REFRESH PEMIKIRAN

MENYEGARKAN KEMBALI PEMAHAMAN

CARA BERQURBAN DI HARI RAYA IDUL ADHA

*Oleh : budi santosa

Selama ratusan tahun bahkan seribu tahun lebih kaum muslimin melakukan ibadah qurban dengan menyembelih hewan qurban, kalau di Indonesia biasanya menyembelih sapi, kambing atau kerbau di Arab Saudi umumnya menyemblih unta dan domba, yang jelas melakukan penyemblihan hewan untuk dibagi-bagikan kepada kaum mustad’afin atau fakir miskin, agar kaum fakir miskin bisa merasakan lezatnya daging yang mungkin mereka hanya bisa memakannya setahun sekali. Ada pertanyaan yang sedikit nakal dari saya “benarkah untuk kondisi masyarakat kaum fakir miskin saat ini, sangat membutuhkan daging hewan untuk membantu kemiskinan dan kefakiran mereka?” kalau kita mau jujur dengan realitas sosial ekonomi yang dihadapi kaum muslimin yang hampir 80% tinggal di Negara-negara kelas tiga dunia yang tergolong Negara miskin dan berkembang termasuk Indonesia, maka menurut saya melakukan perintah qurban dengan menyemblih hewan qurban kemudian dibagi-bagikan ke kaum fakir miskin sangatlah tidak efektif dan efisien.

Ibadah qurban adalah ibadah yang mempunyai muatan sosial, ibadah yang membutuhkan sensitifitas sosial dari orang-orang yang memiliki kelebihan rezeki untuk membantu saudara sesama muslim agar sedikit terangkat dari lembah kemiskinan dan jurang kefakiran mereka. Melihat substansi dari tujuan ibadah qurban ini maka akan sangat tidak efektif memberikan kantung-kantung berisi daging sapi atau kambing kepada fakir miskin. Ketika seorang fakir menerima daging sapi maka ia membutuhkan bahan-bahan lain untuk mengubah daging mentah itu menjadi makanan siap saji, butuh minyak kompor, butuh minyak goreng, bumbu-bumbu dan sebagainya yang hampir bahkan melebihi harga daging yang dia terima, kalaupun mereka bisa memasaknya maka “maaf” setelahnya hanya akan menjadi tai dan selesai sampai disitu, tidak mempunyai bekas sedikitpun yang berkaitan dengan kemiskinan dan kefakiran mereka. Saya lebih condong melakukan ibadah qurban dengan uang, atau berqurban dengan memberikan pekerjaan kepada para penganggur yang miskin lagi fakir, karena dengan sejumlah uang mereka bisa melakukan atau membeli kebutuhan mereka yang lebih mereka butuhkan daripada satu kilogram daging mentah. Kalau seekor daging sapi atau kambing diuangkan maka untuk harga sekarang ini sangat cukup untuk membantu kaum fakir dan miskin ini untuk membeli kebutuhan mereka yang lebih mendesak. Mereka bisa membeli sebuah kompor untuk dapat memasak seterusnya, bagi yang tidak punya kompor, dengan uang mereka bisa membantu keluarga mereka yang sedang dirawat dirumah sakit sehingga tidak disandra oleh pihak rumah sakit.

Saya pernah mendengar berita konon katanya, daging hewan qurban di Arab Saudi, tidak tahu harus dibagikan ke siapa karena orang Arab hampir setiap hari makan daging, akhirnya banyak yang mubazzir. Alangkah baiknya hewan-hewan tersebut dijual dan hasil penjualannya dihibahkan ke Negara-negara muslim yang sedang dililit kefakiran dan kemiskinan. Lalu apakah ini yang menjadi tujuan dari ibadah sosial yang bernama ibadah qurban? Saya kira pemahaman kolot dan usang ini harus segera disegarkan kembali, dengan lebih mementingkan efek manfaat, substansi dan tujuan dari sebuah ibadah sosial. Ayat al-qur’an surat al-haj ayat 3,

menurut saya ayat al-qur’an di atas jangan di telan bulat-bulat, haruslah ditafsirkan secara kontekstual, bahkan didalam ayat di atas Allah tidak secara eksplisit memrintahkan menyembelih satu bentuk hewan apapun seperti unta sapi atau kambing, Allah hanya menyebutkan untuk berzikir atas rizki yang telah diberikan kepada mereka dari binatang ternak. Kata-kata “manasakan” di awal ayat tersebut secara bahasa diartikan melakukan ibadah kemudian dilanjutkan dengan perintah agar mengingat asma Allah terhadap rezeki yang diberikan kepada mereka dari binatang ternak dan saya tidak menemukan kata-kata menyembelih dalam ayat tersebut. Menurut saya ayat di atas lebih tepat dterjemahkan dengan “pergunakanlah rezeki yang diberikan Allah berupa binatang ternak untuk mengingat nama Allah sebagai bentuk ibadahmu yang telah disyari’atkan kepada setiap ummat, maka Tuhanmu adalah Maha Esa, karena itu berserah dirilah kepadaNya, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk dan patuh.” Kata-kata mengingat Allah (beribadah dengan menggunkaan binatang ternak) saya maknai dengan memanfaatkan binatang ternak untuk berqurban, bisa dengan menjualnya dan hasil penjualaannya digunakan untuk membantu kaum fakir dan miskin yang lebih sesuai dengan kebutuhannya.

Kalau kita cermati dari asbabunnuzul dari perintah berqurban al-qur’an sendiri menggambarkannya pada ayat As-Saffat ayat 100-111. Kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail dalam sebuah drama antara Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail yang mana Ibrahim diperintahkan menyemblih putranya, maka Ibrahim lebih memilih menyemblih ismail, kemudian Allah menggantikannya dengan atau menebus Ismail dengan seekor domba. Ayat-ayat al-qur’an yang menceritakan kisah tersebut adalah dasar asbabunnuzul dari perintah berqurban. Tetapi sekali lagi dalam ayat tersebut al-qur’an hanya mengatakan, Allah kemudian menebus Ismail dengan seekor domba, lalu pertanyaannya apakah inti dari ayat ini kita harus menyembelih seekor domba? Menurut saya substansi dari ayat ini adalah perintah berqurbannya, bukan dengan apa kita berqurban, karena Allah hannya mencontohkan dengan seekor domba dan secara eksplisit Allah tidak mengatakan “sembelihlah seekor domba, sapi, kerbau, atau kambing sebagaimana Nabi Ibrahim melakukan hal tersebut”. Menurut saya penafsiran yang tepat adalah “berqurbanlah dengan rezeki yang telah diberikan kepadamu sebagai bentuk kecintaanmu kepadaKU, dan berikanlah kepada kaum fakir miskin. Jadi berqurban dengan rezeki tidaklah hanya an sich dengan binatang ternak bisa saja berqurban dengan benda atau apa saja, yang penting harus melihat kemaslahatan dan efek kemanfaatan dari ibadah qurban yang kita lakukan.

Demikianlah beberapa pemikiran “nakal” dari saya, yang mungkin sangat berbeda dengan pemahaman pada umumnya tentang ibadah qurban. Karena menurut saya al-qur’an memberikan ruang ijtihad yang seluas-luasnya tentang bagaimana kita melakukan ibadah-ibadah sosial, sebab kalau hanya terus mempertahankan status quo interpretasi/penafsiran atas ayat al-qur’an, maka ummat islam tidak akan pernah tercerahkan dan termajukan peradabannya, itulah sebabnya mengapa al-qur’an berkomunikasi dengan manusia dalam hal-hal ibadah social dengan bahasa-bahasa yang umum, multitafsir dan multiinterpretasi, agar al-qur’an tetap eksis terhadap perkembangan dan dinamisasi kehidupan manusia, sebab agama ini diturunkan untuk kemaslahatan ummat manusia, rahmat untuk seluruh alam, bukan mempertahankan dan kekeh terhadap hasil interpretasi/penafsiran atas ayat al-qur’an yang sudah usang, kolot dan tidak relevan lagi dengan corak dan warna serta kompleksitas realitas kehidupan ummat manusia sekarang ini. wallahua’alam bisshawab…….

*penulis adalah santri yang sedang mengaji di pondok pascasarjana IAIN Walisongo Semarang


2 thoughts on “REFRESH PEMIKIRAN

  1. Assalamualaikum,
    Mas, sekali lagi saya mau menyampaikan komentar saya atas tulisan mas..walaupun komentar saya sebelumnya tidak anda tampilkan yang terpenting anda bisa membaca tanggapan saya…mengenai perintah berkurban tidak hanya ada di Al Quran mas…landasan kita berhukum dalam Islam tidak hanya Al-Quran (Al-Quran memuat secara global) melainkan ada lagi salah satunya adalah hadits yang kita tidak bisa menafikannya…karena jika kita menafikannya maka kita tidak mempercayai Rasulullah SAW…Rasulullah SAW yang mengajarkan tata cara berkurban sebagaimana sampai saat ini kita melakukannya…lantas apakah kita lebih pintar terhadap ilmu agama dibanding Rasulullah? Tata cara untuk berkurban ya seperti itu adanya…harap mas ingat…selain berkurban ada juga sedekah mas…jika anda mau membantu kaum muslim yang lain dengan uang untuk meringankan beban mereka ya kenapa tidak bersedekah? berkurban ya berkurban…sedekah ya sedekah…anda mau berkurban atau sedekah? semuanya berpahala mas..insya Allah niat baik mas akan diberi pahala oleh Allah asalkan memenuhi kriteria Ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Amien.

Komentar ditutup.