KAJIAN ILMU HADITS

TAKHRIJ HADITS, METODE DAN URGENSINYA

oleh : budi santosa

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang

“Annazhaafatu min al-iman”, (kebersihan sebagian dari iman) kira-kira begitulah arti dari kalimat berbahasa arab  di awal kalimat tersebut. Kalimat ini seringkali kita lihat terpampang terutama di fasilitas-fasilitas publik. Masyarakat secara umum acapkali menganggap kalimat arab tersebut sebagai sebuah hadits yang disandarkan kepada Rasulullah SAW, dan entah siapa yang pertamakali “memproklamirkan” bahwa kalimat itu adalah sebuah hadits. Padahal kalau kita melakukan pelacakan dan menyelidiki kalimat tersebut barulah akan terlihat dengan jelas bahwa kalimat “annazhaafatu minal iman” bukanlah termasuk hadits, dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan yang tidak bertanggung jawab secara keilmuan beredar di masyarakat dan dianggap sebagai sebuah hadits.

Fenomena di atas adalah sebuah musibah bagi tradisi ilmu hadits, oleh karenanya dalam kasus ini merupakan “pekerjaan rumah” bagi para punggawa ilmu hadits untuk segera memelekkan masyarakat mana yang merupakan hadits dan mana yang bukan hadits. Dalam tradisi ilmu hadits ulama-ulama terdahulu mulai dari Imam Malik dengan karyanya yang melegenda al-Muwaththa’ selanjutnya Imam Bukhari dengan karyanya yang monumental “Shahih Bukhari” yang mengumpulkan ribuan hadits shahih  sampai ulama-ulama hadits muta’akhirin telah membuat  metodologi untuk melacak dan menyelidiki apakah sebuah “hadits” merupakan ungkapan Rasulullah SAW, atau bukan, sekaligus dapat mengetahui kualitas hadits tersebut, baik dari sanad maupun matan hadits. Metodologi pelacakan dan penelusuran hadits inilah yang selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan “Takhrij Hadits”. Untuk itulah penulis akan mencoba memaparkan secara mendalam tentang “Takhrih Hadits, Urgensi dan Metodenya”

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Takhrij Hadits

Sebelum sampai kepada pembahasan takhrij hadits secara mendalam, marilah sejenak kita menyimak beberapa definisi tentang term takhrij hadits. Louis Ma’luf (1986: 174) dalam Kamusnya al-Munjid menerangkan bahwa kata takhrij adalah bentuk mashdar dari kata kerja kharraja, yukharriju, takhrij, kata ini diartikan sebagai “menjadikan sesuatu keluar dari suatu tempat atau menjelaskan suatu masalah”.

Mahmud al-Thahhan (1991: 7-8) dalam kitabnya Usul al-Takhrij wa Dirasat al-Asanid, menjelaskan bahwa al-takhrij menurut pengertian asal bahasanya ialah “berkumpulnya dua perkara yang berlawanan pada sesuatu yang satu”. Kata al-takhrij sering dimunculkan dalam berbagai pengertian, dan pengertian yang populer untuk term al-takhrij adalah (1) al-istimbat artinya “mengeluarkan” (2) al-tadrib artinya “melatih atau pembiasaan” (3) al-tawjih artinya “memperhadapkan”.

Said bin Abdillah bin al-Hamid, (2000: 6-7) dalam kitabnya Thuruq Takhrij al-Hadits menjelaskan definisi takhrij, bahwa Secara terminologi (ishtilah) term takhrij didefinisikan dalam tiga bagian :

  1. Takhrij adalah mengeluarkan hadits kepada manusia dengan menuturkan sanad dan matannya. Sebagaimana dicontohkan bahwa hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari dengan artian Bukhari telah menampakkan hadits dan menjelaskannya kepada orang-orang dengan cara menuturkan sanad dan matannya secara sempurna.
  2. Takhrij adalah mengeluarkan (menampakkan) hadits-hadits pada kitab-kitab tertentu dengan menuturkan sanad orang yang mentakhrij hadits tersebut yang telah dituturkan oleh pengarang kitab tertentu. Sebagaimana dicontohkan bahwa kitab azkar karangan Imam Nawawi kemudian Ibnu Hajar mentakhrij hadits dalam kitab azkar, karena dalam kitab tersebut tidak disebutkan hadits lengkap dengan sanadnya.
  3. Takhrij adalah menunjukkan hadits akan sumbernya yang asli yang telah mengeluarkan hadits tersebut lengkap dengan sanadnya serta menjelaskan derajat hadits tersebut ketika diperlukan.

Dari ketiga pengertian takhrij hadits di atas menurut M. Syuhudi Ismail (1992: 43), pengertian takhrij hadits pada butir ke tiga merupakan pengertian takhrij yang dilakukan oleh para peneliti hadits atau pemerhati hadits pada masa sekarang ini, artinya para peneliti hadits ini melakukan penelusuran hadits dengan menggunakan metode-metode tertentu serta menunjukkan sumber asli dari hadits yang dilacak lengkap dengan sanad, matan dan derajat hadits tersebut.

B. Sejarah Singkat Takhrij Hadits

Para sejarawan Islam secara berjama’ah menyepakati bahwa usaha pelestarian dan pengembangan hadits terbagi dalam dua periode besar yaitu periode mutaqaddimin dan periode mutaakhirin. Periode mutaqaddimin dibagi lagi menjadi beberapa tahap/masa yaitu, masa turunnya wahyu, masa khulafaurrasyidin (12-40 H), masa sahabat kecil dan tabi’in (40 H – akhir abad I H), masa pembukuan hadits (awal-akhir abad II H), masa pentashihan dan penyaringan hadits (awal-akhir abad III,) sekitar pada masa yang terakhir inilah Imam Bukhari menulis kitab yang terkenal dengan nama al-Jami’ al-Shahih (w. 256 H) disusul Imam Muslim (w.261 H).  Kalau para ulama mutaqaddimin menghimpun hadits dengan menemui sendiri para penghafalnya maka ulama mutaakhirin menukil dari kitab-kitab susunan ulama mutaqaddimin. Masa inilah para ulama mempergunakan system istidrak dan istikhraj. Sehingga bermunculan kitab-kitab mustadrak dan mustakhraj. Sampai pada abad kelima dan abad ke tujuh para ulama hanya berusaha untuk memperbaiki susunan kitab, mengumpulkan hadits Bukhari dan Muslim dalam satu kitab, mempermudah jalan pengambilannya. Dalam abad ini pula timbul istilah al-Jami’ al-Jawami dan al-Takhrij. (Musyrifah Sunanto, 2004: 60-67).

Ilmu hadits baru berdiri sendiri sebagai sebuah ilmu pada masa al-Qadhi Ibnu Muhammad al-Ramahurmudzi (265-360 H). Selanjutnya diikuti oleh al-Hakim al-Naisaburi (321-405 H), Abu Bakr al-Baghdadi (463 H). Para ulama mutaqaddimin menyebutnya dengan ulumul hadits dan ulama mutaakhirin menyebutnya ilmu musthalahul hadits. (Noor Sulaiman, 2008: 77).  Jadi kalau menganalisa kedua uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa setelah masa inilah muncul ilmu takhrij hadits sebagai bagian dari ilmu hadits.

C. Takhrij Hadits dan Urgensinya

Takhrij Al-Hadits sebagai sebuah metode dengan memperhatikan tujuannya, mempunyai banyak sekali manfaat. Abu Muhammad Abdul Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi dalam kitabnya Thuruq Takhrij Hadits Rasulillah SAW, yang  penulis kutip dari buku terjemahan kitab tersebut, “Metode Takhrij Hadits”, (1994: 5-6) menjelaskan beberapa manfaat takhrij hadits diantaranya :

  1. Takhrij memperkenalkan sumber-sumber hadits, kitab-kitab asal dimana suatu hadits berada, beserta ulama yang meriwayatkannya.
  2. Takhrij dapat menambah perbendaharaan sanad hadits-hadits melalui kitab-kitab yang ditunjukinya. Semakin banyak kitab-kitab asal yang memuat suatu hadits, semakin banyak pula perbendaharaan sanad yang dimiliki.
  3. Takhrij dapat memperjelas keadaan sanad. Dengan membandingkan riwayat-riwayat hadits yang banyak itu maka dapat diketahui apakah riwayat itu munqathi’,  mu’dal dan lain-lain. Demikian pula dapat diketahui apakah status riwayat tersebut shahih, dha’if dan sebagainya.
  4. Takhrij dapat memperjelas hukum hadits dengan banyaknya riwayatnya. Terkadang kita dapatkan hadits yang dha’if melalui suatu riwayat, namun dengan takhrij kemungkinan kita akan mendapatkan riwayat lain yang shahih. Hadits yang shahih itu akan mengangkat derajat hukum hadits yang dha’if tersebut ke derajat yang lebih tinggi.
  5. Dengan takhrij kita dapat memperoleh pendapat-pendapat para ulama sekitar hukum hadits.
  6. Takhrij dapat memperjelas perawi hadits yang samar. Karena terkadang kita dapati perawi yang belum ada kejelasan namanya, seperti Muhammad, Khalid dan lain-lain. Dengan adanya takhrij kemungkinan kita akan dapat mengetahui nama perawi yang sebenarnya secara lengkap.
  7. Takhrij dapat memperjelas perawi hadits yang tidak diketahui namanya melalui perbandingan diantara sanad-sanad.
  8. Takhrij dapat menafikan pemakaian “AN” dalam periwayatan hadits oleh seorang perawi mudallis. Dengan didapatinya sanad yang lain yang memakai kata yang jelas ketersambungan sanadnya, maka periwayatan yang memakai “AN” tadi akan tampak pula ketersambungan sanadnya.
  9. Takhrij dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya percampuran riwayat

10.  Takhrij dapat membatasi nama perawi yang sebenarnya. Hal ini karenan kemungkinan saja ada perawi-perawi yang mempunyai kesamaan gelar. Dengan adanya sanad yang lain maka nama perawi itu akan menjadi jelas.

11.  Takhrij dapat memperkenalkan periwayatan yang tidak terdapat dalam satu sanad.

12.  Takhrij dapat memperjelas arti kalimat yang asing yang terdapat dalam satu sanad.

13.  Takhrij dapat menghilangkan suatu “syadz” (kesendirian riwayat yang menyalahi riwayat tsiqat) yang terdapat dalam suatu hadits melalui perbandingan suatu riwayat.

14.  Takhrij dapat membedakan hadits yang mudraj (yang mengalami penyusupan sesuatu) dari yang lainnya.

15.  Takhrij dapat mengungkapkan keragu-raguan dan kekeliruan yang dialami oleh seorang perawi.

16.  Takhrij dapat mengungkapkan hal-hal yang terlupakan atau diringkas oleh seorang perawi.

17.  Takhrij dapat membedakan proses periwayatan yang dilakukan dengan lafal dan yang dilakukan dengan ma’na (pengertian) saja.

18.  Takhrij dapat menjelaskan waktu dan tempat kejadian timbulnya suatu hadits.

19.  Takhrij dapat menjelaskan sebab-sebab timbulnya hadits. Diantara hadits –hadits ada yang timbul karena perilaku seseorang atau kelompok orang melalui perbandingan sanad-sanad yang ada maka “asbab al-wurud” dalam hadits tersebut akan dapat diketahui dengan jelas.

20.  Takhrij dapat mengungkapkan kemungkinan terjadinya percetakan dengan melalui perbandingan-perbandingan sanand yang ada.

Secara singkat takhrij hadits dapat mengumpulkan berbagai sanad dari sebuah hadits serta mengumpulkan berbagai redaksi dari sebuah matan hadits. Berikut adalah contoh kegunaan dari takhrij hadits :

Lafal sebuah hadits :

رُوِيَ عَنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعَبْةَ قَالَ: وَضَأْتُ النَّبِى صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِى غَزْوَةِ تَبُوْكَ فَمَسَحَ اَعْلَى الْحُفَّيْنِ وَاَسْفَلَهُمَا

Bila kita menggunakan metode takhrij, maka akan tampak hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah. Setelah ditakhrij pada masing-masing kitab, maka hadits tersebut lengkapnya berbunyi :

Menurut riwayat Imam Turmudzi :

حَدَثْنَا اَبُو الْوَلِيدِ اَلدِّمَشْقِىُّ حَدَّثْنَا الْوَلِيْدُ بْنُ مُسْلِمٍ اَخْبَرَنَا ثَوْرُ بْنُ يَزِيْدَ عَنْ رَحَاءِ حَيْوَةَ عَنْ كَاتِبِ الْمُغِيْرَةِ عَنْ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ اَنَّ النَّبِي صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسَحَ اَعْلَى الْحُفِّ وَاَسْفَلِهِ

Menurut riwayat Imam Abu Dawud :

حَدَّثْنَا مُوْسَى بْنُ مَرْوَانَ وَمَحْمُوْدُ بْنُ خَالِدٍ اَلدِّمَشْقِىُّ اَلْمَعْنَى قَالاَحَدَّثَنَا اَلْوَلِيْدُ – قَالَ مَحْمُوْدٌ – قَالَ اَخْبَرَنَا ثَوْرُبْنُ يَزِيْدَ عَنْ رَحَاءَ بْنِ حَيْوَةَ عَنْ كَاتِبِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ وَضَأْتُ النَّبِي صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى غَزْوَةِ تَبُوْكَ فَمَسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ وَاَسْفَلِهِمْ

Menurut riwayat Imam Ibnu Majah :

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُمَارٍ, ثَنَا الْوَلِيْدُ بْنُ مُسْلِمٍ, ثَنَّا ثَوْرُبْنُ يَزِيْدَ, عَنْ رَحَاءَ بْنِ حَيْوَةَ , عَنْ وَرَّادٍ-كَاتِبِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ-عَنْ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ اَنَّ الرَّسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَعْلَى الْحُفِّ وَاَسْفَالِهِ

Dengan memperbandingkan ketiga riwayat di atas, maka kita dapat mengetahui :

  1. Hadits di atas diriwayatkan oleh tiga ulama hadits yaitu Imam Turmudzi, Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah.
  2. Pada riwayat Abu Dawud terdapat nama perawi yang samar, yaitu al-Walid. Riwayat Turmudzi dan riwayat Ibnu Majah menjelaskan nama yang sebenarnya yaitu al-walid bin Muslim.
  3. Katib Mughirah tidak diketahui nama yang sebenarnya pada riwayat Abu Dawud dan Turmudzi. Pada riwayat Ibnu Majah Katib Mughirah yang dimaksud adalah Warrad. Menurut Ibnu Hazam, Katib Mughirah adalah perawi yang tidak diketahui namanya. Ini karena Ibnu Hazam, mungkin tidak ingat bahwa ada riwayat Ibnu Majah yang menjelaskan nama yang sebenarnya. Warrad diriwayatkan oleh banyak ulama hadits. Ibnu Hibban menggolongkannya pada kelompok tsiqat.
  4. Setelah Imam Turmudzi meriwayatkan hadits ini, beliau mengatakan bahwa hadits ini adalah ma’lul, karena tidak seorangpun yang meriwayatkan dari Tsaur bin yazid selain Walid bin Muslim. Lalu beliau menanyakannya kepada Abu Zur’ah dan Imam Bukhari. Keduanya mengatakan hadits ini tidak shahih, karena Ibnu Mubarak meriwayatkannya dari Tsaur, dari Roja’ bin Haywah, beliau berkata “saya menerima riwayat dari Katib Mughirah, dari Nabi SAW. Jadi hadits ini mursal, karena Mughirah tidak disebut dalam sanad tersebut.
  5. Riwayat Abu Dawud menjelaskan sejarah timbulnya hadits ini yaitu pada waktu peperangan Tabuk.

D. Metode Takhrij Hadits

Mahmud al-Thahhan menjelaskan bahwa setidaknya ada lima metode yang dipergunakan dalam melakukan takhrij hadits, diantaranya adalah :

  1. 1. Al-Takhrij ‘an thariiqi ma’rifati raawi al-hadits min al-sahaabati (metode takhrij dengan jalan mengetahui rawi hadits dari sahabat atau proses penelusuran hadits yang didasarkan pada pengetahuan akan rawi atau di tingkat sahabat). Dalam menggunakan metode ini seseorang yang akan mentakhrij haruslah mengetahui sanad hadits tersebut. Dalam hal ini yang menjadi pijakannya adalah perawi yang paling tinggi yaitu sahabat-sahabat Rasulullah SAW, atau bisa juga para tabi’in (jika hadits tersebut merupakan hadits mursal). Untuk mempergunakan metode takhrij ini ada banyak kitab yang membantu pelacakan hadits, kitab-kitab tersebut terbagi menjadi tiga jenis yaitu :
    1. Jenis kitab al-masanid. Yang dimaksud dengan kitab al-musnad adalah kitab yang disusun berdasarkan perawi teratas dan menentukan hadits-hadits setiap sahabat sendiri-sendiri. Kitab-ktab berjenis musnad ini tersusun menurut aturan-aturan tertentu. Sebagian ulama ada yang mengaturnya berdasarkan urutan huruf-huruf hijaiyah, sebagian yang lain ada yang mengaturnya berdarkan lebih dahulu masuk islam, sebagian lain ada yang mengaturnya berdasarkan kehormatan keturunan. Dalam kitab-kitab musnad ini, jenis shahih, hasan dan dha’if terkumpul jadi satu. Diantara kitab-kitab tersebut adalah :
      1. Musnad Abu Hanifah
      2. Musnad Al-Syafi’i
      3. Musnad Abu Dawud al-Thayalisi
      4. Musnad Ahmad bin Hanbal
      5. Musnad Abu Ya’la al-Maushili
      6. Musnad al-Humaidi, dan lain-lain
  1. b. Jenis kitab al-Ma’ajim
    1. Mu’jam al-Kabir  karya Abu al-Qasim al-Thabarani (360 H)
    2. Mu’jam al-Ausath karya Abu al-Qasim al-Thabarani
    3. Mu’jam al-Shaghir karya Abu al-Qasim al-Thabarani
    4. Mu’jam al-Shahaabah karya Ahmad bin Ali al-Hamdani (398 H)
    5. Mu’jam al-Shahaabah karya Abi Yu’la Ahmad bin Ali al-Maushili  (308 H)
  1. Jenis kitab al-athrafat, yang dimaksud dengan kitab al-athraaf adalah salah satu jenis kitab-kitab yang disusun sebagai kumpulan hadits-hadits Nabi. Yang dimaksud dengan jenis al-athraaf ini ialah kumpulan hadits-hadits dari beberapa kitab induknya dengan cara mencantumkan bagian atau potongan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh setiap sahabat. Beberapa contoh kitab yang berjenis al-athraaf adalah :
    1. Athraaf al-Shahihain karya Imam Abu Mas’ud Ibrahim bin Muhammad bin Ubaid al-Dimasyqi (400 H).
    2. Athraaf al-hahihain karya Imam Khalaf bin Hamadun al-Washithy  (401 H).
    3. Athraaf al-Kutub al-Sittah karya Syamsuddin Abu al-Fadhly Muhammad bin Thahir bin Ahmad al-Maqdisi (507 H).
    4. Al-Isyraf ‘Alaa Ma’rifati al-Athraaf, karya Abu al-Qasim Ali bin Abi Muhammad al-Hasan al-Dimasyqi (571 H).
    5. Tuhfatu al-Asyraf bi Ma’rifati al-Athraaf karya Jamal al-Din Abu al-Hajjaj Yusuf bin Abdi al-Rahman al-Mizzi (742 H).

(Mahmud al-Thahhan, 1991: 39-49)

  1. 2. Al-Takhrij ‘an thariiqi ma’rifati awwalu lhafzhi min matn  al-hadits (Metode takhrij dengan jalan mengetahui lafaz awal suatu matan hadits). Dalam menggunakan metode ini adalah keharusan untuk mengetahui dengan pasti lafal-lafal pertama dari matan suatu hadits. Setelah itu kemudian melihat huruf pertamanya melalui kitab-kitab takhrij yang disusun dengan metode ini, banyak sekali kitab-kitab takhrij yang dipakai dalam menggunakan metode ini. jenis kitab yang menggunakan metode ini dibagi dalam tiga jenis:
    1. Al-masyhurat ‘ala alsinat al-nas, seperti :
      1. Al-Maqashid al-Hasanah fi Bayanin Katsiirin al-Hadits al-Mashurah ‘ala Alsinah al-Nas karya Muhammad bin Abdurrahman al-Skhawi (902 H).
      2. Kasyf al-Khafa wa Muzii al-Ilbas ‘amma Isytahara min al-Hadits ‘ala Alsinah al-Nas karya Isma’il bin Muhammad al-Ajluuni (1162 H).
      3. Tamyiz al-Thayyib al-Khabits fima Yaduuru ‘ala Alsinah al-Nas karya Abdurrahman bin Ali bin al-Diba’ al-Syabani (944 H)
      4. Al-Badru al-Munir fi Gharibi al-Ahaadits al-Basyir al-Nazir, karya Abdul wahhab bin Ahmad al-Sya’rani (973 H) dan lain sebagainya
  1. b. Al-Kitab allati ruttibat al-hadits fiiha ‘ala tartiib huruuf al-mu’jam (kitab yang disusun berdasarkan huruf hijaiyah) jenis kitab ini seperti :
    1. Al-Jami’ al-Shagir min Hadits al-Basyir al-Nazir, karya Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakr al-Suyuthi. (911 H).
  1. Al-Mafaatih atau al-Fahrasat, seperti :
    1. Miftah al-Shahihiin karya al-Taukidi
    2. Miftah al-Tartib li Ahadits Tarikh al-Khatib, karya Sayyid Ahmad al-Ghumari. (Mahmud al-Thahhan, 1991: 59-70).
  1. 3. Al-Takhrij ‘an thariiqi ma’rifati kalimatin yaqillu dauranuha ‘ala al-alsinati min aiyu juz’in min matni al-hadits (metode takhrij yang didasarkan pada lafal-lafal tertentu dalam matan hadits, terutama lafal-lafal yang gharib atau lafal-lafal yang asing untuk mempercepat proses takhrij). Salah satu kitab yang paling terkenal untuk membantu dalam proses takhrij dengan menggunakan metode ini adalah kitab al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fadh al-Hadits an-Nabawi karya A. J. Wensinck seorang guru besar bahasa arab dari Universitas Leiden Belanda (w. 1939 M). kitab al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fadh al-Hadits an-Nabawi ini merujuk pada Sembilan kitab induk hadits yaitu : Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Turmudzi, sunan Abu Daud, Sunan Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Sunan Darimy, Muwaththa’ Imam Malik dan Musnad Imam Ahmad. (Mahmud al-Thahhan, 1991: 81-82).

Khusus untuk metode yang ke tiga ini penulis akan mencoba menjelaskan bagaimana langkah-langkah proses menggunakan kitab takhrij karya A.J Wensinck ini. penulis hanya mampu menjelaskan proses takhrij secara detail khusus untuk metode ini, karena keterbatasan waktu dan tempat dalam makalah ini. Sebelum melakukan penelusuran hadits dengan metode ini kita harus mengetahui cara kerja dan system penyusunan kitab ini, berikut ini adalah keterangan kitab al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fazaazh al-Hadits an-Nabawi :

Kitab al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fazaazh al-Hadits an-Nabawi dalam penyusunannya menempatkan kata-kata kerja yang dimulai dengan huruf alif kenudian kata-kata kerja yang dimulai dengan huruf baa’, taa’ dan seterusnya menurut urutan huruf-huruf hijaiyah. Setiap huruf juga tersusun menurut huruf-huruf hijaiyah tersebut, seperti alif lalu baa’, taa’ alif lalu tsaa’ dan seterusnya. Susunan perubahan kata-kata yang dicantumkan setiap fi’il mujarradnya adalah sebagai berikut :

  1. Fi’il Madhi (kata kerja untuk masa lalu)
  2. Fi’il Mudhari’ (kata kerja untuk masa sekarang)
  3. Fi’il Amr (kata kerja perintah)
  4. Isim Fi’il (kata subyek)
  5. Isim Maf’ul (kata obyek)

Kata kerja transitif didahulukan oleh penyusun kitab ini daripada kata kerja intranssitif, begitu pula dengan kata dasar lebih didahulukan daripada kata yang mengalami penambahan, kata-kata yang marfu’ (berkedudukan / berbasis dhammah) didahulukan daripada majrur (yang berbaris / berkedudukan kasrah) dan atas mansub (berbaris / berkedudukan fathah). Kata mufrad (tunggal) didahulukan daripada mutsanna (mengandung pengertian dua) dan kemudian jama’ (mengandung pengertian banyak).

Setiap kalimat dalam tiap-tiap bentuk di atas, penyusun kitab ini mencantumkan hadits-hadits yang salah satu kat-katanya merupakan kata-kata di atas sperti kata اَمَرَ  kata ini diletakkan posisinya setelah   اَمَدَ  dibawahnya dicantumkan kata-kata perubahannya secara berurutan, yaitu fi’il madhi, mudhari’ amr, isim fa’il dan isim maf’ul. Kemudian diletakkan kata kerjanya yang ditambah dengan tasydid pada huruf kedua اَمَرَ kata ini diletakkan posisinya setelah اَمَدَ

Dibawahnya dicantumkan kata-kata perubahan secara beruntun, yaitu fi’il madhi, mudhari’. Amr, isim fa’il dan isim maf’ul. Kemudian diletakkan kata kerjanya yang ditambah dengan tasydid pada huruf kedua اَمَّرَ

Kemudian  اَمَر menurut wazn اَفَعَلَ   kemudian تَأمَّرَ

Kemudian اِئْتَمَرَ         kemudian       اِسْتَأْمَرَ kemudian       اَمِرَ

اَمِيْر     kemudian                     اِمْرَة   kemudian       اَمَارَة

اِمَارَة   dan     آمَرُ

Disamping setiap hadits-hadits dicantumkan nama-nama ulama yang diriwayatkannya dalam kitab-kitab hadits mereka yang dimulai dengan nama perawi yang dikutip matan haditsnya dalam kitab Mu’jam al-Mufahras ini. disamping itu para penyusunnya juga mencantumkan nama kitab dan babnya, atau nama kitab dan nomor urut haditsnya, atau juz kitab dan halamannya. Untuk mengefisiensi penyusunan, penyusun kitab ini menggunakan kode-kode tertentu untuk setiap kitab-kitab haditsnya. Penjelasan kode-kode tersebut dicantumkan pada kitab tersebut. Demikian juga dalam penulisan tema hadits yang terdapat dalam kitab-kitab aslinya.

Seperti صَلاَةُ الْمُسَافِرِيْنَ وَقَصْدُهَا yang terdapat dalam Shahih Muslim ditulisnya dengan مُسَافِرِيْنَ dan وَقُوْتُ الصَّلاَةِ yang terdapat dalam Muwaththa’ ditulisnya dengan      اَلصَّلاَةُ

Berikut adalah keterangan kode-kode yang digunakan dan keterangan tempat hadits pada masing-masing kitab :

خ berarti Shahih al-Bukhari dengan mencantumkan tema dan nomor bab terdapatnya hadits.

د berarti Sunan Abu Daud dengan mencantumkan tema dan nomor bab terdapatnya hadits

ت berarti Sunan Turmudzi dengan mencantumkan tema dan nomor bab terdapatnya hadits

ن berarti Sunan Nasa’I dengan mencantumkan tema dan nomor bab terdapatnya hadits

جهَ berarti Sunan Ibnu Majah dengan mencantumkan tema dan nomor bab terdapatnya hadits

دى berarti Sunan Darimy dengan mencantumkan tema dan nomor bab terdapatnya hadits

م berarti Shahih Muslim dengan mencantumkan tema dan nomor bab terdapatnya hadits

ط berarti Muwaththa’ Imam Malik dengan mencantumkan tema dan nomor bab terdapatnya hadits

حم berarti Musnad Imam ahmad dengan mencantumkan tema dan nomor bab terdapatnya hadits

Semua kode-kode di atas digunakan oleh penyusun kitab ini kecuali pada 23 halaman pertama pada juz pertama. Pada 23 halaman tersebut mereka menggunakan kode ق untuk Sunan Ibnu Majah dan حل untuk Musnad Imam Ahmad. Adapun kode-kode yang lainnya seperti di atas. (Abu Muhammad Abdul Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi, 1994: 61-64)

Berikut ini penulis akan mencoba menjelaskan tahap-tahap dalam mentakhrij sebuah hadits dengan menggunakan kitab al-Mu’jam al-Mufahras li al-Faazhi al-Hadits al-Nabawi, yang penulis kutip dari terjemahan kitab Thuruq Takhrij Hadits Rasulillah SAW, karya Abu Muhammad Abdul Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi (1994: 65-66) :

  1. Langkah pertama adalah menentukan sebuah hadits yang akan ditakhrij.
  2. Selanjutnya menentukan kata kuncinya yang diambil dari salah satu kata dari matan hadits, artinya kata kunci tersebut adalah sebagai alat untuk mencari hadits. Setelah itu kembalikan kata tersebut ke dalam bentuk kata dasarnya, akan lebih baik jika kata yang akan dipergunakan adalah kata yang jarang dipakai. Semakin bertambah asing kata tersebut akan semakin bertambah mudah proses penelusuran hadits.
  3. Setelah mengembalikan kata tersebut ke dalam bentuk dasarnya, selanjutnya kita mencarinya dalam kitab al-Mu’jam menurut urutannya dalam huruf hijaiyah. Langkah selanjutnya mencari bentuk kata sebagaimana yang terdapat dalam kata kunci tersebut untuk kita temukan hadits yang dimaksud. Kode-kode kitab terdapatnya hadits tersebut tercantum disamping setiap haditsnya. Demikian pula dhalnya dengan tempat hadits tersebut dalam kitabnya. Kode-kode tersebut bukan hanya sekedar memperkenalkan kitab sumber hadits, tetapi bermaksud menganjurkan kita untuk menilai setiap haditsnya. Berikut ini akan dicontohkan dalam sebuah hadits :

لاَيُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

  1. Sebagai kata kuncinya kita pakai kata يُحِبُّ Kata tersebut kita kembalikan dalam bentuk dasarnya (fi’il madhi) yaitu  حَبَّ,حَبَّ kita temukan dalam kitab ini , sesuai dengan urutan huruf-hurufnya, terdapat pada jilid pertama halaman 405 dalam bentuk اَحَبَّ  adapun hadits yang dimaksud setelah kita telusuri setiap kat-kata yang merupakan perubahan dari اَحَبَّ  terdapat pada halaman 407, bunyi takhrijnya sebagai berikut :

…حتى يحب لأخيه او قال لجاره ما يحب لنفسه م ايمان 71, 72 خ ايمان 7 – ت قيامة 59 ن ايمان 19 (..) 330-جه مقدمه 9, جنائزا دى استئذان 5, وقاق 29-حم ا,79

3, 176,206, 251, 272, 278, 289

Penjelasannya :

  1. Imam Muslim meriwayatkan hadits ini dalam Shahihnya dan ditempatkan pada tema “al-iman” dengan nomor hadits 71 dan 72.
  2. Imam Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Shahihnya dan ditempatkan pada tema “al-iman” dengan nomor bab 7.
  3. Imam Turmuzi meriwayatkan dalam Sunannya dan ditempatkan dalam tema “al-qiyamah” dengan nomor bab 59.
  4. Imam Nasa’i meriwayatkannya dalam Sunannya dan ditempatkan dalam tema “al-iman” dengan nomor bab 19 dan 33. Hadits yang terdapat pada bab 19 mengalami pengulangan lafalnya.
  5. Imam Ibnu Majah meriwayatkannya dalam Sunannya dan ditempatkan dalam mukaddimah dengan nomor bab 9 dan pada tema “al-jana’iz” dengan nomor bab I.
  6. Imam al-Darimy meriwayatkannya dalam Sunannya dan ditempatkan pada tema “al-isti’dzan” dengan nomor bab 5 dan pada tema “ar-riqaq” dengan nomor bab 29.
  7. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkannya dalam Musnadnya dan ditempatkannya pada jilid I halaman 79, jilid 3 halaman 176, 206, 251, 272, 278, dan 289.

Langkah selanjutnya untuk mencapai kesempurnaan takhrij dengan membuka hadits tersebut pada masing-masing kitab induk yang telah disebutkan di atas. (Abu Muhammad Abdul Hadi, Terjemahan, 1994 : 61-66)

  1. 4. Al-Takhrij ‘an thariiqi ma’rifati maudhu’i al-hadits matnan wa sanadan (metode takhrij dengan cara mengetahui tema hadits). Menurut Mahmud Thahhan (metode ini digunakan untuk orang-orang yang mempunyai instink dalam menyimpulkan sebuah tema dari suatu hadits. Adapun kitab yang dapat membantu pelacakan hadits dengan metode ini dapat dibagi dalam tiga jenis :
    1. Al-Jawami’, al-mustakhrajat, al-mustadrakat, al-majami’, al-zawa’id, miftah kunuz al-sunnah, (jenis kitab yang membahas seluruh masalah keagamaan), seperti :
  1. Al-Jami’ al-shahih karya Bukhari
  2. Al-Jami’ al-shahih karya Muslim
  3. Al-jami’ Abdurrazaq
  4. Al-jami’ al-Tsauri
  5. Al-Mustakhraj ‘ala Shahihi al-Bukhari karya al-Ismai’li (371 H)
  6. Al-Mustakhraj Shahihi al-Bukhari karya al-Ghatrifi (377 H)
  7. Al-Mustakhraj Shahihi al-Bukhari karya al-Dzuhl (378 H)
  8. Al-Mustakhraj Shahihi al-Muslim karya Abu Uwanah al-Isfiraini  (310 H)
  9. Al-Mustakhraj Shahihi al-Muslim karya Abu Hamid al-Harawi       (355 H)
  10. Al-Mustadrak ‘ala Shahihain karya Abu Abdullah al-Hakim (305 H)
  11. Jaami’ al-ushulu min ahadits al-Rasul karya Abu al-As’adaat al-Ma’ruf Ibnu ‘Atsiir (606 H)
  12. Al-Jami’ bainal al-Usul al-Sunnah karya Razain bin Mu’awiyah al-Andalusi (505 H). (Mahmud al-Thahhan, 1991: 95-102)
  1. Al-Sunan, al-Mushannafat, al-Muwaththa’at, al-Mustakhrajat a’ala al-Sunnah (jenis kitab yang membahas sebagian besar masalah keagamaan) seperti :
    1. Sunan Abu Dawud al-Sijistani (275 H)
    2. Sunan al-Nasa’I (303 H)
    3. Sunan Ibn Majah (275 H)
    4. Sunan al-Syafi’I (204 H)
    5. Sunan al-Baihaqi (458 H)
    6. Sunan al-Daruquthni (385 H)
    7. Sunan al-Darimy (255 H)
    8. Al-Mushannaf karya Abu Bakr Abdullah bin Muhammad Abu Syaibah al-Kufi (235 H)
    9. Al-Mushannaf karya Abu Bakr Abdul Razaq bin Hammami al-Shana’i (211 H)
    10. Al-Mushannaf karya Baqi’ bin Mukhallad al-Qurthubi (276 H)
    11. Al-Mushannaf karya Abu Sufyan Waki’ bin al-Jarrah al-Kufi  (196 H)
    12. Al-Mushannaf karya Abu Salmah al-Bishri (167 H)
    13. Al-Muwaththa’ karya Imam Malik (179 H)
    14. Al-Muwaththa’ karya Abu dzi’b Muhammad bin Abdurrahman (185 H)
    15. Al-Muwaththa’ karya Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad al-Marwazi al-Ma’rufi (293 H). (Mahmud al-Thahhan, 1991: 115-119 )
  1. Al-Ajza’, al-Targhib wa al-Tarhib, al-Zuhd wa al-Fadla’il wa al-Adab wa al-Akhlaq, al-Ahkam (Kitab yang membahas topik-topik tertentu dari masalah keagamaan) kitab-kitab jenis ini diantaranya :
    1. Juz’ ma rawahu Abu Hanifah ‘an al-Shahabah karya Abu Ma’syar Abdul Karim bin Abdul al-Shamad al-Thabari (178 H).
    2. Al-Targhib wa Tarhib karya Zakiy al-Din Abdul Azim bin Abdul Qawi al-Munziri (656 H).
    3. Al-Targhib wa Tarhib karya Abu Khafd Umar bin Ahmad al-Ma’ruf  Ibnu Syaibah (385 H).
    4. Kitab Zuhd karya Imam Ahmad Ibnu Hanbal (241 H).
    5. Kitab Zuhd karya Imam Abdullah bin al-Mubarak (181 H)
    6. Kitab Zuhd wa al-Du’a karya Abu Yusuf Ya’kub bin Ibrahim al-Kufi (182 H)
    7. Kitab fadhail al-Qur’an karya Imam al-Syafi’i
    8. Kitab fadhail al-Shahabah karya Abu Na’im al-Ashbihani (430 H)
    9. Kitab Riyaadl al-Shalihin karya Imam al-Nawawi (676 H)
    10. Al-Ahkam  al-Kubra karya Abu Muhammad Abd al-Haq bin al-Rahman al-Asyabili (581 H)
    11. Al-Ahkam  al-Sughra karya Abu Muhammad Abd al-Haq bin al-Rahman al-Asyabili (581 H).
    12. Al-Ahkam karya Abd al-Ghani bin Abdul wahid al- Magdisi    (600 H).
    13. ‘Umdah al-Ahkam karya al-Ghani bin Abdul wahid al- Magdisi (600 H). (Mahmud al-Thahhan, 1991: 121-124 )
  1. 5. Al-Takhrij ‘an thariiqi al-nazari fi haali al-hadits matnan wa sanadan (metode takhrij dengan cara melihat sifat hadits baik matan maupun sanadnya) menggunakan metode takhrij hadits yang terakhir ini haruslah memusatkan perhatian pada sifat hadits yang terdapat pada matan dan sanadnya. Adapun kitab-kitab yang disusun untuk membantu penelusuran hadits dengan menggunakan metode ini diantaranya :
    1. Jenis kitab yang didasarkan pada matan atau kitab al-Maudhu’at seperti :
      1. Al-Maudhu’ah al-Shugra karya Syekh Ali al-Qari al-Harawi  (1014 H).
      2. Tanzih al-Syari’ah ‘an al-Ahadits al-Syanii’ah al-Maudhu’ah karya Abu Hasan Ali bin ‘Iraq al-Kinani (963 H).
  2. Jenis kitab al-Qudshiyat, seperti :
    1. Misykat al-Anwar fi ma ruwiya ‘an Subhanahu wa ta’ala min al-Akhbar karya Muhyiddin Muhammad Ibnu Ali bin Arabi al-Hatimi al-Andalusi (638 H).
    2. Al-Ithaf al-Saniyyah bi al-Ahadits al-Qudsiyyah karya Seykh Abdurra’uf al-Manawi (1031).
  3. Jenis kitab yang didasarkan pada sanad hadits
    1. Kitab Rawayah al-Abaa’ ‘an al-Anbiya’karya Abu Bakr Ahmad Bin Ali al-Khatib al-Baghdadi (463 H).
    2. Kitab al-Manah al-Salsalah fi al-Ahadits al-Musalsalah Karya Muhammad bin Abd al-Baqi al-Ayyubi (1364 H).

(Mahmud al-Thahhan, 1991: 129-131 )

E. Kelebihan dan Kelemahan Metode-metode Takhrij Hadits

Masing-masing metode dalam takhrij hadits memiliki kelebihan dan kelemahan, berikut ini penulis mencoba menjelaskan kelebihan dan kelemahan ke lima metode takhrij hadits tersebut :

  1. 1. Al-Takhrij ‘an thariiqi ma’rifati raawi al-hadits min al-sahaabati (metode takhrij dengan jalan mengetahui rawi hadits dari sahabat atau proses penelusuran hadits yang didasarkan pada pengetahuan akan rawi atau di tingkat sahabat).

Kelebihan :

Dengan menggunakan metode ini akan lebih mudah dan cepat dalam melakukan proses penelusuran atau mentakhrij hadis yang diinginkan.

Kelemahan :

Jika terdapat persamaan makna pada awal matan hadits dan awal kata hadits yang ingin ditakhrij berbeda maka akan mengalami kesulitan, misalnya matan hadits yang diawali dengan kata “idza ataakum” yang akan ditakhrij, kemudian kita lupa dan hanya mengingat kata-kata “lau ja’akum”, maka hal ini akan menyulitkan dalam melakukan proses takhrij hadits, jadi harus sesuai dengan lafal yang akan ditakhrij. (Abu Muhammad Abdul Mahdi, Terjemahan, 1994: 17).

  1. 2. Al-Takhrij ‘an thariiqi ma’rifati awwalu lhafzhi min matni al-hadits (Metode takhrij dengan jalan mengetahui lafaz awal suatu matan hadits).

Kelebihan :

  1. Metode ini memperpendek masa proses takhrij dengan diperkenalkannya ulama hadits yang meriwayatkannya beserta kitab-kitabnya.
  2. Metode ini memberikan manfaat yang tidak sedikit, diantaranya memberikan kesempatan melakukan persanad. Dan juga faedah-faedah lainnya yang disebutkan oleh para penyusun kitab-kitab takhrij dengan metode ini.

Kelemahan :

  1. Metode ini tidak dapat dipergunakan dengan baik tanpa mengetahui terlebih dahulu perawi pertama hadits yang dimaksud.
  2. Terdapat kesulitan-kesulitan mencari hadits diantara yang tertera dibawah setiap perawi pertamanya. Hal ini karena penyusunan hadits-haditsnya diantaranya didasarkan perawi-perawinya yang dapat menyulitkan maksud tujuan.

(Abu Muhammad Abdul Mahdi, Terjemahan, 1994: 78-79).

  1. 3. Al-Takhrij ‘an thariiqi ma’rifati kalimatin yaqillu dauraanuha ala al-alsinati min aiyu juz’in min matni al-hadits (metode takhrij yang disarkan pada lafal-lafal tertentu dalam matan hadits, terutama lafal-lafal yang gharib atau lafal-lafal yang asing untuk mempercepat proses takhrij).

Kelebihan :

  1. Metode ini mempercepat pencarian hadits-hadits.
  2. Penyusun kitab-kitab takhrij dengan metode ini membatasi hadits-haditsnya dalam beberapa kitab induk dengan menyebutkan nama kitab, juz, bab dan halaman.
  3. Memungkinkan pencarian hadits melalui kata-kata apa saja yang terdapat dalam matan hadits.

Kelemahan :

  1. Keharusan mempunyai kemampuan bahasa arab beserta perangkat ilmu-ilmunya yang memadai. Karena metode ini menuntut untuk mengembalikan setiap kata-kata kuncinya kepada kata dasarnya.
  2. Metode ini tidak menyebutkan perawi dari kalangan sahabat. Untuk mengetahui nama sahabat yang menerima hadits Nabi SAW, mengharuskan kembali kepada kitab-kitab aslinya setelah mentakhrijnya dengan kitab ini.
  3. Terkadang suatu hadits tidak didapatkan dengan satu kata sehingga orang yang mencarinya harus menggunakan kata-kata yang lain. (Abu Muhammad Abdul Mahdi, Terjemahan, 1994: 60-61).
  1. 4. Al-Takhrij ‘an thariiqi ma’rifati maudhu’i al-hadits matnan wa sanadan (metode takhrij dengan cara mengetahui tema hadits).

Kelebihan :

  1. Metode dengan mengetahui tema hadits tidak membutuhkan pengetahuan-pengetahuan lain di luar hadits, seperti keabsahan metode pertamanya, sebagaimana metode-metode sebelumnya, pengetahuan bahasa arab dengan perubahan-perubahan kata dan pengenalan perawi teratas sebagaimana metode sebelumnya. Yang menjadi inti dari metode ini adalah diharuskan kemampuan untuk menentukan tema dalam hadits yang akan ditakhrij.
  2. Metode ini mendidik ketajaman pemahaman hadits pada para peneliti hadits.
  3. Metode ini juga memperkenalkan kepada para peneliti hadits yang dicarinya dan hadits-hadits yang senada dengannya.

Kelemahan :

  1. Terkadang untuk menentukan tema hadits seringkali mengalami kesulitan oleh seorang pentakhrij, akibatnya metode ini justru akan mempersulit proses takhrij.
  2. Seringkali terjadi pemahaman antara para penyusun kitan dengan metode ini tidak sepham dengan para pentakhrij yang menggunakan kitab-kitab takhrij dengan metode ini. sebagai akibatnya penyusun kitab meletakkan hadits pada posisi yang tidak diduga oleh pentakhrij hadits. Misalnya, hadits yang semula oleh pentakhrij disimpulkan sebagai hadits peperangan ternyata oleh penyusun kitab diletakkan pada hadits tafsir. (Abu Muhammad Abdul Mahdi, Terjemahan, 1994: 122-123).
  1. 5. Al-Takhrij ‘an thariiqi al-nazari fi haali al-hadits matnan wa sanadan (metode takhrij dengan cara melihat sifat hadits baik matan maupun sanadnya).

Kelebihan :

  1. Dapat mempermudah proses takhrij. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar hadits-hadits yang dimuat dalam karya tulis berdasarkan sifat-sifat hadits sangat sedikit, sehingga tidak memerlukan pemikiran yang lebih rumid.

Kelemahan :

  1. Wilayah cakupan metode ini sangat terbatas karena sedikitnya hadits-hadits yang dimuat tersebut. Hal ini akan tampak lebih jelas ketika melihat kitab-kitab takhrij dengan menggunakan metode ini. (Abu Muhammad Abdul Mahdi, Terjemahan, 1994: 122-123).
  1. F. Mengenal Takhrij Hadis Digital

Melakukan penelitian terhadap hadits-hadits Rasulullah SAW, mempunyai banyak faedah dan manfaat. Ulama-ulama terdahulu telah menunjukkan kelasnya yang luar biasa sebagai intelektual-intelektual hadits dalam menghimpun, meneliti dan melakukan telaah terhadap ribuan Hadits Nabi SAW yang diabadikan dalam karya-karya mereka, dan merupakan khazanah ilmu pengetahuan ummat islam khususnya di bidang hadits. Seiiring dengan perkembangan zaman, meminjam istilah A. Hasan Asy’ari Ulama’i “kesibukan dunia ilmu pengetahuan” yang kemudian memberikan inspirasi kepada para scientis berupaya melakukan inovasi-inovasi dalam memudahkan penelusuran hadits secara lebih efektif dan efisien. Ulama-ulama Muta’akhirin selanjutnya melakukan terobosan dengan memberikan “sentuhan teknologi” dalam melakukan takhrij hadits melalui perangkat CD hadits yang telah di desain sedemikian rupa.

Berikut ini penulis akan menggambarkan secara ringkas langkah-langkah takhrij hadits digital yang penulis kutip dari A. Hasan Asy-ari al-Ulama’i (2006: 79-80) dalam bukunya “Melacak Hadits Nabi SAW, Cara Cepat Mencari Hadits dari Manual Hingga Digital”. Berikut ini adalah langkah-langkahnya :

  1. Penelusuran hadits dengan menggunakan CD Hadits Nabi SAW, dapat dilakukan dengan berbagai macam cara: (sebagai catatan bahwa terlebih dahulu akan ditawarkan pilihan kitab rujukan yang dikehendaki, dalam hal ini CD Hadits yang tersedia membatasi pada 9 kitab hadits al-mu’tabar yaitu : Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, jami’ al-Turmudzi, Sunan abi Dawud, Sunan al-Nasa’I, Sunan Ibn Majah, Sunan al-Darimi, Muwaththa’ Imam Malik, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal.
  2. Penelususran hadits berangkat dari lafadz yang dikenal, contoh mencari hadits yang di dalamnya terdapat lafadz (وقنت رسول الله) maka dapat dilakukan dengan dua cara yaitu melalui fasilitas pilihan huruf yang telah disediakan CD Hadits, atau dengan menuliskan sendiri lafadz itu pada tempat yang telah disediakan.
  3. Penelusuran Hadits Nabi SAW, berangkat dari bab yang umumnya memuat hadits tersebut, misalnya dibuka di bab qunut itu sendiri, bila tidak dijumpai, maka dapat diakses pada bab shalat, demikian seterusnya.
  4. Penelusuran hadits berangkat dari rawi yang paling atas, dalam hal ini lebih rumit karena harus mencari lebih detail haditsnya, misalnya hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Umar yang tidak hanya berbicara masalah qunut saja, tetapi bercampur dengan hadits-hadits tema lainnya.
  5. Penelusuran melalui nomor hadits, dan
  6. Penelusuran hadits melalui tema-tema yang disediakan CD hadits Nabi SAW, itu sendiri.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Takhrij Hadits sebagai bagian dari ilmu hadits merupakan produk ulama terdahulu adalah juga bagian dari khazanah intelektual dan keilmuan yang patut dilestarikan dan dikembangkan. Mereka (para ulama terdahulu) telah melakukan “ijtihad intelektual” dalam tradisi ilmu hadits sehingga takhrij hadits sebagai bagian kecil dari ilmu tersebut ada dihadapan kita. Karena dengan takhrij hadits telah banyak memberikan manfaat dan faedah sebagaimana dijelaskan pada bagian awal makalah ini, dengan  metode takhrij,  samudra hadits peninggalan Rasulullah SAW. yang begitu luas dan banyak dapat ditelusuri, dilacak dan diteliti dengan mudah oleh siapa saja yang ingin mendapat hikmah dari butiran-butiran mutiara hadits. Metode-metode takhrij hadits dengan kekurangan dan kelebihannya pada masing-masing metode telah saling melengkapi antara metode yang satu dengan yang lainnya dalam proses pelacakan dan penelusuran hadits.

Akhir-akhir ini telah banyak kajian ilmu agama islam yang mendapat “sentuhan-sentuhan tangan teknologi” termasuk takhrij hadits. Para punggawa ilmu hadits generasi sekarang, bekerja sama dengan para sicientis telah menciptakan dan mengembangkan metode takhrij hadits digital. Perangkat CD hadits dapat diakses oleh siapa saja yang ingin melakukan penelusuran dan penelitian hadits, Dengan metode takhrij hadits digital akan lebih mempermudah lagi penelusuran dan pelacakan hadits Nabi SAW.

Demikianlah catatan kecil dari penulis tentang “takhrij hadits, urgensi dan metodenya” yang banyak penulis kutip dari ulama-ulama hadits dan para pemerhati hadits. Semoga tulisan sederhana ini dapat memberikan informasi tentang takhrij hadits. wallahu a’lam bissawaab.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Muhammad Abdul Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi, 1994, Thuruq Takhrij Hadits Rasulillah SAW, Semarang: Terjemahan, Dina Utama Semarang

Hasan Asy’ari Ulama’I, A, 2006, Melacak Hadits Nabi SAW, Cara Cepat Mencari Hadits dari    Manual hingga Digital, Semarang: Rasa’il

Louis Ma’luf, 1986, al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam, Beirut: Dar al-Masyariq

Mahmud al-Thahhan, 1991 M/1412 H, Usul al-Takhrij wa Dirasat al-Asanid, Riyadh, Maktabah al-Ma’arif

M. Syuhudi Ismail, 1992, Metodologi Penelitian Hadits Nabi, Jakarta: Bulan Bintang

Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, 2003, Jakarta: Prenada Media

Noor Sulaiman PL, 2008, Antologi Ilmu Hadits, Jakarta: GP Press

Said bin Abdillah bin al-Hamid, 2000, Thuruqu Takhrij al-Hadits, Riyadh: Daru Ulum al-Sunnah Linnasir