannya untuk memaksa rakyat (terutama ahlus-Sunnah dan dan ulama-ulama hadits) berpegang kepada pendapat muktazilah bahwa al-qur’an itu makhluk”[14]

Senada dengan pernyataan A. Syilabi di atas, Harun Nasutian dalam bukunya “Teologi Islam, Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan” ia menjelaskan :

“Mulai tahun 100 H atau 718 M, kaum muktazilah dengan perlahan-lahan memperoleh pengaruh dalam masyarakat islam. Pengaruh itu mencapai puncaknya di zaman khalifah-khalifah bani abbasyiah Al-Ma’mun, Al-Muktasim dan A-Wasik (813-847), apalagi setelah Al-Ma’mun di tahun 827 M mengakui aliran muktazilah sebagai mazhab resmi yang dianut Negara”[15]

Dari penjelasan di atas telah cukup jelas menggambarkan kondisi social politik dan corak perkembangan pemikiran yang berkembang pada saat itu, yang dimana Ibnu Abi Ad-Dunya menghabiskan masa remajanya. Yang cukup menarik pada masa pemerintahan khalifah Al-Ma’mun adalah bagaimana ia menjadikan mazhab muktazilah yang telah tereduksi dengan pemikiran-pemikiran Yunani sebagai mazhab wajib dalam menjalankan roda pemerintahannya, ditambah lagi dengan pertemuan Al-Kindi dengan khalifah Al-Makmun dan mempengaruhi khalifah dengan ilmu filsafat Al-Kindi yang banyak mengambil kaidah-kaidah kefilsafatan Yunani.

Pada awal perkembangannya, aliran ini tidak mendapat simpati umat Islam, khususnya dikalangan masyarakat awam kerena mereka sulit memahami ajaran-ajaran Mu’tazilah yang bersifat rasional dan filosofis itu. Alasan lain adalah kaum Mu’tazilah dinilai tidak teguh berpegang pada sunah Rasulullah SAW. dan para shahabatnya. Kelompok ini baru memperoleh dukungan yang luas, terutama dikalangan intelektual, pada masa pemerintahan khlalifah al-Ma’mun, penguasa Abbasyiah periode 198-218 H./813-833 M. kedudukan Mu’tazilah menjadi semakin kokoh setelah al- Ma’mun menyatakannya sebagai madzhab resmi negara. Hal ini desebabkan karena al-Ma’mun sejak kecil dididik dalam tradisi Yunani yang gemar akan ilmu pengetahuan dan filsafat.

Dalam fase kejayaannya itu, Mu’tazilah sebagai golongan yang mendapat dukungan penguasa memaksakan ajarannya kepada kelompok lain. Pemaksaan ajaran ini dikenal dalam sejarah dengan peristiwa Mihnah. Mihnah itu timbul sehubungan dengan paham-paham Khalqu al-Qur’an. Mu’tazilah berpendapat bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang tersusun dari suara dan huruf-huruf. Al-Qur’an itu makhuk dalam arti diciptakan Tuhan. Karena diciptakan berarti ia sesuatu yang baru, jadi tidak qadim.  Jika al Qur an itu dikatakan qadim maka akan timbul kesimpulan bahwa ada yang qadim selain Allah dan ini hukumnya musyrik. Khalifah Al-Ma’mun menginstruksikan supaya dilaksanakan pengujian—Fit and and Proper Test terhadap aparat pemerintahan tentang keyakinan mereka akan paham ini. Menurut al-Ma’mun orang yang mempunyai keyakinan bahwa al-Qur’an adalah qadim tidak dapat dipakai untuk menempati posisi penting didalam pemerintahan, terutama dalam jabatan Qadli.[16] Dalam pelaksanaannya, bukan hanya para aparat pemerintahan yang diperiksa, tetapi juga tokoh-tokoh masyarakat. Sejarah mencatat banyak tokoh dan pejabat pemeritahan yang disiksa, diantaranya adalah Imam Hambali. Bahkan ada ulama yang dibunuh karena tidak sepaham dengan aliran Mu’tazilah. Peristiwa ini sangat menggoncangkan umat Islam dan baru berakhir setelah al-Mutawakkil berkuasa pada masa 232-247 H./846-861 M. menggantikan al-Wasiq, Khalifah pada masa 228-232 H./843-846 M. Dimasa al-Mutawakkil, dominasi aliran Mu’tazilah menurun dan menjadi semakin tidak simpatik dimata masyarakat. Keadaan ini semakin buruk setelah al-Mutawakil membatalkan mazhab Mu’tazilah sebagi mazhab resmi negara dan menggantinya dengan aliran Asy’ariyah. Selama berabad-abad kemudian Mu’tazilah tersisih dari panggung sejarah, tergeser oleh aliran Ahlussunnah wal Jama’ah. Diantara yang mempercepat hilangnya aliran ini adalah buku-buku mereka tidak lagi dibaca dan dipelajari di perguruan-perguruan Islam. Sebaliknya, pengetahuan tentang paham-paham mereka hanya didapati pada buku-buku lawannya, seperti buku-buku yang ditulis oleh pemuka asy’ariyah.[17]

Kalau dianalisa dari sisi sejarah, sebetulnya aliran etika obyektivitisme yang digawangi oleh kaum muktazilah dan aliran etika subyektivisme (etika islam tradisional) yang digawangai oleh asy’ariyah atau para ulama salaf berawal dari persoalan-persoalan teologi yang memazhabkan ummat islam sejak zamannya Ali Bin Abi tholib ra. Seiring perjalanan sejarah, ummat islam sampai ke bani Abbasyiah persoalan-persoalan teologi tersebut merembet ke berbagai persoalan lainnya termasuk diskursus tentang etika. Hal ini dapat kita lihat dari paham-paham muktazilah pada persoalan “adil”. Mustofa Muhammad Asy syak’Ah dalam bukunya “Islam Tidak Bermazhab”

“kaum muktazilah berpandangan bahwa, adil artinya Allah Maha adil, dan keadilanNya itu mengharuskan manusia memiliki kekuasaan untuk berbuat sesuai dengan kehendaknya sendiri. Sedangkan Allah tidaklah menciptakan perbuatannya sendiri, sehingga karena manusia itu menciptakan perbuatannya sendiri, maka manusia bertanggung jawab atas perbuatannya, baik yang berupa perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Jika manusia melakukan perbuatan baik, maka ia mendapat pahala, dan sebaliknya bila manusia melakukan perbuatan buruk, maka ia akan menerima siksa” [18]

Dari pandangan ini sudah jelas bahwa aliran muktazilah yang selanjutnya membuat aliran “etika obyektivisme”, mengukur perbuatan baik dan buruk dari kekuatan penalaran atau akal atau rasio. Dalil-dalil naqli yang terdapat pada Al-quran dan Sunnah haruslah membutuhkan akal untuk menafsirkan dalil-dalil tersebut, dan perbedaan mendasar antara mazhab etika islam tradisonal (etika subyektivisme) dengan aliran etika obyektivisme adalah intensitas penggunaan akal dalam menelaah norma-norma etika yang terdapat dalam al-qur’an dan hadits. Sekarang marilah kita bandingkan dengan aliran Asy’ariyah. Ahmad Hanafi dalam bukunya “ Pengantar Theology Islam” menjelaskan pandangan kaum Asy’ariah tentang kekuasaan Tuhan dan perbuatan manusia :

“pendapat al-asy’ari dalam soal ini (kekuasaan Tuhan dan perbuatan manusia) juga tengah-tengah antara aliran jabariah dan aliran muktazilah. Menurut aliran muktazilah, manusia itulah yang melakukan perbuatannya dengan suatu kekuasaan yang diberikan Tuhan kepadanya. Menurut aliran jabariah, manusia tidak berkuasa mengadakan/menciptakan sesuatu, tidak memperoleh (kasb) sesuatu, bahkan ia laksana bulu yang bergerak kian kemari menurut arah angin yang meniupnya. Datanglah asy’ari untuk mengatakan bahwa manusia tidak berkuasa menciptakan sesuatu, tetapi berkuasa untuk memperoleh (kasb) sesuatu perbuatan”[19]

Senada dengan hal di atas artikel yang ditulis Zuli Qodir yang terangkum dalam buku “Sejarah, Teologi dan Etika Agama-Agama” ia menjelaskan

“dalam konteks perbuatan manusia, semakin “bebas” perbuatan manusia maka semakin tinggi tingkat pertanggungjawabannya terhadap orang lain, termasuk pada Tuhan. Sementara semakin “terpaksa”, maka semakin ringan tingkat pertanggungjawabannya atas perbuatan yang dilakukannya itu. Bagi penganut Jabariyah/Asy’ariyah, manusia ibarat anak kecil, atau wayang yang harus dituntun segala perbuatannya. Dia tidak bisa berbuat dan mengetahui sendiri mana yang baik dan mana yang buruk”.[20]

Dari uraian diatas maka sudah terlihat dengan jelas letak perbedaan anatara aliran etika islam tradisionalis (etika islam subyektivisme) dengan aliran etika obyektivisme. Perbedaan yang paling mendasar adalah terletak pada intensitas penggunaan akal dalam “menafsirkan” norma-norma etika yang terdapat dalam nash al-qur’an dan al-hadits, aliran etika islam tradisionalis menempatkan akal setelah nash/teks dalam mengukur benar atau buruknya suatu perbuatan sedangkan aliran etika islam obyektif sebaliknya. Aliran etika islam yang pertama inilah yang dianut oleh Ibnu Abi Ad-Dunya. Untuk itu marilah kita sekali lagi menyelidikinya dari konteks sejarah.

Sebagaimana di sebutkan dalam pembahasan sebelumnya Ibnu Abi Ad-Dunya menghabiskan masa kecil sampai remajanya pada masa khalifah Al-makmun dan khalifah al-Wasik. Mazhab Negara yang dipakai pada waktu kedua khalifah ini memerintah adalah mazhab muktazilah yang notabene adalah aliran yang menggunakan akal fikiran sebagai yang utama, dan selanjutnya merembet pada persoalan etika “bagaimana mengukur yang baik dan yang buruk”. Pada saat kedua khalifah tersebut memerintah secara otomatis aliran etika tradisionalis tidak mendapat tempat di pemerintahan. Masa inilah Ibnu Abi Ad-Dunya menghabiskan masa kecil sampai masa remajanya. Baru sampai ke pemerintahan khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) aliran muktazilah sudah tidak terpakai lagi, dan kembali ke mazhab sebelumnya, mazhab kebanyakan masyarakat Baghdad atau aliran yang sering disebut “ahlussunnah waljama’ah”[21] yang lebih dekat dengan aliran Asy’ariyah.

Menurut asumsi sementara penulis, momentum inilah yang selanjutnya menjadi ruang beberapa tokoh muslim termasuk Ibnu Abi Ad-Dunya untuk lebih leluasa menekspresikan pemikiran mereka. Sampai kepada penulisan kitab Makarimal-Akhlak oleh Ibnu abi Ad-Dunya, bahkan menurut sebuah artikel Ibnu Abi ad-Dunya sempat mengajarkan ajaran-ajaran etika kepada anak khalifah Al-Mutawakkil.[22] Asumsi lain yang penulis yakini bahwa kecendrungan di dalam suatu pemerintahan jika menganut suatu macam ideology maka rakyatnya atau masyarakat umum akan mengikuti ideology yang pemerintah itu akui, terlepas dari suka atau tidak sukanya masyarakat terhadap ideology tersebut. Asumsi ini, penulis perkuat dengan pernyataan Ahmad Hanafi dalam bukunya “Pengantar Teologi Islam” ia menjelaskan

“sejak masa Al-Mutawakkil (232 H), pemerintah (khalifah-khalifah) telah meninggalkan aliran muktazilah. Kebanyakan orang, dimanapun juga, selalu mengikuti sikap pemerintahnya dan takut memeluk sesuatu yang tidak disukai oleh pemerintah itu. Oleh karena itu aliran muktazilah mereka tinggalkan dan mereka lebih senang menggabungkan diri kepada orang-orang atau aliran yang menentangnya”[23]

Maka kalau disimpulkan bahwa, bisa jadi para tokoh dan ulama termasuk Ibnu Abi Ad-Dunya pada masa khalifah Al-Mutawakkil menggunakan kesempatan tersebut untuk secara frontal mengekspresikan aliran dan pemahaman mereka, termasuk oleh Ibnu Abi Ad-Dunya membuat karyanya yaitu kitab Makarimal Akhlak.

Alasan lain mengapa penulisan kitab Makarimal Akhlak ditulis oleh Ibnu abi Ad-Dunya dan sempat diajarkan kepada anak khalifah al-Mutawakkil adalah bisa jadi Ibnu Abi Ad-Dunya melihat pada waktu benih-benih kemunduran dari segi moral telah mulai menggejala, anggapan ini penulis perkuat dengan pernyataan Dedi Supriyadi dalam bukunya “Sejarah Peradaban Islam” ia menjelaskan

“salah satu penyebab kemunduran bani abbasyiah diakhir periode awal dan menjelang periode lanjutan adalah hilangnya sifat amanah dalam segala perjanjian yang dibuat, sehingga kerusakan moral dan kerendahan budi menghancurkan sifat-sifat baik yang mendukung Negara selama ini. Penyebab lain adalah pola hidup bermewah-mewahan yang berlebihan yang menggejala dilingkungan pemerintahan khalifah”[24]

Demikianlah, beberapa gambaran, ulasan dan pemaparan tentang term etika islam tradisional (Islamic ethics traditional) mulai dari pertama, bagaimana mendudukkan term etika islam tradisional pada kedudukan yang tepat dan proporsional-objektif. Kedua, bagaimana term etika islam tradisional dengan pergumulannya dalam pentas sejarah islam klasik. Ketiga, bagaimana posisi seorang tokoh muslim Ibnu Abi Ad-Dunya dengan karyanya kitab Makarimal Akhlak, sebagai bentuk  manifestasi dari aliran yang dia anut yaitu etika islam tradisional.

  1. B. Etika Islam Tradisionalis Ibnu Abi Ad-Dunya Sebuah Kajian Normative

Setelah pembicaraan pada sub bab yang pertama dengan melakukan “rihlah pemikiran” (baca : perjalanan pemikiran) yang cukup “melelahkan” maka Pada sub bab yang ke dua ini penulis ingin “mendingkan kepala” dengan melakukan “rihlah spiritual” (baca : perjalanan spiritual) dengan menjelaskan tentang etika tradisionalis Ibnu Abi Ad-Dunya dengan pendekatan normative. Hal ini berarti penulis akan memaparkan norma-norma etika yang terkandung dalam kitab Makarimal Akhlak karya Ibnu Abi Ad-Dunya. Sebagaimana dijelaskan pada sub bab bagian pertama bahwa kitab Makarimal Akhlak karya Ibnu Abi A-Dunya sama sekali tidak membahas konsep etika secara filosofis.

Kitab yang disusun Ibnu abi Ad-Dunya ini menurut hemat penulis berkaitan dengan ayat Al-Qur-an :

y7¯RÎ)ur 4’n?yès9 @,è=äz 5OŠÏàtã ÇÍÈ [25]

Dan Sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al-Qalam ayat 4)

Berdasarkan ayat inilah Ibnu abi Ad-Dunya mengumpulkan Hadits-hadits yang berkaitan dengan Akhlak. Kitab ini an sich berisi kumpulan hadits Rasulullah, SAW. dan perkataan para sahabat yang mempunyai muatan etika. Kitab ini setebal 305 halaman, berisi 10 bab, pada bagian awal kitab membicarakan tentang keutamaan akhlak, selanjutnya secara sistematis diuraikan pada setiap babnya. Berikut ini penulis akan menyajikan hasil scanner dari kitab aslinya mulai dari pembahasan tentang keutamaan akhlak sampai sepuluh bab berikutnya. Penulis tidak mungkin akan mengutip semua petuah etika/moral dalam kitab ini, karena jumlahnya mencapai 487 buah yang tersebar ke dalam hadits dan perkataan sahabat. Begitu juga dengan sanad haditsnya yang begitu panjang, jadi penulis akan meringkas hadits-hadits tersebut dengan mengutip satu atau dua hadits dalam setiap babnya. Berikut ini beberapa petuah-petuah etika karya Ibnu Abi Ad-Dunya :

(BAB  KEMULIAAN-KEMULIAAN AKHLAK)

[26]

Artinya : Dari Abu Hurairah, Rasaulullah SAW, bersabda  kemuliaan seseorang terletak pada agamanya, keperwiraannya terletak pada akalnya dan kedudukannya (kualitas seseorang) terletak pada akhlaknya

[27]

Artinya : Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW. Bersabda : Tidaklah Aku mengutusmu kecuali untuk    menyempurnakan kebaikan akhlak

[28]

Artinya : Bercerita kepada kami Abu Soleh Al-Marwazi : Ahmad Bin Mansuyr Bin Rasyid Al-Hanzhali dari An-Ndhirbin Syumail, dari Al-Hirmas Bin Hubaib dari ayahnya dari kakeknya, dia mendengar Aisyah Berkata : Sesungguhnya akhlak yang mulia itu ada sepuluh : kejujuran berbicara, kebenaran bertindak dalam ketaatan kepada Allah, memberi kepada yang meminta, memberi imbalan yang setimpal dengan pekerjaan, Menyambung tali silaturrahmi, menyampaikan amanah, saling membantu kepada tetangga, saling membantu kepada kawan, menjamu tamu, dan pokok dari kesemuanya adalah malu.

[29]

Artinya : Bercerita kepada kami Abu Kuraib, dari Abdullah Bin Numair, dari Hajjaj Bin Dinar, dari Syahr Bin Hausyab, dari Amr Bin Abasah, berkata, aku berkata kepada Rasulullah, wahai Rasul apakah iman itu? Beliau menjawab iman adalah sabar dan memaafkan, aku berkata, lalu iman yang mana yang lebih utama? Beliau berkata, akhlak yang baik

(BAB TENTANG MALU DAN HADITSNYA)

[30]

Artinya : Bercerita kepadaku Sa’id Bin Sulaiman Al-Washiti dan Muhammad Bin Abi Ghalib dari Husyaim dari Mansur bin Zazan dari Hasan dari Abi Bakrah, dari Nabi SAW. Bersabda : malu sebagian dari iman, dan iman itu berada di surga, dan tidak tahu malu (muka tembok) adalah bagian dari rusak hati (keras hati), dan keras hati berada di neraka

[31]

Artinya : Bercerita kepadaku Abu Muhammad (al-Qosim Bin Hisam) dari Abu Utbah Hasan Bin Ali Bin Muslim Al-Barrad Al-Himshi (dia termasuk tokoh muslim) dari Mu’awiyah Bin Yahya dari Muhammad Bin Abdul Aziz, dari Az-Zuhri dari Anas Bin Malik, Nabi bersabda : sesungguhnya bagi setiap pemeluk agama memiliki akhlak, dan sesungguhnya akhlak islam adalah malu.

(BAB TENTANG JUJUR DAN HADIS TENTANG KEUTAMAANYA DAN TERCELANYA BOHONG )

[32]

Artinya : Berverita kepada kami Abu Husyaimah dari Jarir dan Mansur dari Abi Wai’l dari Abdullah dia berkata : Rasulullah SAW. Bersabda : sesungguhnya jujur akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Dan sesungguhnya seorang laki-laki berlaku jujur sampai ia ditulis sebagai ashiddiq (si jujur) dan bohong membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka, dan sesungguhnya seorang laki-laki berbohong sampai ia ditulis di sisi Allah sebagai si pembohong.

(BAB HADITS TENTANG SILATURRAHMI)

[33]

Artinya : Telah bercerita kepada kami dari Ali bin Ja’ad dan sebagainya, dari Sufyan Bin Uyainah dari Az-Zuhri dari Abi Salamah Bin Abdurrahman Bin Auf, dia berkata Abdurrahman Bin Auf berkata aku mendengar Rasul bersabda : sesungguhnya Allah taala maha memberi berkah dan dan maha tinggi berfirman Akulah Allah, Akulah dzat yang maha mengasihi, aku menciptakan silaturrahmi dan aku mengambilnya dari namaKU, barang siapa yang menyambung tali silaturrahim maka aku akan menyambungnya, dan barang siapa memutuskannya, maka Aku juga akan memutuskannya

(BAB AMANAH)

[34]

Artinya : Telah bercerita kepadaku Qosim bin Hasyim, Abu Muhammad Al-Bazzaz, dari Muslim Bin Ibrahim dari Hasan Bin Abi Ja’far dari Abu ja’far Al-Anshari dari Haris bin Fadhal atau Ibnul Fudhail dari Abdurrahman bin Qurod sesungguhnya Nabi bersabda : barang siapa yang senang dicintai oleh allah dan rasulnya maka hendaklah dia jujur berbicara ketika berbicara, hendaklah amanah ketika dipercaya, dan berbuat baik kepada tetangganya ketika bertetangga

(BAB HADITS TENTANG SOLIDARITAS KEPADA TEMAN)

[35]

Artinya : Telah bercerita kepada kami Ahmad Bin Jamil Bin Maruzi, dari Abdullah Bin Mubarok dari Haiwah Bin Surih, telah bercerita kepadaku Habil Bin Suraik dari Abi Abdurrahman al-Jubuli dari Abdullah Bin Umar dari Nabi SAW. bersabda : sesungguhnya sebaik-baik sahabat disisi Allah azza wajalla sebai-baik kalian kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tamu diantara kalian adalah orang yang berbuat baik kepada tamunya

(BAB TENTANG SOLIDARITAS KEPADA TETANGGA)

[36]

Artinya : Telah bercerita kepada kami Ali Bin Jaad, telah dikabarkan kepadaku Muhammad in Thalhah dari Zubaid dari Mujahid dari Aisyah  ra. Berkata, Rasullah SAW. Bersabda jibril selalu berwasiat kepadaku agar memperhatikan tetangga sampai aku mengira dia akan memberi hak waris kepada tetangga

[37]

Artinya : Telah bercerita kepada kami Ibrahim Bin Munzir Al-Hizaami, dari Sufyan Bin Hamzah Kasir Bin Zaid dari Walid Bin Rabah dari Abu Hurairah berkata Rasulullah SAW bersabda : barang siapa yang beriman kepada allah dan hari akhir maka hendaknya menghormati tetangganya

(BAB  PEMBERIAN IMBALAN YANG SESUAI)

[38]

Artinya : Telah bercerita kepadaku Mahdi Bin Hafshi dan Abu Muslim dan Ishaq dan Ishaq Bin Ismail mereka berkata, Nais Bin Yunus dari Hisyam Bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah berkata : adalah Rasulullah SAW. Menerima hadiah dan membalasnya

[39]

Artinya : Telah bercerita kepada kami Ibnu Jamil dari Abdullah dari Abu Ma’syur berkata saya telah mendengar Said bercerita dari Abu Hurairah dari Nabi bersabda : saling member hadiahlah kalian maka sesungguhnya hadiah menghilangkan kesedihan hati, jangan menghina seorang tetangga kepada tetangganya

(BAB KEDERMAWANAN)

[40]

Artinya : Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Muhammad Bin Ayub dari Ibrahim Bin Said dari Solih Bin Kisan dari Abu Syahab dari Muhammad Bin Jubair Bin Mut’im dari ayahnya berkata : orang-orang desa berkata mendesak Rasulullah mereka meminta bagian mereka dari perang hunain sehingga mereka memojokkan Rasulullah ke sebuah pohon yang besar lalu mereka mencabut selendang Rasul maka Rasul bersabda kembalikan seledangku kepadaku, demi zat yang nyawa Muhammad berada di tanganNYa demi Allah seandainya idoh ini berupa ternak pasti aku bagikan kepada kalian, dan kalian tidak akan mendapatkan aku sebagai pembohong dan tidak pula penakut dan kikir.

(BAB KEBENARAN DALAM BERTINDAK)

[41]

Artinya : Telah diceritakan kepada kami dari Ali bin Jaad al-Juhairi dari Zuhai dari Abi Ishaq dari Mudharrib dari Ali ra berkata: ketika peperangan telah berkecamuk dan suatu kaum bertemu dengan kaum lainnya, kami menjaga Rasulullah dan orang yang berada didekatnya dari kaum itu.

BAB II

PENUTUP

Kesimpulan

Pada catatan akhir dari penulisan makalah ini penulis akan mencoba mearangkum secara ringkas pokok bahasan pada keseluruhan makalah ini.

Pertama, term etika islam haruslah diposisikan pada posisi yang sebenarnya, bahwa secara sederhana etika islam merupakan produk-produk pemikiran, baik itu hal-hal yang bersifat normative maupun bersifat filosofis yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits sebagai way of live ummat muslim.

Kedua, term etika islam tradisionalis merupakan suatu isme atau aliran dalam konteks etika islam yang dalam catatan sejarah mengalami pergumulan dari masa kemasa, mulai dari kekhalifahan-kekhalifan yang ummat islam yang ada. Aliran ini mempunyai kekhasannya sebagai sebuah “mazhab etika”, bahwa lebih bersifat normative dan tidak “memakai” akal secara mutlak dalam mengukur apakah suatu perbuatan itu baik atau buruk.

Ketiga, salah seorang tokoh etika islam tradisionalis, Ibnu Abi Ad-Dunya dalam pentas sejarah tidak ikut “berjamaah” mengikuti pergumulan pemikiran etika. Tetapi Ibnu Abi Ad-Dunya dengan karyanya kitab Makarimal Akhlak telah membuktikan dirinya sebagai tokoh aliran etika islam tradisionalis, dengan ajaran-ajaran etika yang ia petik dari hadits-hadits Nabi maupun perkataan-perkataan para sahabat.

Dapat disimpulkan secara sederhana bahwa Ibnu Abi Ad-Dunya tidak mempunyai pemikiran atau konsep etika yang berbau filosofis-rasionalis. Tetapi menurut penulis Ibnu Abi ad-Dunya sesungguhnya telah mendirikan aliran etika dalam islam dengan caranya sendiri, lebih nyata dan operasional, mungkin bisa dimasukkan ke dalam etika aliran terapan. Pemikiran etika Ibnu Abi Ad-Dunya termaktub ke dalam kitabnya Makarimal Akhlak yang berupa norma-norma etika/akhlak yang diambil dari dalil-dalil naqli/normative atau dari hadits Nabi. Berikut ini adalah tema-tema pokok ajaran etika Ibnu Abi Ad-Dunya :

  1. Kemuliaan-kemuliaan akhlak adalah sangat fundamental, orang yang paling baik adalah orang yang paling baik akhlaknya.
  2. Sifat malu adalah salah satu akhlak yang mulia, tentunya malu untuk melakukan perbuatan buruk.
  3. Keutamaan jujur dan menjauhi perbuatan berbohong adalah cirri-ciri seseorang yang berakhlak mulia.
  4. Menyambung tali silaturrahmi kepada sesama manusia adalah perbuatan terpuji, dan sebaliknya memutuskan tali silaturrahmi adalah perbuatan tercela.
  5. Menyampaikan amanah adalah cirri-ciri orang yang beretika luhur
  6. Mempunyai jiwa solidaritas kepada sahabat dan saling tolong menolong adalah etika/akhlak terpuji
  7. Menghormati dan memiliki jiwa solidaritas kepada tetangga adalah cara beretika yang baik
  8. Memberikan upah yang proporsional kepada orang yang melakukan jasa kepada kita cara beretika dalam kehidupan bersosial dalam kehidupan bermasyarakat.
  9. Memiliki sifat kedermawanan kepada orang lain adalah cirri-ciri mayarakat berpradaban, baik secara individual maupun komunal.

Demikianlah makalah ini penulis susun, tentunya masih banyak kekurangan dan kekeliruan, karenanya penulis mengharapkan kritikan dan sumbangan pemikiran yang mencerahkan dan mencerdaskan. Semoga bermanfaat…

Wallahu a’lam bisshawaab

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Terjemahan Depatemen Agama., 1989, Surabaya: CV Jaya Sakti Surabaya

Abdu, Muhammad, Abdullatif., 1988, Al-Akhlak Fil Islami, Kairo: Maktabah Daarutturats

Abdullah, Taufik dkk., 2002, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam seri Khilafah, Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve

Audi, Robert., 1999, The Cambridge Dictionary of Philosophy, Second Edition, United State of America: Cambridge University Press

Asyak’ah, Muhammad, Mustofa., 1999, Islam Tidak Brmazhab, Terjemahan, Jakarta: Gema Insani Press

Ad-Dunya, Abi, Ibnu., 1409 H, Makarimal Akhlaq, Beiruut Libanon: Daarul Kitab Ilmiah

Bagus, Loren., 2002, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia

Munawwir, warson, Ahmad., 2002, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, Surabaya: Pustaka Progresif

Shubhi, Mahmud, Ahmad., 2001, Filsafat Etika Tanggapan Kaum Rasionalis dan intuisionalis Islam, Terjemahan, Jakarta: Serambi

Hanafi, Ahmad., 1980, Pengantar Theologi Islam, Jakarta: Pustaka Al-Husna

http://soni69.tripod.com/artikel/Kasus_Turki.htm

http://www.pondokpesantren.net/ponpren

http://www.majalahfurqon.com/cetak-berita/53.html

MD, Mahfud, Muhammad dkk., 1999, Spiritualitas Al-qur’an dalam Membangun Kearifan Ummat, Yogyakarta: UUI Press

Nasutian, Harun., 1986, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: Universitas Indonesia Press

Nasr, Hossein, Seyyed., 2003, Islam Religion, History, and Civilization, San Fransisco United State of America: HarperSanFransisco

Qodir, Zuli dkk., 2005, Sejarah, Teologi dan Etika Agama-Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sunanto, Musyrifah., 2003, Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, Jakarta: Prenada Media

Syalabi, A., 2008, Sejarah Kebudayaan Islam 3, Terjemahan, Jakarta: YOFA Mulia Offset

Supriyadi, Dedi., 2008, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia

ETIKA ISLAM TRADISIONALIST IBNU ABI AL-DUNYA

Oleh : Budi Santosa

NIM :

Makalah disampaikan pada presentasi

mata kuliah filsafat moral dan akhlak

Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Suparman Syukur, MA


[1] Robert Audi, The Cambridge dictionary of Philosophy, 1999, h, 355.  disebutkan bahwa etich is the philosophy study of morality (cabang filsafat yang mempelajari tentang moral). Lorens Bagus, Kamus filsafat, 2002, h. 217, Etika berasal dari bahasa yunani yaitu ethikos, ethos artinya adat, kebiasaan, praktek.

[2] Ahmad Warson Munawwir, 2002, h, 364, kamus al-munawwir disebutkan asal kata akhlak adalah khuluqun yang    berarti tabiat, budi pekerti. Kamus al-munawwir

[3] http://soni69.tripod.com/artikel/Kasus_Turki.htm, pembahasan lebih lengkap lihat buku Komarudin Hidayat dalam “Etika Dalam Kitab Suci Dan Relevansinya Dalam Kehidupan Modern Studi Kasus Di Turki”, (Jakarta : Paramadina), dalam kumpulan artikel Yayasan Paramadina

[4] Seyyed Hossein Nasr, Islam Religion, History and Civilization, 2003, h. 98-99

[5] Abdullatif Muhammad Abdu, Al-akhlak Fil Islam, 1988, h, 12

[6] Ahmad Mahmud Shubhi, Filsafat Etika tanggapan kaum rasionalis dan intuisionalis islam, 2001, h. 15

[7] Ibid h. 16

[8] Ibid h. 20

[9] Moh. Mahfud MD dkk, spiritualitas al-qur’an dalam membangun kearifan ummat, 1999, h, 50

[10] http://www.pondokpesantren.net/ponpren

[11] Taufik Abdullah dkk, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam seri Khilafah, 2002, h, 76

[12] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, 2003, h. 50-51

[13] Ibid, h. 86

[14] A. Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam 3, 2008, h, 122

[15] Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, 1986, h. 61

[16] http://www.majalahfurqon.com/cetak-berita/53.html

[17] http://www.majalahfurqon.com/cetak-berita/53.html

[18] Mustofa Muhammad Asy Syak’ah, Islam Tidak Bermazhab, 1999, h. 312-313

[19] A. Hanafi M.A, Pengantar Theology Islam, 1980, h. 109

[20] Buku Sejarah, Teologi dan Etika Agama-Agama ini adalah sekumpulan tulisan/artikel dari banyak penulis, dari berbagai agama di Indonesia, kata pengantar buku ini disampaikan oleh Muhammad Qosim Mathar seorang Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar

[21] Dalam buku Harun Nasution Teologi Islam, menjelaskan tentang term “ahlussunnah wal jamaah” yaitu golongan yang berpegang pada sunnah dan secara jumlah adalah mayoritas, sebagai lawan bagi golongan muktazilah yang bersifat minoritas dan dianggap tak kuat berpegang pada sunnah. Maka sunnah dalam term ini berarti hadits. Sebagai diterangkan Ahmad amin, ahli sunnah dan jamaah, berlainan dengan kaum muktazilah percaya pada dan menerima hadis-hadis shahih tanpa memilih dan tanpa interpretasi, dan jamaah berarti mayoritas sesuai dengan tafsiran yang diberikan Sadr al-Syari’ah al-Mahbubi ‘ammah al-muslimin’ umumnya ummat islam dan al-jamaah al-kasir wa al-sawad al-azam (jumlah besar dan khalayak ramai. h, 64

[22] http://www.pondokpesantren.net/ponpren

[23] Op cit, Ahmad Hanafi, h, 106

[24] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, 2008, h, 140

[25] Al-Qur’an Terjemahan, 1989, h, 960

[26] Ibnu abi ad-Dunya Makarimal akhlak, 1409 hijriyah, hl. 3-4. Dalam kitab ini, untuk satu hadits sangat lengkap dengan transmisi (sanad) haditsnya sehingga untuk satu hadits “foot notenya”(sanad) bisa mencapai dua atau tiga halaman.

[27] Ibid, h,  18-20

[28] Ibid, h, 41

[29] Ibid, h, 51-52

[30]Ibid, h, 61-64

[31]Ibid, hl, 85

[32]Ibid, h, 96-97

[33] Ibid, h, 155-156

[34]Ibid, h, 190-191

[35]Ibid, h, 199

[36] Ibid, h, 215-216

[37] Ibid, h, 117-119

[38] Ibid, h, 233

[39] Ibid, h, 235

[40] Ibid, 245-246

[41]Ibid, h, 124