benarkah filsafat mengantarkan ibnu rusyd menjadi kafir? tulisan sederhana ini akan mencoba menjawabnya

FILSAFAT IBNU RUSYD

“BENARKAH MEMBUATNYA MENJADI KAFIR?”

BAB I: PENDAHULUAN

*Oleh : H. Minanurrahman

  1. A. Latar Belakang

Pada dasarnya, setiap ilmu mempunyai dua macam obyek yaitu obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh manusia adalah obyek material ilmu kedokteran. Adapun obyek formal adalah cara pandang tertentu tentang obyek material tersebut, misalnya pendekatan empiris dan eksperimen dalam ilmu kedokteran.

Filsafat sebagai proses berfikir yang sistematis juga memiliki obyek material dan obyek formal. Obyek material filsafat adalah segala yang ada, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Ada yang tampak adalah dunia empiris, sedangkan ada yang tidak tampak adalah dunia metafisika. Kedua hal itulah yang akan dikupas oleh filsafat melalui cara pandangnya sendiri terhadap dunia empiris atau metafisika, cara pandang yang merupakan obyek formal filsafat adalah cara pandang yang menyeluruh, radikal, dan obyektif tentang segala yang ada, dengan menggunakan pendekatan rasional ( Dalil Burhani ) untuk mencapai kepada hakikat.[1]

Dalam sebuah analogi imajiner, manusia menyapa hujan, sungai, danau, dan embun, mereka menjawab; ”aku bukan hujan, aku bukan sungai, aku juga bukan danau, atau embun. Aku adalah lautan. Karena kasihku, karena segalaku, aku melimpahkannya kelangit untuk menyiram bumi, aku mengalir dan meresap kedaratan agar  tumbuh segala tumbuhan,  juga aku berada didalam udara dimana engkau melihatnya beda”[2] Yang ingin dikemukakan dengan analogi ini adalah bahwa hujan, sungai, danau, dan embun adalah mode of being daripada lautan yang maha luas dan dalam, terlepas apakah ia berwujud hujan, sungai, danau atau embun. Kira-kira beginilah jalan pikiran para filosof muslim termasuk Ibn Rusyd (w. 1198 M), yang  dengan filsafatnya yang sangat kontroversial itu, ia menganggap alam semesta ini adalah “cara” wujud Allah. Maka alam inipun kekal sebagaimana Allah,  baginya hakekat wujud adalah satu, sementara yang lain adalah derivasi dari “Yang satu”, Filsafat yang diserap dari pemikiran Aristoteles ini sangat baik didiskripsikan oleh Ibn Rusyd, sehingga beliau mendapat gelar “The Famous Commentator of Aristotle[3],   Ini salah satu dar 3 pemikiran para filosof muslim tak terkecuali Ibnu Rusyd, yang karenanya dia dianggap murtad oleh Ulama-ulama Sufi. Diantara yang paling berpengaruh dan mengakibatkan suramnya wajah filsafat Islam saat itu adalah kritik Abu Hamid Al-Ghazali (w.1111 M) terhadap para filosof muslim dalam bukunya Tahafutul Falasifah, dan Almunqidz min Al-Dlolal. Namun dalam kitab Tahafutut Tahafut, Ibnu Rusyd membela filsafat Yunani dan  menjawab semua tuduhan itu, Manakah yang benar?  Sesungguhnya dimana titik perbedaan mereka? Dan bisakah dipertemukan, atau dengan kata lain adakah titik persamaan diantara mereka. Dalam tulisan ini akan saya coba membahasnya, meskipun bekal pengetahuan amatlah terbatas

  1. B. Ruang Lingkup Pembahasan

Ruang lingkup pembahasan dalam tulisan ini adalah filsafat Ibn Rusyd, yang karena harus menyebut hal-hal lain yang perlu maka ada  beberapa sub bahasan yaitu :

  1. Pengertian  filsafat
  2. Biografi Ibnu Rusyd
  3. Karya – karya Ibn Rusyd
  4. Pandangan-pandangan filsafat Ibn Rusyd
  5. Jawaban Ibnu Rusyd terhadap kritik al Ghazali
  6. Analisa dan Kesimpulan
  1. C. Tujuan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk :

  1. Memenuhi tugas dari Dosen Pembimbing mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam
  2. Memaparkan sosok Ibn Rusyd sebagai salah satu Filosof Islam terbesar
    1. Mengulas pemikiran filsafat Ibn Rusyd mengenai tiga hal yang dituduh menyimpang dari aqidah Islam
    2. Menambah wawasan penulis dalam bidang filsafat

BAB II: PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian  Filsafat

Filsafat merupakan kata majemuk berasal dari bahasa yunani philosophia atau philosophos; philos berarti cinta  ( loving ) dan sophia/ shopos berarti pengetahuan atau kebijaksanaan  ( wisdom)[4] . Jadi secara sederhana filsafat berarti cinta kepada pengetahuan atau kebijaksanaan. Pengertian cinta disini dalam arti yang seluas-luasnya yaitu ingin dan dengan keinginan yang kuat seseorang mendalami dan mencapai hal yang diinginkan. Demikian pula yang dimaksud dengan pengetahuan adalah mengetahui secara mendalam sampai ke akarnya, hakekatnya.

Mayoritas ahli sejarah filsafat mengatakan bahwa orang pertama yang menggunakan kata filsafat adalah Pythagoras (w.497 SM). Kata ini dia gunakan sebagai reaksi kepada orang yang menamakan dirinya ahli pengetahuan. Manusia, menurutnya, tidak akan mampu mencapai pengetahuan secara keseluruhan walaupun akan mengahabiskan semua umurnya. Oleh sebab itu yang pantas bagi manusia adalah pecinta pengetahuan ( filosof ) sehingga terkenal ungkapan :

لست حكيما لأن الحكمة لا تضاف لغيرالإله وما انا إلا فيلسوف محب الحكمة

Saya bukanlah ahli pengetahuan, karena ahli pengetahuan adalah khusus bagi Tuhan saja. Saya adalah filosof yakni pecinta ilmu pengetahuan .[5]

Adapun  yang menjadi obyek study filsafat ada tiga yaitu :

  1. Al-Wujud atau ontologi, mencakup segala yang ada dan yang mungkin ada, pengertian segala yang ada mencakup alam ( fisika ) maupun metafisika, sesuatu yang adanya tidak dalam bentuk nyata, masalah tuhan termasuk dalam pengertian ini. Oleh karena itu ketika filsafat masuk dalam ranah teologi, terjadi proses dialog yang cukup mendalam oleh karena pilar utama pemikiran filsafat adalah pendekatan rasionalitas, dengan mengedepankan dalil-dalil burhani, sedangkan masalah ketuhanan menurut pendekatan teologi tidak mungkin bisa dijangkau oleh rassionalitas akal manusia.
  2. Al-Ma’rifat atau epistimologi. Pembahasannya berkaitan dengan hakekat pengetahuan dengan cara bagaimana atau dengan sarana apa pengetahuan dapat diperoleh. Pembicaraan mengenai pengetahuan ini ada dua teori yaitu : Pertama teori idealisme yang berpandangan bahwa pengetahuan adalah gambaran akal tentang suatu hal menurut akal itu sendiri. Jadi pengetahuan ada didalam idea bukan didalam forma misal sebuah “kapurtulis”  adalah  apa yang tergambar dalam “idea” manusia, seandainya ia dihancurkan sekalipun maka ia tetaplah sebuah “kapurtulis” meskipun wujudnya beda. Teori ini dikemukakan oleh Plato. Kedua teori Realisme yang berpandangan menentang teori idealisme Plato. Teori ini berpandangan bahwa pengetahuan adalah gambaran akal yang sesuai dengan apa yang diluar akal. Jadi pengetahuan menurut teori ini apa yang diketahui yang sesuai dengan kenyataan, teori ini diusung oleh Aristoteles murid Plato. jadi “kapurtulis” jika telah hancur maka tidak lagi diketahui sebagai “kapurtulis”.[6]
  3. Al-Qoyyim atau aksiologi. Pembahasannya berkaitanm dengan hakikat nilai. Dalam menentukan hakikat baik atau buruk dibahas dalam filsafat etika, dalam menentukan hakikat benar atau salah dibahas dalam filsafat logika, sedangkan dalam menentukan hakikat keindahan dibahas dalam filsafat estetika, yang ketiga-tiganya berlandaskankan kepada nalar rasional.[7]

Di dunia Islam Filsafat mengalami kemajuan pesat pada Zaman Dinasti Bani Abbas. Di Baghdad sebagi Ibu Kotanya muncul gerakan penerjemahan buku-buku yunani kedalam bahasa arab atas dorongan kholifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) kegiatan ini meningkat pada masa pemerintahan Al-makmun (813-833 M). Pada masa itu untuk pertama kali lahir filosof Islam tersohor Al-Kindi, kemudian disusul beberapa filosof antara lain  Al Farabi, Ibnu Arabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih,  dan lain-lain. Di Maghribi ( Barat ) Muncul Ibnu Bajah,  Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusyd.

  1. B. Biografi Ibnu Rusyd

Nama lengkapnya adalah  Abu Al-Walid Muhammad ibnu Ahmad ibnu Muhammad ibnu Rusyd, beliau dilahirkan di Cordova, Andalus pada tahun 510H/1126M[8], sekitar 15 tahun setelah wafatnya Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali. Ia lebih populer dengan sebutan Ibnu Rusyd. Orang barat menyebutnya dengan nama Averrois. Sebutan ini sebenarnya lebih pantas untuk kakeknya. Keturunannya berasal dari keluarga terhormat yang terkenal sebagai tokoh keilmuan. Kakek dan ayahnya mantan hakim di Andalus dan ia sendiri pada tahun 565H/1169 M diangkat pula menjadi hakim di Seville dan Cordova. Karena prestasinya yang luar biasa dalam ilmu hukum, pada tahun 1173  ia dipromosikan menjadi ketua Mahkamah Agung, Qodhi al-Qudhot di cordova.

Ibnu Rusyd tumbuh dan hidup dalam keluarga yang besar sekali ghirohnya pada ilmu pengetahuan. Hal ini merupakan salah satu faktor yang ikut melempangkan jalan baginya menjadi ilmuwan. Faktor lain yang lebih dominan bagi keberhasilannya adalah ketajaman berpikir dan kegeniusan otaknya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika ia dapat mewarisi sepenuhya intelektualitas keluarganya dan berhasil menjadi seorang sarjana allround yang menguasai berbagai disiplin ilmu, seperti hukum, filsafat, kedokteran, astronomi, sastra Arab, dan lainnya.[9]

Suatu hal yang sangat mengagumkan ialah; hampir seluruh hidupnya ia pergunakan untuk belajar dan membaca. Menurut Ibnu Abrar, -walaupun rasanya terlalu fantastis-  sejak mulai berakal Ibnu Rusyd tidak pernah meninggalkan berpikir dan membaca,  kecuali pada malam ayahnya meninggal dan malam perkawinannya.[10]

Khalifah Abu Ya’kub Abu Muhammad ‘Abd Al-Mu’min dari Dinasti Al-Muwahhid sangat kagum atas keluasan pandangan dan kedalaman  filsafat Ibnu Rusyd ketika ia diundang ke istana khalifah atas prakarsa Ibnu Thufail sebagai guru dan sahabatnya. Ia juga berhasil membuat komentar terhadap filsafat Aristoteles: pendek, sedang, dan panjang. Demikian bagus dan mengesankan pemahamannya tentang filsafat Aristoteles  sehingga orang tidak perlu membaca naskah aslinya. Cukup membaca komentar Ibnu Rusyd, orang akan memahaminya bagaikan membaca naskah aslinya. Padahal, ia tidak menguasai bahasa Yunani, yakni bahasa yang dipakai Aristoteles dalam karyanya. Untuk keahliannya ini, ia layak diberi gelar kehormatan The Famous Comentator of Aristotle. Gelar ini pertama kali diberikan oleh Dante Alegieri, pengarang buku Divine Comedy.[11] Ini dapat dijadikan bukti tingginya kemampuan Ibnu Rusyd dalam berfilsafat dan tidak ada duanya dalam mengomentari filsafat Aristoteles.

Kesibukan Ibnu Rusyd sebagai pejabat negara,-Ketua Mahkamah Agung, guru besar, dan dokter istana-  menggantikan Ibnu Thufail yang sudah tua, tidak menghalanginya dari menulis, bahkan ia sangat produktif dengan karya-karya ilmiah dalam beberapa bidang ilmu pengetahuan. Karya-karyanya ini menjadi rujukan pada setiap bidangnya oleh para ahli. Hal ini merupakan indikasi keluasan wawasan dan kedalaman ilmunya.

Kariernya Ibnu Rusyd tidaklah mulus dan lancar. Ia sendiri tidak lepas dari pengalaman pahit yang menimpa para pemikir kreatif dan inovatif terdahulu. Memang saat permulaan pemerintahan Khalifah Abu Ya’kub Ibnu Yusuf yang menggantikan ayahnya, Yusuf Abu Muhammad ‘Abd Al-Mukmin, Ibnu Rusyd tetap menerima kehormatan dan priviliasi yang diberikan kepadanya. Akan tetapi pada tahun 1195 M. ia dituduh kafir, diadili dan dihukum buang ke Lucena, dekat Cordova dan dicopot dalam segala jabatannya. Lebih dari itu, semua bukunya dibakar, kecuali yang bersifat ilmu pengetahuan murni (sains), seperti kedokteran, matematika, dan astronomi.[12] Menurut Nurcholish Madjid, terjadinya tindakan khalifah yang tragis ini hanya berdasarkan perhitungan politis. Suasana yang mencekam ini dimanfaatkan oleh ulama-ulama konservatif dengan kebencian dan kecemburuan yang terpendam selama ini terhadap kedudukan Ibnu Rusyd yang tinggi.

Untunglah masa getir yang dialami Ibnu Rusyd ini tidak berlangsung lama (satu tahun). Pada tahun 1197 M, khalifah mencabut hukumannya dan posisinya direhabilitasi kembali. Namun, Ibnu Rusyd tidak lama menikmati keadaan tersebut dan ia meninggal pada tanggal 10 Desember 1198 M/9 Shafar 595 H di Marakesh dalam usia 72 tahun menurut perhitungan Masehi dan 75 tahun menurut perhitungan tahun Hijrah.[13]

  1. Pandangan filsafat Ibn Rusyd

Sebenarnya, Ibnu Rusyd terlebih dahulu dikenal sebagai ahli fiqih dengan posisinya sebgai Qodli al-Qudlot di Cordoba tahun 1173 barulah ketika ia berkenalan dengan kholifah Abu Ya’qub, dia mulai  dikenal sebagai filosof ulung terutama jika mengulas filsafat Aristoleles. Dia mengarang buku-buku kedokteran berjudul Al-Kulliyat fi Al-Thibb, juga buku astronomi yang teks aslinya terbakar saat para filosof mendapat tentangan keras dari kelompok teolog muslim yang waktu itu dekat dengan penguasa. Namun manuskrip dalam bahasa Ibrani masih tersimpan sampai sekarang.[14] Dalam berfilsafat Ibn Rusyd selalu menyandarkan pemikirannya pada Ilmu pengetahuan, dan sangat mengagumi Aristoteles yang menganut aliran rasionalisme, bahkan ia mengatakan bahwa Aristoteles telah mencapai puncak tertinggi yang mungkin bisa dicapai oleh akal manusia,   sehingal dia dikenal sebagai komentator Aristoteles dan penaganut filsafat rasionalisme.

  1. Karya – karya Ibnu Rusyd

Telah dikemukakan bahwa Ibnu Rusyd seorang pengarang yang produktif. Salah satu kelebihan karya tulisnya ialah gaya penuturan yang mencakup komentar, koreksi, dan opini sehingga karyanya lebih hidup dan tidak sekadar deskripsi belaka. Namun, amat disayangkan karangannya sulit ditemukan dan sekiranya ada sudah diterjemahkan orang kedalam bahasa Latin dan Hebrew (Yahudi), bukan dalam bahasa aslinya (Arab). Ini semua akibat tragedi nista yang menimpa dirinya ketika diadili dan dibuang ke Lucena dimana buku-bukunya yang mengandung filsafat dimusnahkan. Tragedi kedua yang lebih fatal disaat jatuhnya Andalus ketangan Ferdinant II dan Isabella. Jendral Ximenes yang fanatik dengan kemenangan Kristen membakar habis buku-buku yang berbau Arab dan sudah barang tentu buku-buku Ibnu Rusyd ikut di dalamnya.

Kendatipun demikian, sampai hari ini karya tulis Ibnu Rusyd yang masih dapat kita temukan adalah sebagai berikut.

  1. Fashl al-Maqal fi ma bain al-Hikmat wa al-Syari’ah min al- Ittishal, berisikan         korelasi antara agama dan filsafat .
  2. Al-Kasyf’an Manahij al-Adillat fi ‘Aqa’id al-Millat, berisikan kritik terhadap metode para ahli ilmu kalam dan sufi.
  3. Tahafut al-Tahafut, berisikan kritikan terhadap karya Al-Ghazali yang berjudul Tahafut al-Falasifat.
  4. Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid, Berisikan uraian-uraian dibidang fiqih.
  5. Jawaban Ibnu Rusyd terhadapAl-Ghazali

Menurut Al-Ghazali dalam kitab Asl-Munqidz min Ad-Dlolal, Filosof terbagi menjadi 3 golongan yaitul; golongan Dahriyyin (materealis), Thobiiyyin (Naturalis) Ilahiyyin ( ketuhanan).[15] Filosof ilahiyyin seperti Socrates, Plato dan Aristoteles telah menafikan/ menyangkal dua golongan filosof sebelumnya. Selanjutnya filsafat mereka dibawa olehAl-Farabi, Ibnu Sina dan lain lain dan disebarluaskan di dunia Islam. Selanjutnya filsafat tersebut oleh alghazali ada yang diterima yaitu yang menyengkut metematika, fisika, kimia, dan lain-lain, sedang yang menyangkut ketuhanan ditolak dengan dianggap sebagai bid’ah (heteredoksi) bahkan kufur, sebagaimana dia tulis dalam  kitab tahafutul falasifah, ia memandang para filosof sebagai Ahl –Al-Bid’ah, bahkan kafir. Kesalahan para filosof dalam bidang ketuhanan ada duapuluh poin, tiga diantaranya menyebabkan mereka menjadi akfir[16] yaitu; masalah qidamnya alam, masalah ketidak tahuan Asllah tentang hal-hal juz’iyyat, dan masalah kebangkitan manusia bukan secara jasmani, namun hanya ruhani.

  1. Masalah qidamnya alam

Menurut Al-Ghazali Alam diciptakan dari tiada menjadi ada. Pemikiran seperti inilah yang memastikan adanya pencipta. Yang ada tidak butuh kepada yang mengadakan. Sementara filosof muslim memandang bahwa alam ini sudah ada sejak zaman azali Allah menciptakabn alam ini bukan dari tiada tapi dari ada.[17]

Menurut Ibnu Rusyd tidak ada adalah tidak ada, ada adalah ada, masing-masing tidak bisa menggantikan posisi lainnya, mustahil bagi Allah mencipta sesuatu yang tiada. Jadi Allah mencipta alam bukan dari tiada, tapi dari ada, Allah merubah bentuk menjadi alam seperti ini, Ibnu Rusyd menyandarkan pendapatnya ini dengan QS Al-Anbiya 30 :

أولم يرى الذين كفروا أن السموات والأرض كانتا رتقا ففتقناهما،وجعلنامن الماء كل شيئ حي، أفلايؤمنون

Artinya : Dan apakah orang oyang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi keduanya dahulu adalah suatu yang padu. Kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan air, kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka mengapakah mereka tiada juga beriman.

QS. Hud:7

وهو الذي خلق السموات والأرض في ستة أيام وكان عرشه على الماء ليبلوكم أيكم أحسن عملا,

Artinya : Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah arsyNya diatas air, agar dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya.

QS. Fusshilat : 11

ثم استوى الى السماء وهي دخان فقال لها وللأرض ائتيا طوعا أو كرها ، قالتا أتينا طائعين

Artinya : Kemudian Dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: datanglah kamu keduanya menurut perintahku dengan suka hati atau terpaksa. Keduanya menjawab : Kami datang dengan suka hati.

QS. Al-Mu’minun : 12

ولقد خلقنا الإنسان من سلالة من طين

Artinya : Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati dari tanah

Dari ayat-ayat tadi Ibn Rusyd menyimpulkan bahwa dalam mencipta Allah selalu menyebut sesuatu sebagai asal mula penciptaannya. Jadi sebelum alam ini diciptakan, sudah ada sesuatu yang lain, yang didalam ayat-ayat tadi terdapat kata ماء  (air) dan دخان  ( asap ). Dengan demikian kata Ibnu Rusyd, pendapat filosof muslimlah yang sesuai dengan ayat Al-Qur’an, sedangkan pendapat Al-Ghazali dan para teolog muslim tidak sesuai dengan arti lahir ayat Al-Qur’an.

  1. Tuhan tidak mengetahui hal-hal juziyyat

Menurut Al-Ghozali para filosof muslim berpendapat bahwa Allah tidak mengetahui yang parsial dialam, padaha;l dalam QS Yunus ayat 61 sbb.

وما يعزب عن ربك من مثقال ذرة في الأرض ولا في السماء ولا أصغر من ذلك ولا أكبر إلا في كتاب مبين.

Artinya : Dan tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar Dzarrah (atom) dibumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak ada yang lebih besar dari itu melainkan (semua) tercatat dalam kitab yang nyata.

Dalam menjawab tuduhan ini Ibn Rusyd menegaskan bahwa Al-Ghazali salah paham, sebab tidak ada para filosof muslim yang mengatakan demikian.  Yang dimaksudkan para filosof muslim adalah pengetahuan Allah tentang yang parsial dialam ini tidak sama dengan pengetahuan manusia. Pengetahuan Allah bersifat qadim yakni sejak azali.  Allah mengetahui segala yang terjadi di alam ini, betapapun kecilnya, sedang pengetahuan manusia bersifat baharu. Begitu pula pengetahuan Allah berbentuk sebab, sedangkan pengetahuan manusia berbentuk akibat.[18] Demikian juga menurut Ibn Rusyd, pengetahuan Allah tidak dapat dikatakan juz’i ( parsial) dan kullli ( umum), Juz’i adalah satuan yang ada di alam yang berbentuk materi dan materi hanya bisa ditangkap dengan panca indera. Kulli mencakup berbagai jenis (nau’). Kulli bersifat abstrak, yang hanya dapat diketahui melalui akal.[19] Allah bersifat immateri (rohani), tentu saja pada dzatNya tidak terdapat panca indera untuk mengetahui yang parsial. Oleh karena itulah, kata Ibn Rusyd, tidak ada para filosof muslim yang mengatakan ilmu Allah bersifat juz’i dan kulli.[20] Dari itu jelaslah perbedaan antara Al-Ghazali dan para filosof muslim tentang ilmu Allah. Al-ghazali terkesan menyamakan ilmu Allah dengan ilmu manusia, sedangkan para filosof muslim terkesan membedakan antara ilmu Allah dengan ilmu manusia. Namun pada dasarnya mereka berpendapat bahwa Allah mengetahui (parsial dan umum) segala yang terjadi di alam ini, namun mereka berbeda tentang cara Allah mengetahuinya.

  1. Masalah kebangkitan jasmani di akhirat

Imam Ghozali sebagaimana para teolog lainnya meyakini bahwa kebangkitran jasmani adalah jasmani dan rhani, sebagimana QS Yasin ayat 52

وضرب لنا مثلا ونسي خلقه قال من يحي العظام وهي رميم قل يحييها الذي أنشأها أول مرة.  وهو بكل خلق عليم.

Artinya : Dan dia membuat perumpamaan bagi kami dan dia lupa kepada kejadiannya, ia berkata; siapakah yang dapat, menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh ?. katakanlah ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertamam dan dialah yang mengetahui tentang segala makhluq.

Menurut Ibn Rusyd; sanggahan Al-ghazali terhadap filosof muslim, tentang kebangkitan jasmani diakhirat tidak ada, adalah tidak benar. Mereka tidak mengatakan demikian.[21] Semua agama, tegas Ibn Rusyd mengakui adanya hidup kedua di akhirat, tetapi mereka berbeda interpretasi mengenai bentuknya.[22] Para filosof berpendapat bahwa yang akan dibangkitkan hanya rohani, dan para teolog mengatakan akan dibangkitkan rohani dan jasmani. Namun yang jelas kehidupan diakhirat tidak sama dengan kehidupan didunia ini. Hal ini sesuai dengan hadits : “Disana akan dijumpai apa yang tak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas didalam pikiran” dan ucapan Ibn Abbas RA : “Tidak akan dijumpai diakhirat hal-hal keduniawian kecuali nama saja”.[23] Hidup di akhirat tentu saja lebih tinggi dari pada di dunia.

Namun demikian, Ibn Rusyd menyadari bahwa bagi orang awam soal kebangkitan itu perlu digambarkan dalam bentuk jasmani dan rohani. Karena kebangkitan jasmani bagi orang awam lebih mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan atau amalan yang baik dan menjauhkan pekerjaan atau amalan yang buruk.[24]

Menurut Ibn Rusyd sikap Al-Ghazali sendiri tidak konsisten, saling bertentangan dengan ucapannya sendiri. Dalam buku tahafutul falasifah, Al-Ghazali mengatakan bahwa tidak ada seorang muslimpun yang berpendapat bahwa kebangkitan jasmani tidak ada. Namun dalam bukunya mengenai tasawwuf dia mengemukakan pendapat kaum sufi bahwa yang ada nanti hanya kebangkitan rohani.[25] Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perbedaan pendapat antara Al-Ghazali dan para filosof muslim hanya perbedaan interpretasi tentang ajaran dasar tentang kebangkitan diakhirat, bukan perbedaan antara menerima atau menolak ajaran dasar tersebut. Dengan arti hanya perbedaan ijtihad antara Al-Ghzali dengan filosof muslim, atau dengan kata lain perbedaan otak antara satu orang muslim dengan otak orang muslimlain dalam memahami ayat-ayat tentang kebangkitan diakhirat, hal ini lumrah terjadi dikalangan ulama Islam. Perbedaan seperti ini tidak akan membawa kepada kekafiran. Lebih lanjut Ibn Rusyd menekankan hadits Rasululah: Siapa yang benar dalam berijtihad dibidangnya ia mendapat dua pahala dan siapa yang salah dalam ijtihadnya ia menadapat satu pahala.[26]

Dengan demikian, menurut Ibn Rusyd tuduhan kafir yang dilontarkan Al-Ghazali terhadap filodof muslim dalam 3 butir masalah diatas tidak pada tempatnya. Kendatipun diandaikan interpretasi mereaka keliru namun kesalahan mereka termasuk kesalahan ijtihad yang bisa dimaafkan. Jika tuduhan dilontarkan kepada para filosof muslim melanggar ijma’, maka dalam pemikiran mereka  tidak ada ijma’ ulama secara pasti.[27]

BAB III : ANALISA  DAN KESIMPULAN

  1. A. Analisa
    1. Sebagai pengulas filsafat Aristoteles yang bealiranm Realisme, Ibnu Ruysd sangat piawai, sehingga membuat ia lebih dikenal dibarat daripada di timur, namun kelemahannya yang tidak menguasai bahasa latin, sedikit menodai orisinalitas pemikirannya, sekaligus menunjukkan kegeniusan Ibn Rusyd mengingat begitu mendalamnya penguasaan Ibn Ruyd kepada filsafat yang bahasa aslinya dia tidak mengerti, bisa dibayangkan seandainya Ibn Rusyd menguasai bahasa latin sudah pasti hasil pemikirannya lebih hebat.
    2. Ibnu Rusyd menganut faham filsafat rasionalis sebagaimana Aristoteles.
    3. Ibnu Rusyd pada saat hidupnya tergolong sangat liberal, dia beberapa tahun lebih kedepan daripada ulama’ulama lain. Justru karena itu dia banyak dicurigai bahkan dicap kafir dan mendapatkan banyak kesulitan dan tantangan.
    4. Ibnu Rusyd telah melakukan usaha harmonisasi antara filsafat dan agama.
    5. Pengkafiran Imam Ghazali terhadap para filosof adalah masalah ijtihadiyah, sebagaimana pendapat mereka tentang tuhan juga merupakan pendapat ijtihadiyah. Jadi tidak sampai pada kebenaran hakiki/ absolut.
  1. B. Kesimpulan.
  2. Apa yang terjadi antara para filosof muslim dan para teolog (ahli ilmu kalam) Muslim adalah buku yang terbuka untuk kita pelajari dan kita fahami, demi memperkaya wawasan dan mempertebal keimanan kita kepada Allah. Dimana persoalan keimanan adalah hidayah dari Allah SWT yang  Dia berikan kepada siapapun yang Dia kehendaki.
  3. Pemikiran filsafat merupakan  pencapaian tertinggi akal manusia tentang hakekat suatu hal, termasuk Allah, dimana entitasnNya tidak terbatasi oleh apapun. Oleh karenanya filsafat, seperti juga ilmu kalam yang juga memakai pendekatan falsafi,  tidak akan mampu menjangkau sampai ke hakekatNya.
  4. 3. Allah adalah apa yang Dia firmankan dalam kitab suci dan apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW. Kita pegang yang muhkamat dan kita berhenti saat menjumpai yang mutasyabihat. Ini jalan terbaik untuk selamat.

BAB IV : PENUTUP

Pada suatu masa sebuah pemikiran adalah kekafiran, namun pada masa yang lain, pemikiran tersebut adalah keimanan. Ungkapan Amin Al-Khulli yang penulis dapatkan di halaman motto bukunya kang Mukhlis “Ngaji Bareng Filosof”[28] ini penulis anggap tepat untuk menutup tulisan ini. dan sifat absolut pemikiran adalah menolak apa yang diterima sebelumnya dan menerima apa yang ditolak sebelumnya “In our live the final is nothing…” Wallohu A’lam Bissowab.

*penulis adalah mahasiswa Magister Studi Islam di IAIN Walisongo

DAFTAR PUSTAKA

——-Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahannya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1995.

Ahmad Fu`ad Al-Ahwany, “Ibnu Rusyd”, dalam M.M. Syarif (Ed.), A History of Muslim Philosophy, vol. I, Wisbaden : Otto Harrossowitz, 1963.

Ahmad Fu`ad Al-Ahwany, al-Falsafat al-Islamiyyah, Kairo : Maktabat al-Saqafiyyat, 1962.

Dr, Kautsar Azhari Noer, Ibn Al-Arabi Wahdat Alwujud dalam Perdebatan, Paramadina

FRS. Amsal Bakhtiar MA, Filsafat Agama, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997.

Harun Nasution, Falsafat dan Misticisme Dalam Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1973.

Mukhlis, Ngaji Bareng Filosof, Alamtara Institut, Mataram, 2008.

Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1984.

Prof. Dr. Sirajuddin Zar MA, Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007.

T.J. De Boer, Tarikh al-Falsafah fi al-Islam, Ter. Muhammad `Abd Al-Hady Abu Zaidah, Kairo : Mathba`at al-Taklif, 1962.

Tawfiq Al-Thawi, Al-Falsafah fi Nashriha al-Tarikhi, Dar Al-Ma’arif, Cairo, 1977.

Umar Muhammad Al-Taumiy Al-Syaibani, Al-Muqoddimah fi Al-Falsafah Al-Islamiyyah, Dar Al-Arabiyyah li Al-Kutub, 1976.


[1] FRS. Amsal Bakhtiar MA, Filsafat Agama, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997. hal: 2.

[2] Dr, Kautsar Azhari Noer, Ibn Al-Arabi Wahdat Alwujud dalam Perdebatan, Paramadina

[3] Prof. Dr. Sirajuddin Zar MA, Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007. hal: 221

[4] Ibid, hal.: 2

[5] Tawfiq Al-Thawi, Al-Falsafah fi Nashriha al-Tarikhi, Dar Al-Ma’arif, Cairo, 1977. hal: 12

[6] Baca juga Mukhlis, Ngaji Bareng Filosof, Alamtara Institut, Mataram, 2008. hal.101 – 106

[7] Umar Muhammad Al-Taumiy Al-Syaibani, Al-Muqoddimah fi Al-Falsafah Al-Islamiyyah, Dar Al-Arabiyyah li Al-Kutub, 1976, hal: 30-301

[8] Ahmad Fu`ad Al-Ahwany, “Ibnu Rusyd”, dalam M.M. Syarif (Ed.), A History of Muslim Philosophy, vol. I, Wisbaden : Otto Harrossowitz, 1963, hal: 540.

[9] Ibid., hal: 541.

[10] Ahmad Fu`ad Al-Ahwany, al-Falsafat al-Islamiyyah, Kairo : Maktabat al-Saqafiyyat, 1962, hal: 100.

[11] Ahmad Fu`ad, , op.cit., hal: 542-543.

[12] Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1984, hal: 37.

[13] T.J. De Boer, Tarikh al-Falsafah fi al-Islam, Ter. Muhammad `Abd Al-Hady Abu Zaidah, Kairo : Mathba`at al-Taklif, 1962, hal: 257.

[14] Dr. Ahmad Fuad Al-Ahwani, opcit, hal 113

[15] Prof. Sirajuddin Zar MA, opcit hal 160.

[16] Prof Dr Sirajuddin Zar MA, opcit, hal 161. Baca juga Al-Ghazali, Tahafutul falasifah, tahqiq Sulaiman Dunya,Darul Mara’arif Cairo, 1962, hal 86-87

[17] Prof. Sirajuddin Zar MA, opcit, hal 227.

[18] Ibnu Rusyd, , Tahafut al-Tahafut, Dar el Masyrik, Bairut, 1992, hal: 711.

[19] Ibid., hal: 700.

[20] Ibid., hal: 702-103.

[21] Ibid., hal: 864.

[22] Ibid., hal: 866.

[23] Ibid.

[24] Harun Nasution, Falsafat dan Misticisme Dalam Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1973, hal: 47.

[25] Ibnu Rusyd, Tahafut, op.cit., hal: 873-874.

[26] Ibnu Rusyd, Fashl, op.cit., hal: 44.

[27] Ibid., hal: 36-37.

[28] Mukhlis, op.cit. hal: vii