Muhammad Ibnu Abdul Wahab disebut-sebut sebagai aplikator pemikiran tauhid Ibnu Taimiyah, apa dan bagaimana pemikiran dan gerakannya?

TAUHID DALAM PEMIKIRAN MUHAMMAD IBNU ABDUL WAHAB

Oleh : budi santosa

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Persoalan tauhid adalah elemen paling penting dalam meyakini islam sebagai sebuah  agama. Islam terlahir sebagai sebuah agama yang membawa risalah, yang salah satunya adalah peng-Esaan Allah sebagai Tuhan satu-satunya, al-qur’an sendiri menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik atau mengakui keberadaan Tuhan selain Dia dan hanya akan mengampuni dosa selain dosa syirik. Penulis menyebutnya sebagai hak yang paling otoriter yang di miliki sang Khalik kepada semua makhluknya.

Konsekwensi dari itu semua adalah, ketika seorang anak manusia memilih islam sebagai agama yang ia yakini maka secara otomatis persyaratan pertama adalah pengakuan Allah sebagai Tuhan satu-satunya, dengan mengesampingkan tuhan-tuhan yang lainnya, sebagaimana perjanjian “alastubirabbikum qaaluu bala syahidna” ketika seorang anak manusia berada dalam perut ibunya. Konsekwensi itu kemudian menjalar menjadi konsekwensi-konsekwensi lainnya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, baik itu hubungan vertikal maupun horizontal atau bahasa al-qur’annya “hablumminallah wa hablumminannas”. Muhammad Rasulullah sendiri di utus untuk membawa risalah tentang peng-Esaan kepada Allah sebagaimana Nabi-nabi sebulum dia.

Dalam panggung sejarah ummat islam persoalan ketauhidan, oleh ahli sejarah dimasukkan ke dalam wilayah kajian teologi, salah satu cabang keilmuan yang mendiskusikan tentang Tuhan. Pada awal mulanya persoalan teologi berasal dari persoalan politik yang sampai berabad-abad timbul tenggelam dalam drama sejarah ummat islam. Khusus untuk persoalan ketauhidan, tentu kita akan diingatkan oleh beberapa tokoh yang menonjol dalam lapangan ketauhidan. Sebutlah diantaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah dan Muhammad Ibnu Abdul Wahab. Untuk nama tokoh yang terakhir disebut tadi adalah salah seorang tokoh yang paling berpengaruh setelah abad ke-18 Masehi, bahkan pengaruhnya masih terasa sampai sekarang. Kalau Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyah meletakkan dasar-dasar pemikiran tentang ketauhidan maka Muhammad Ibnu Abdul Wahab adalah mesin aplikasi dari pemikiran ketauhidan ke dua tokoh tersebut. Muhammad Ibnu Abdul Wahab tidak sekedar mempublikasikan pemikiran-pemikiran ketauhidannya, tetapi ia mempunyai gerakan terorganisir dalam menerapkan dan menjalankan pemikiran-pemikiran ketauhidannya, dan inilah yang membedakan Muhammad Ibnu Abdul wahab dengan tokoh-tokoh lainnya. Sudah barang tentu sepak terjang Muhammad Ibnu Abdul wahab dalam menjalankan aksi dan pemikirannya menuai pro dan kontra bukan hanya pada saat ia hidup bahkan pro kontra itu masih menjadi diskusi menarik sampai hari ini. Apa dan bagaimana corak pemikiran tauhid serta gerakan Muhammad Ibnu Abdul Wahab? Maka tulisan sederhana ini akan mencoba menguraikan dan menjawab pertanyaan itu.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Biografi Muhammad Ibnu Abdul Wahab

Sebelum lebih jauh membahas pemikiran dan gerakan Muhammad Ibnu Abdul Wahab, penulis akan mengajak pembaca untuk menyimak biografi tokoh ini, untuk mengetahui latar belakang kehidupannya sehingga mempermudah menganalisis pemikiran dan gerakannya.

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin ‘Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Rasyid bin Barid Bin Muhammad bin al-Masyarif at-Tamimi al-Hambali an-Najdi. Muhammad bin ‘Abdul Wahab dilahirkan pada tahun 1115 H (1701 M) di kampung ‘Uyainah (Najd), Lebih kurang 70 km arah barat laut kota Riyadh, ibukota Arab Saudi sekarang. Muhammad Ibnu Abdul Wahab meninggal dunia pada 29 Syawal 1206 H (1787 M) dalam usia 92 tahun, setelah mengabdikan diri selama lebih 46 tahun dalam memangku jabatan sebagai menteri  penerangan kerajaan Arab Saudi.

Muhammad bin Abdul Wahab berkembang dan dibesarkan dalam kalangan keluarga terpelajar. Ayahnya adalah ketua jabatan agama setempat. Sedangkan kakeknya adalah seorang qadhi (mufti besar), tempat di mana masyarakat Najd menanyakan segala sesuatu masalah yang bersangkutan dengan agama. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila kelak Muhammad Ibnu Abdul Wahab juga menjadi seorang ulama besar seperti kakeknya. Sebagaimana mestinnya keluarga ulama, maka Muhmmad bin Abdul Wahab sejak masih kanak-kanak telah dididik dan ditempa jiwanya dengan pendididkan agama, yang diajar sendiri  oleh ayahnya, Syeikh Abdul Wahab (Tim Penyusun Ensiklopedi Islam, 2002).

Muhammad Ibnu Abdul Wahab belajar di kota Madinah, pada Sulaiman al-Kurdi dan Muhammad al-Khayyat as-Sindi. Ia banyak mengadakan lawatan dan sebagian hidupnya digunakan untuk berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri lainnya. Empat tahun di Basrah, lima tahun di Baghdad, satu tahun di Kurdestan, dua tahun di Hamazan, kemudian pergi ke Isfahan. Kemudian pergi lagi ke Qumm dan Kairo, sebagai penyebar aliran Ahmad bin Hanbal.

Setelah beberapa tahun mengadakan perlawatan, ia kemudian pulang ke negeri kelahirannya, dan selama beberapa bulan ia merenung dan mengadakan orientasi, untuk kemudian mengajarkan paham-pahamnya, seperti yang dicantumkan dalam bukunya at-tauhid setebal 88 halaman cetakan Makkah. Meskipun sedikit orang yang menentangnya, antara lain dari kalangan keluarganya sendiri di antaranya yang dari luar Uyainah. Karena ajaran-ajarannya telah banyak menimbulkan keributan di negerinya, ia diusir oleh penguasa setempat, kemudian ia bersama keluarganya pindah ke Dar’iyah, sebuah dusun tempat tinggal Muhammad bin Sa’ud (nenek raja Faisal) (A. Hanafi, 2003:189-190).

Muhammad Ibnu Abdul Wahab bukanlah seorang teoris, tetapi juga pemimpin yang dengan aktif berusaha mewujudkan pemikirannya. Mendapat dukungan dari Muhammad Ibnu Su’ud dan putranya Abdul Aziz di Nejd. Faham-faham Muhammad Ibnu Abdul Wahab mulai tersiar dan golongannya bertambah kuat, hingga di tahun 1773 mereka dapat menduduki Riad, kemudian pada tahun 1787 Muhammad Ibnu Abdul Wahab meninggal dunia, tetapi ajaran-ajarannya tetap hidup dengan mengambil bentuk aliran yang dikenal dengan nama wahabiah (Harun Nasution, 1996).

B. Latar belakang pemikiran dan gerakan Muhammad Ibnu Abdul Wahab

Pada abad ke 18 Masehi, ajaran aqidah islamiah di jazirah Arabia sudah sangat dominan bercampur baurnya ajaran islam dengan unsur-unsur ajaran agama lain, ajaran tarekat, animisme, pemujaan guru/seykh dan ajaran lainnya, antara lain :

  1. Kuburan atau makam para ulama, seykh atau guru tarekat, merupakan tempat meminta supaya menjadi kaya, mendapat jodoh, anak dan lain-lain yang dapat merusak aqidah.
  2. Taklid sangat berkembang, sehingga tampak pintu ijtihad tertutup.

Sebagai reaksi terhadap ajaran-ajaran itu timbullah usaha-usaha pemurnian ajaran islam dan sekaligus merupakan gerakan pembaharuan, pada kondisi seperti inilah muncul tokoh pembaharu yang bernama Muhammad Ibnu Abdul Wahab (1703-1787) dan sebelumnya telah dirintis oleh Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnu Qayyim al-Jauziyah (Yusran Asmuni, 2001).

Pemikiran yang dicetuskan oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab untuk memperbaiki kedudukan ummat islam timbul bukan sebagai reaksi terhadap suasana politik seperti yang terdapat di kerajaan Usmani dan kerajaan Mughal, tetapi sebagai reaksi terhadap paham tauhid yang terdapat di kalangan umat islam di waktu itu. Kemurnian faham tauhid mereka telah dirusak oleh ajaran-ajaran tarekat yang semenjak abad ketiga belas memang tersebar luas di dunia islam.

Disetiap Negara islam yang dikunjunginya Muhammad Ibnu Abdul Wahab melihat kuburan-kuburan seykh tarekat bertebaran. Tiap kota, bahkan kampung-kanpung, mempunyai kuburan seykh atau wali masing-masing. Ketika umat islam naik haji, mereka pergi ke kuburan-kuburan itu dan meminta pertolongan dari seykh atau wali yang dikuburkan di dalamnya, untuk menyelesaikan problema hidup mereka sehari-hari. Ada yang meminta supaya diberi anak, ada pula yang meminta supaya diberi jodoh, ada lagi yang meminta supaya disembuhkan dari penyakitnya, dan ada pula yang meminta supaya diberi kekayaan. Demikianlah bermacam-macam permohonan yang diajukan kepada seykh atau wali yang diistirahatkan dalam kuburan-kuburan itu. Seykh atau wali yang sudah meninggal dunia itu dipandang sebagai orang yang berkuasa untuk menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi manusia di alam ini.

Karena pengaruh tarekat ini , permohonan dan do’a tidak lagi langsung dipanjatkan kepada Tuhan, tetapi melalui syafa’at seykh atau wali tarekat, yang dipandang sebagai orang yang dapat mendekati Tuhan dan memperoleh rahmatNya. Menurut keyakinan orang-orang yang berziarah ke kuburan seykh dan wali tarekat, seperti tersebut di atas, bahwa Tuhan tidak dapat didekati kecuali perantara, maka perantara dalam hal ini adalah para wali atau seykh yang telah meninggal tersebut.

Selain itu menurut Muhammad Ibnu Abdul Wahab kemurnian tauhid dirusak bukan hanya oleh pujaan pada seykh dan wali. Faham animism masih mempengaruhi keyakinan umat islam. Di satu tempat ia melihat orang berziarah ke sebatang pohon kurma, karena pohon itu diyakini mempunyai kekuatan gaib. Di tempat lain ia melihat batu bsar yang di puja. Kaum muslimin pergi ke tempat serupa itu untuk meminta pertolongan dalam mengatasii persoalan-persoalan hidup mereka. Tuhan, yang kepada-Nyalah seharusnya dipanjatkan do’a dan permohonan telah dilupakan. Keyakinan serupa ini, menurut faham Muhammad Ibnu Abdul Wahab merupakan perbuatan syirik atau politeisme. Dan syirik adalah dosa terbesar dalam islam, dosa yang tidak dapat diampuni Tuhan (Harun Nasution, 1996).

Dalam Ensiklopedi Islam disebutkan tiga penyebab timbulnya pemikiran dan gerakan Muhammad Ibnu Abdul Wahab beserta pengikutnya :

Kekacauan stabilitas politik. Secara politik, lemahnya kekuasaan islam di bawah pemerintahan Turki Usmani, penguasa tunggal umat islam pada saat itu, sehingga terjadinya tindakan sparatisme di daerah kekuasaan islam pada waktu itu, sehingga terjadi kekacauan politik tidak bisa terhindarkan.

Kondisi sosial ekonomi yang tidak menentu. Kekacauan politik selanjutnya berakibat kepada buruknya kondisi sosial dan ekonomi umat islam pada saat itu, termasuk kawasan jazirah Arab. Kriminalitas meningkat dan kemiskinan telah mencekik perekonomian umat islam pada saat itu, kondisi ini yang memicu umat islam dengan mudah terpedaya dan lebih percaya kepada hal-hal yang bersifat mistik dan irasional.

Perilaku keagamaan umat islam. Faktor yang terakhir inilah yang paling dominan menimbulkan gerakan wahabiah. Pada saat itu telah terjadi distorsi pemahaman al-qur’an, semangat keilmuan yang meramaikan zaman klasik telah pudar dan digantikan dengan sikap fatalis dan kecendrungan mistis, ummat islam banyak yang melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari ajaran tauhid (Tim Penyusun Ensiklopedi Islam, 2002).

Menurut hemat penulis, kalau merujuk pada uraian terakhir diatas, bahwa penyelewengan terhadap ajaran tauhid umat islam pada waktu itu dipicu oleh latar belakan kondisi social, ekonomi dan politik yang carut marut, sehingga berakibat pada perilaku keagamaan yang menyimpang terutama pada persoalan ketauhidan.

C. Pemikiran dan Gerakan Tauhid Muhammad Ibnu Abdul Wahab

Berbicara tentang pemikiran dan gerakan tauhid Muhammad Ibnu Abdul Wahab akan sangat sulit menemukan pemaparan yang obyektif dalam literatur-literatur yang ditulis oleh para ahli sejarah. Hampir semua tulisan lebih mengedepankan emosionalitas tendensius masing-masing penulis, bagi yang pro Abdul Wahab akan memujinya habis-habisan dan bagi yang kontra akan menghujatnya habis-habisan juga. Oleh karena itu penulis akan mencoba memposisikan diri sebagai “wasit” pemikiran dalam menguraikan pemikiran dan gerakan tauhid Muhammad Ibnu Abdul Wahab.

Oleh karena itu untuk menguraikan pemikiran-pemikiran tauhid Muhammad Ibnu Abdul Wahab penulis akan merujuk kepada kitab karangan Muhammad Ibnu Abdul Wahab sendiri yaitu kitab “tauhid alladzi huwa haqqullah ‘alal ‘ibad” yang walaupun kitab terjemahannya, sedikit tidak dapat menghindari beban subyektifitas dalam menguraikan pemikiran tauhidnya. Berikut ini adalah beberapa pokok fikirannya tentang tauhid :

  1. Hakekat tauhid adalah beribadah hanya kepada Allah (Qs.al-dzariyat ayat 56), dan ibadah tidak akan terealisasikan jika masih berpegang kepada thoghut (Qs. an-nahl ayat 36), thoghut adalah terlalu mengagung-agungkan selain Allah.
  2. Allah tidak akan mengampuni dosa syrik (Qs. An-nisa ayat 48). Syirik sebagai lawan dari kata tauhid.
  3. Memakai gelang atau sejenisnya dengan niat benda tersebut akan mendatangkan manfaat adalah syirik (HR. Imam Ahmad).
  4. Makna tauhid dan kalimat “la ilaha illallah” adalah meninggalkan apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, seperti menyeru (memohon) kepada orang-orang soleh dan meminta syafaat mereka, (Qs. Al-isra’ ayat 57).
  5. Mengharapkan berkah dari pepohonan, bebatuan atau sejenisnya adalah perbuatan syirik (Qs. An-najm ayat 19-23).
  6. Menyembelih binatang bukan karena Allah adalah perbuatan syirik (Qs. An-na’am ayat 162-163).
  7. Bernadzar karena selain Allah adalah perbuatan syirik (Qs. Al-insan ayat 7).
  8. Meminta perlindungan kepada selain Allah adalah perbuatan syirik (Qs. Al-jin ayat 6) (Muhammad Ibnu Abdul Wahab, terj. 2007).

Secara singkat pokok fikiran tauhid Muhammad Ibnu Abdul Wahab adalah mengkopi paste pemikiran tauhid Ibnu Taimiyah yang membagi ketauhidan menjadi tiga segi :

  1. Keesaan zat dan sifat, dalam hal ini keesaaan Allah dapat diperoleh dari informasi al-qur’an dan hadits, faham ini meyakini bahwa sifat-sifat Allah tidak boleh dihilangkan dan atau diserupakan dengan makhluk, oleh karena itu sifat-sifat dan nama-nama Allah diartikan seperti apa adanya.
  2. Keesaan penciptaan, Allah tidak bersekutu atau bekerjasama dengan makhluk dalam menciptakan sesuatu, dan tidak ada pula yang mempersengketakan kemauan Tuhan, atau bersama-sama dengan Dia dalam menciptakan segala sesuatu, bahkan segala sesuatu dan semua perbuatan dari Tuhan , dan kepadaNya pula kembali.
  3. Ke-Esaan Ibadah, atinya seseorang manusia tidak memperuntukkan ibadahnya selain kepada Tuhan, hal ini akan bisa terwujud apabila dua hal berikut ini terpenuhi :
  4. Hanya menyembah Tuhan semata-mata dan tidak mengakui Ketuhanan selain bagi Allah, siapa yang mengikutsertakan seseorang makhluk untuk disembah bersama Tuhan, berarti ia telah syirik. Siapa yang mempersamakan al-Khalik dengan makhluk dalam suatu ibadah, berarti ia mengangkat Tuhan selain Allah, meskipun mempercayai Ke-Esaan Tuhan al-Khalik.
  5. Kita menyembah Tuhan dengan cara yang telah ditentukan (disyaratkan) oleh Tuhan melalui Rasul-rasulNya. Baik yang wajib, atau sunnah ataupun mubah, harus dimaksudkan untuk ketaatan dan pernyataan syukur semata-mata kepada Tuhan.

Kelanjutan dari ke dua hal tersebut ialah :

  1. Larangan mengangkat manusia, hidup atau mati, sebagai perantara kepada Tuhan, aliran ini mempercayai bahwa ada manusia yang diberikan keluarbiasaan dan kekeramatan tetapi bukan berarti orang tersebut terhindar dari kesalahan, melainkan ia tetap seorang hamba Allah. Dengan adanya kekeramatan seorang saleh tidak bisa dijadikan perantara kepada Allah, Tuhan sendiri melarang Nabi Muhammad untuk meminta ampun kepada Tuhan bagi orang-orang musyrikin meskipun mereka termasuk keluarganya sendiri.
  2. Larangan memberikan nazar kepada kubur atau penghuni kubur atau penjaga kubur. Perbuatan ini haram, karena tidak ada bedanya dengan nazar kepada patung berhala. Dalam hal ini Ibnu Taimiyah mengatakan sebagai berikut :

siapa yang percaya kuburan mempunyai daya guna atau mendatangkan pahala, maka ia bodoh dan sesat”.

Bahkan ia lebih keras lagi mengatakan sebagai berikut :

siapa yang percaya bahwa nazar itu merupakan kunci untuk mendapatkan kebutuhan dari Tuhan dan dapat menghilangkan bahaya, membuka rezki atau menjaga pagar-batas, maka ia menjadi musyrik yang harus dihukum mati”.

  1. Larangan ziarah ke kubur-kubur orang saleh dan Nabi-nabi. Kelanjutan yang logis dari kedua masalah di atas ialah larangan ziarah ke kubur orang-orang saleh dengan maksud minta berkah atau mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan untuk mencari suri tauladan dan mengingat mati maka dibolehkan dan bahkan dianjurkan (A. Hanafi, 2003).

Senada dengan uraian di atas, Muhammad Ibnu Abdul Wahab dalam karyanya sendiri “Majmu’atut Tauhid” yang penulis kutip dalam buku “Islam di Kawasan Kebudayaan Arab”, ia menjelaskan bahwa al-qur’an banyak menyebutkan hakekat dan perintah penyembahan hanya kepada Allah, diantaranya misalnya :

Surat az-Zariyat ayat 56 :

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ

56.  “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Al-Qur’an Terjemahan Depatemen Agama,1989).

Surat an-Nahl ayat 36 :

ô‰s)s9ur $uZ÷Wyèt/ ’Îû Èe@à2 7p¨Bé& »wqߙ§‘ Âcr& (#r߉ç6ôã$# ©!$# (#qç7Ï^tGô_$#ur |Nqäó»©Ü9$# ( Nßg÷YÏJsù ô`¨B “y‰yd ª!$# Nßg÷YÏBur ïƨB ôM¤)ym Ïmø‹n=tã ä’s#»n=žÒ9$# 4 (#r玍šsù ’Îû ÇÚö‘F{$# (#rãÝàR$$sù y#ø‹x. šc%x. èpt7É)»t㠚úüÎ/Éj‹s3ßJø9$# ÇÌÏÈ

36.  “Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[826] itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang “yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya[826]. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)” (Al-Qur’an Terjemahan Depatemen Agama,1989).

Surat al-Isra’ ayat 23 :

* 4Ó|Ós%ur y7•/u‘ žwr& (#ÿr߉ç7÷ès? HwÎ) çn$­ƒÎ) Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $·Z»|¡ômÎ) 4 $¨BÎ) £`tóè=ö7tƒ x8y‰YÏã uŽy9Å6ø9$# !$yJèd߉tnr& ÷rr& $yJèdŸxÏ. Ÿxsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& Ÿwur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJƒÌŸ2 ÇËÌÈ

23. “ Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (Al-Qur’an Terjemahan Depatemen Agama,1989).

masih banyak ayat yang menerangkan tentang tauhid tersebut. Tauhid itu dapat dikategorikan menjadi tauhid al-Ilahiyah, tauhid ar-rububiyah, tauhid al-asma’, tauhid as-sifat, dan tauhid al-af’al yang disebut juga tauhid al-‘ilm dan al-I’tiqad. Tauhid al-asma’ dan as-sifat ialah keyakinan akan kemandirian Allah dengan kesempurnaan yang mutlak yang tiada sekutu bagiNya dari segi manapun, Keesaan Allah itu diketahui melalui ketetapan dari Allah sendiri melalui kitabNya dan RasulNya. Tauhid ar-rububiyah adalah keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan yang mandiri dalam menciptakan makhlukNya, mandiri pula dalam memberikan rezeki, mengatur semua makhluk, menciptakan makhlukNya yang khusus, yakni para Nabi dan Rasul yang dilengkapi dengan aqidah yang benar, akhlak yang mulia, ilmu yang bermanfaat, dan perbuatan yang baik. Tauhid ilahiyah ialah tauhid al-ibadah yakni pengetahuan dan pengakuan bahwa Allah yang memiliki keilahian. Ibadah dan kebaktian dari makhlukNya hanya ditujukan kepadaNya dan keikhlasan beragama hanya untukNya semata. Tidaklah sah ibadah seseorang bila tidak ditujukan dengan keikhlasan kepadaNya. Syirik menurut Muhammad Ibnu Abdul Wahab adalah orang yang menyekutukan Allah dan tidak akan diampuni oleh Allah (Ali Mufrodi (1997).

Tetapi Allah akan mengampuni dosa selain syirik dengan firmanNya dalam surat an-nisa ayat 48 :

¨bÎ) ©!$# Ÿw ãÏÿøótƒ br& x8uŽô³ç„ ¾ÏmÎ/ ãÏÿøótƒur $tB tbrߊ y7Ï9ºsŒ `yJÏ9 âä!$t±o„ 4 `tBur õ8Ύô³ç„ «!$$Î/ ωs)sù #“uŽtIøù$# $¸JøOÎ) $¸JŠÏàtã ÇÍÑÈ

48.  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar” (Al-Qur’an Terjemahan Depatemen Agama,1989).

Berkaitan dengan hal di atas, ulasan dibawah ini akan lebih memperjelas pemikiran dan gerakan Muhammad Ibnu Abdul Wahab. Pemikiran Muhammad Ibnu Abdul Wahab mempengaruhi dunia islam di masa modern sejak abad kesembilanbelas. Walaupun ia sendiri hidup di abad sebelumnya, tetapi pemikirannya mengilhami gerakan-gerakan pembaruan dalam islam pada abad setelahnya. Bahkan sisa-sisanya masih terasa hingga kini. Pemikiran keagamaan yang dibawakannya difokuskan kepada pemurnian tauhid, oleh Karenanya kelompok ini menamakan dirinya sebagai muwahhidun sebutan wahabiah adalah nama yang diberikan kepada kelompok ini oleh lawan-lawannya, karena pimpinannya bernama Muhammad Ibnu Abdul Wahab. Gerakan mereka pertama kali memang bukan bergerak di lapangan politik, tetapi di wilayah keagamaan. Baru setelah adanya kesepakatan antara Muhammad Ibnu Abdul Wahab dengan Muhammad Ibnu Sa’ud tahun 1744 M, maka gerakannya berubah menjadi gerakan politik, tanpa meninggalkan misi asalnya, yakni dakwah pemurnian islam (Ali Mufrodi, 1997).

Aliran wahabiyah sebenarnya merupakan kelanjutan dari aliran salaf, yang berpangkal kepada fikiran-fikiran Ahmad bin Hanbal dan yang kemudian direkonstruksikan oleh Ibnu Taimiyah, bahkan aliran wahabiah telah menerapkannya dengan lebih luas dan dengan memperdalam arti bid’ah, sebagai akibat dari keadaan masyarakat dan negeri Saudi Arabia yang penuh dengan aneka bid’ah, baik yang terjadi pada musim upacara agama ataupun bukan. Muhammad bin Abdul Wahab sendiri setelah mempelajari fikiran-fikiran Ibnu Taimiyah, tertariklah ia dan kemudian mendalaminya serta merealisasikannya dari sekedar teori sehingga menjadi suatu kenyataan.

Aqidah-aqidah yang pokok dari aliran wahabiah pada hakikatnya tidak berbeda dengan apa yang telah dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah. Perbedaan yang ada, hanya dalam cara melaksanakan dan menafsirkan beberapa persoalan tertentu. Aqidah-aqidahnya dapat disimpulkan dalam dua bidang, yaitu bidang tauhid (pengesaan) dan bidang bid’ah. Dalam bidang tauhid mereka berpendirian sebagai berikut :

  1. Penyembahan kepada selain Allah adalah salah, dan siapa yang berbuat demikian ia dibunuh.
  2. Orang yang mencari ampunan Tuhan dengan mengunjungi kuburan orang-orang saleh, termasuk golongan orang musyrikin.
  3. Termasuk dalam perbuatan musyrik memberikan pengantar kata dalam shalat terhadap nama nabi-nabi atau wali atau malaikat (seperti sayyidina Muhammad).
  4. Termasuk kufur memberikan suatu ilmu yang tidak didasarkan atas al-qur’an dan sunnah atau ilmu yang bersumber kepada akal fikiran semata-mata.
  5. Termasuk kufur juga mengingkari qadar dalam semua perbuatan dan penafsiran al-qur’an dengan jalan ta’wil.
  6. Dilarang memakai buah tasbih dan dalam mengucapkan nama Tuhan dan do’a-do’a  (wirid) cukup dengan menghitung keratin jari.
  7. Sumber syari’at islam dalam soal halal dan haram hanya al-qur’an semata-mata dan sumber lain sesudahnya ialah sunnah Rasul. Perkataan ulama mtakallimin dan fuqaha tentang haram dan halal tidak menjadi pegangan, selama tidak didasarkan atas kedua sumber tersebut.
  8. Pintu ijtihad tetap terbuka dan siapapun juga boleh melakukan ijtihad, asal sudah memenuhi syarat.

Hal-hal yang dipandang bid’ah oleh mereka, dan harus diberantas antara lain ialah berkumpul bersama-sama dalam mu’idan, orang wanita mengiring jenazah, mengadakan khalakah (pertemuan) zikir, bahkan mereka merampas buku-buku yang berisi tawas-sulat, seperti Dalailul Khairat dan sebagainya. Mereka tidak cukup sampai di situ, bahkan kebiasaan sehari-hari juga dikategorikan dalam bid’ah, seperti merokok, minum kopi, memakai pakaian sutera bagi orang lelaki, bergambar (foto), mencelup (memacari) jempol, memakai cincin dan lain-lainnya yang termasuk dalam soal-soal yang kecil dan yang tidak mengandung atau mendatangkan paham keberhasilan.

Kalau Ibnu Taimiyah, sebagai pembangun aliran salaf, menanamkan paham-pahamnya dengan cara menulis buku-buku dan mengadakan pertukaran fikiran serta perdebatan, maka aliran wahabiah dalam menyiarkan ajaran-ajarannya memakai kekerasan dan memandang orang-orang yang tidak mengikuri ajaran-ajarannya sebagai orang bid’ah yang harus diperangi, sesuai dengan prinsip ‘amar ma’ruf nahi munkar”.

Untuk melaksanakan maksud ini Muhammad bin Abdul Wahab sendiri bekerja sama dengan pangeran Muhammad bin Saud (wafat 1765 M dan menggantikan ayahnya pada tahun 1724 M), penguasa di Dar’iah pada waktu itu, yang telah memeluk ajaran-ajarannya dan yang juga mengawini anaknya. Sejak saat itu kekuatan senjatalah yang dipakai oleh aliran wahabiah dalam menyiarkan ajaran-ajarannya. Setelah kedua tokoh tersebut, yaitu tokoh agama dan tokoh politik serta pemerintahan meninggal dunia, keturunan-keturunannya meneruskan sikap dan kerja sama yang telah dirintis oleh keduanya itu, sehingga aliran wahabiah dapat merata di seluruh negeri Saudi Arabia. Muhammad bin Saud menyatakan bahwa tindakannya tersebut dimaksudkan untuk menegakkan sunnah dan mematikan bid’ah. Muhammad bin Abdul Wahab sendiri merasakan bahwa khurafat-khurafat yang menimpa kaum muslimin di negerinya, bukan saja terbatas kepada pemujaan kuburan-kuburan, sebagai tempat orang-orang saleh, dan memberikan nazar kepadanya, tetapi juga menjalar kepada pemujaan benda-benda mati. Sebagai anak negeri tempat kelahirannya, yaitu Yamamah atau Riadh sekarang, memuja sebuah pohon kurma, karena dianggap oleh mereka dapat memberikan jodoh. Juga tidak sedikit dari penduduk kota Dar’iah, tempat ia mulai melancarkan dakwahnya, senang menhunjungi sebuah gua yang terletak di sana. Perbuatan tersebut dipandang olehnya sebagai perbuatan syirik. Karena itu ia menyerukan untuk tidak menziarahi kuburan, kecuali untuk mencari teladan, bukan untuk mencari syafa’at dan tawassulat.

Gerakan dakwah yang pertama-tama dilakukannya ialah memotong pohon kurma yang dianggap keramat. Kemudian setiap kali golongan wahabiah memasuki suatu tempat atau kota mereka membongkar kuburan dan diratakan dengan tanah, bahkan masjid-masjid pun turut dibongkar, sehingga penulis-penulis eropa menyebutkan mereka sebagai “pembongkar tempat-tempat ibadah (huddamul ma’abid). Sebutan ini menurut syekh Abu Zahrah, tidak tepat, karena bukan masjid itu sendiri yang rusak, melainkan masjid-masjid yang didirikan di atas atau di samping kuburan, suatu tindakan yang didasarkan atas pengingkaran Nabi terhadap perbuatan Bani Israil yang membuat kuburan Nabi-nabinya sebagai tempat ibadah.

Tindakan mereka tidak hanya terbatas kepada pembongkaran kuburan wali-wali atau orang-orang saleh biasa, tetapi lebih jauh lagi. Ketika mereka dapat menguasai Mekkah, banyak tempat-tempat yang bersejarah dimusnahkan, seperti tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW, Abu BAkar ra, dan Ali ra. Ketika mereka sampai di Madinah, kuburan sahabat-sahabat Nabi di Baqi’ diratakan dengan tanah dan cukup diberikan tanda-tanda. Kuburan Nabi sendiri hamper mengalami nasib yang sama kalau sekiranya mereka tidak takut akan kemarahan dunia islam. Terhadap kubur Nabi SAW, mereka cukup menghilangkan hiasan-hiasan yang ada padanya dan melarang penggantian selubungnya yang baru. Akan tetapi gerakan aliran wahabiah yang bercorak agama ini dan yang dilindungi oleh kekuatan raja Muhammad bin Saud, dipandang oleh penguasa (khalifah) Usmaniah yang menguasai negeri Arabia pada waktu itu, sebagai perlawanan dan pemberontakan terhadap kekuasaannya. Oleh karena itu penguasa tersebut mengirimkan tentaranya ke negeri Arabia untuk menumpas gerakan tersebut.

Akan tetapi maksud ini tidak berhasil, kemudian diserahkan penumpasannya kepada Muhammad Ali, gubernur Turki di Mesir, dan ternyata tentaranya yang kuat dapat mengalahkan golongan wahabiah serta dapat melumpuhkan kekuatannya. Sesudah itu gerakan wahabiah terbatas di pedalaman suku-suku Arab dengan kota Riadh sebagai pusatnya, yang kadang-kadang menunjukkan kegiatannya kalau ada kesempatan dan kadang-kadang menurun kalau mendapat perlawanan yang keras. Dengan kemundurun khalifah Turki, maka gerakan tersebut menjadi kuat, sehingga menjadi aliran resmi negeri Saudi Arabia sampai sekarang (A. Hanafi, 2003).

Albert Hourani (2004:4884-485) dalam bukunya “Sejarah Bangsa-bangsa Muslim” menjelaskan tentang gerakan yang dimotori Muhammad Ibnu Abdul Wahab ini, ia menjelaskan :

“Terdapat gerakan lain yang mungkin tampak kurang penting pada masa itu, tetapi memiliki pengaruh yang lebih luas di kemudian hari. Gerakan ini muncul di Arabia tengah pada awal abad ke-18 M, ketika seorang pembaru keagamaan, Muhammad Ibnu Abdul Wahab (1703-1792 M), mulai mendakwahkan perlunya muslim untuk kembali kepada ajaran islam sebagaimana dipahami oleh para pengikut Ibnu Hanbal. Yakni, keharusan sepenuhnya untuk taat kepada al-qur’an dan hadits sebagaimana yang ditafsirkan oleh paa ulama yang bertanggungjawab di setiap generasi, dan penolakan terhadap seluruh bid’ah yang diharamkan. Diantara bid’ah ini adalah keyakinan bahwa para wali yang telah wafat merupakan wasilah manusia dengan Tuhan. Yang lain adalah ketaatan khusus kepada tarekat-tarekat sufi. Para pembaru mengadakan kerja sama dengan Muhammad Ibnu Sa’ud, penguasa sebuah kota pasar kecil, Dir’iyah, dan hal ini berujung pada pembentukan sebuah Negara yang mengklaim hidup dibawah petunjuk syari’at dan mencoba mengajak seluruh  kabilah pedalaman di sekitarnya untuk juga hidup di bawah petunjuk yang sama…..”

Mengenai pengaruh gerakan tauhid yang digawangi Muhammad Ibnu Abdul Wahab ini, uniknya terasa setelah abad ke-18 bahkan sampai sekarang dan meluas ke Negara-negara yang mayoritas muslim. Aliran Wahabiah selain telah menimbulkan rasa kebencian pada lawan-lawannya, juga telah menarik perhatian dan pandangan kaum muslimin, bukan saja dari negeri Saudi Arabia sendiri, tetapi juga dari luar negeri. Banyak kaum muslimin yang melakukan haji, setelah melihat aliran baru tersebut, tertarik dengan ajaran-ajarannya dan setelah pulang ke negerinya masing-masing mereka menyiarkan ajaran-ajaran tersebut. Negara-negara di mana ajaran-ajaran wahabiah berkembang misalnya di India (Punjab/India Utara) dikembangkan oleh Sayid Ahmad yang memaklumatkan jihad kepada orang-orang yang tidak mempercayai dakwahnya sekitar tahun 1823 M. di Aljazair aliran wahabiah dikembangkan oleh Imam as-Sanusi. Di Mesir, Muhammad Abduh disebut-sebut sebagai pengembang aliran wahabiah walaupun ia secara langsung mengkaji sumber pokok ajaran ini. di Sudan aliran ini di kembangkan oleh Usman Danfuju, dan di Indonesia ajaran wahabiah mula-mula di bawa oleh tiga orang dari Sumatera Barat yang pergi haji pada tahun 1803 M. pada saat mereka pergi ke Madinah mereka tertarik dengan ajaran wahabiah dan setelah pulang ke Indonesia lalu dikembangkan, namun pada akhirnya gerakan mereka menjadi suatu peperangan yang dalam catatan sejaran Indonesia dikenal dengan nama “perang padri” (A. Hanafi, 2003).

Berbeda dengan pandangan barat tentang aliran wahabi. Nataja J. Delong-Bas (2004) dalam bukunya “wahhabi islam, from revival and reform to global jihad” ia menjelaskan bahwa aliran wahabi yang dikembangkan oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab adalah sumber dari gerakan islam radikal yang memicu aksi-aksi terorisme. Gerakan dakwah dengan menggunakan kekerasan yang dilakukan oleh gerakan wahabi memberikan inspirasi kepada para teroris dalam melakukan aksi “jihad”nya.

D. Analisis dan Kritik

Dalam sub bab ini penulis akan menganalisa sekaligus mengkritik pemikiran dan gerakan tokoh Muhammad Ibnu Abdul Wahab dalam beberapa segi :

  1. 1. Dari segi kepribadian Muhammad Ibnu Abdul Wahab. Menurut hemat penulis tokoh Muhammad Ibnu Abdul Wahab adalah seorang anak manusia yang terlahir dengan karakter, prinsip,kecerdasan dan kepribadian kuat serta sedikit tempramen dan mempunyai kemampuan mempengaruhi orang banyak. Hal ini terbukti dari gerakan yang dibangun Muhammad Ibnu Abdul Wahab mempunyai pengikut yang banyak serta mampu mempengaruhi kerajaan Saudi Arabia untuk menjalankan dakwahnya. Hanya karakter dan kepribadian seperti itulah yang bisa membuat perubahan-perubahan dalam masyarakat yang sudah jumud terhadap sebuah tradisi.
  2. 2. Dari segi hierarki pemikiran ketauhidan. Apa yang terjadi pada kasus Muhammad Ibnu Abdul Wahab dari sisi hierarki pemikiran adalah proses geneologi atau evolusi pemikiran yang berasal dari Imam Ahmad bin Hanbal sekitar abad ke-3 Hijriyah kemudian diadopsi dan direkonstruksi oleh Ibnu Taimiyah pada abad ke-7 Hijriyah, selanjutnya pemikiran ketauhidan ke dua tokoh tersebut terutama Ibnu Taimiyah, dieksekusi oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab dalam bentuk aksi dan gerakan. Aksi dan gerakan inilah yang membedakan ke tiga tokoh tersebut. Ibnu Taimiyah berdakwah dengan karya-karyanya sedangkan Muhammad Ibnu Abdul Wahab dengan aksi dan gerakannya. Sebab, menurut Muhammad Ibnu Abdul Wahab sendiri “bahwa ketauhidan yang benar dan lurus selama hanya dalam bentuk kata-kata tidak akan mempunyai arti, apabila tidak diikuti oleh tindakan dan perbuatan” Sebagaimana yang dikatakan oleh mantan penguasa komunisme, Vladimir Illiyich Lenin bahwa “sebuah ide dan pemikiran tidak akan pernah menjadi kenyataan tanpa adanya tindakan dan gerakan revolusioner”.
  3. 3. Dari segi metode dakwah. Menurut hemat penulis cara berdakwah dengan melakukan kekerasan bukanlah cara yang benar, walaupun dengan alasan menegakkan ketauhidan, karena Allah sendiri dalam al-Qur’an surat an-Nahl ayat 125 berfirman :
  4. 4. äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ

125.  Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Al-Qur’an Terjemahan Depatemen Agama, 1989).

Maka dengan petunjuk al-qur’an di atas berdakwah dengan cara kekerasan apalagi sampai membunuh adalah cara berdakwah yang tidak benar sebab bertentangan dengan al-qur’an sendiri.

  1. 4. Dari sisi semangat dakwah. Muhammad Ibnu Abdul Wahab dan pengikutnya mempunyai semangat dakwah dan semangat juang yang cukup tinggi, terbukti dengan keberanian aliran ini membonkar praktik-praktik syirik yang bertentangan dengan semangat ketauhidan yang sudah berurat dan berakar di kalangan umat islam pada waktu itu, kemudian menyerukan untuk kembali kepada ajaran tauhid yang benar, bersumber dari al-qur’an dan hadits. Sikap dan gerakan Muhammad Ibnu Abdul Wahab inilah yang oleh ahli sejarah disebut sebagai salah seorang pembaharu atau reformer pada wilayah ketauhidan.
  2. 5. Dari segi latar belakang munculnya gerakan wahabi. Menurut hemat penulis gerakan yang digawangi oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab adalah karena faktor penyelewengan praktik keagamaan umat islam, terutama di bidang ketauhidan. Muhammad Ibnu Abdul Wahab melihat penyakit syirik umat islam pada waktu itu sudah akut dan kronis. Gerakan ini selanjutnya mendapat dukungan penuh dari pemerintah kerajaan Arab Saudi pada waktu itu yang juga mempunyai kepentingan politik, berkaitan dengan kemunduran khilafah Turki Usmani. Jadi penulis melihat hubungan ke dua tokoh ini adalah hubungan mutualisme yang saling menguntungkan. Muhammad Ibnu Abdul Wahab diuntungkan oleh lancarnya dakwah yang ia pimpin dengan mendapat bantuan kerajaan Saudi Arabia, sedangkan Kerajaan Saudi diuntungkan secara politik dengan mendapat dukungan dari pengikut Muhammad Ibnu Abdul Wahab yang mempunyai pengikut yang banyak.
  3. 6. Dari segi pengaruh pemikiran dan gerakan. Dari segi ini menurut hemat penulis, seorang Muhammad Ibnu Abdul Wahab adalah tokoh reformer yang mempunyai pengaruh luas dan cukup lama bahkan sampai sekarang, yang banyak menginspirasi berbagai gerakan pembaharuan dibelahan Negara lainnya.
  4. 7. Dari segi pemikiran Muhammad Ibnu Abdul Wahab, terutama Sikap Abd al-Wahab yang mendukung ijtihad dan menolak taqlid menempatkannya sebagai pembaru Islam sejati. Ia menolak dengan keras mengkultuskan tokoh siapapun karena kultus inilah sebagai salah satu penyebab syirik, yang akhirnya seseorang dalam bermunajat kepada Allah melalui perantara atau wasilah. Pemikiran ini menurut penulis adalah factor penyebab kemunduran umat islam yang terlalu menelan bulat-bulat tradisi-tradisi yang telah ditinggalkan generasi-generasi terdahulu.

BAB III

PENUTUP

Persoalan ketauhidan telah banyak menorehkan catatan sejarah umat islam dari masa ke masa. Persoalan tauhid ini telah lama menjadi tema diskusi semenjak abad ke 3 Hiriyah yang masuk dalam lapangan teologi. Namun dari sekian banyak catatan sejarah itu pemikiran dan gerakan Muhammad Ibnu Abdul Wahab-lah yang paling berpengaruh luas dan bertahan lama dan sejarahlah yang membuktikan itu semua.

Terlepas dari pro dan kontra pemikiran dan gerakan yang dimotori Muhammad Ibnu Abdul Wahab yang jelas ide gerakan pembaharuannya patutlah dihormati dan dihargai sebagai sebuah upaya dari seorang muslim yang dengan keyakinan pemahaman tauhidnya telah melakukan sesuatu, daripada tidak pernah melakukan sesuatu untuk agama,” jadi jangan pernah berfikir untuk tidak berfikir”.

Semoga tulisan singkat ini dapat menambah informasi tentang sejarah Muhammad Ibnu Abdul Wahab dengan pemikiran dan gerakannya, semoga ada manfaatnya. Wallahua’lambisawab…..

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Terjemahan Depatemen Agama., 1989, Surabaya: CV Jaya Sakti Surabaya

Asmuni, Yusran, 2001, “Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam”, cet. Ke 3, Jakarta, RajaGrafindo Persada.

Delong-Bas, J. Natana, 2004, “Wahhabi Islam, From Revival and Reform to Global Jihad”, New York, Oxford University Press.

Hourani, Albert, 2004, “Sejarah Bangsa-bangsa Muslim”, terjemahan, cet. Ke 1, Bandung, Mizan.

Hanafi, A, 2003,  “Pengantar Teologi Islam”, Jakarta, cet.ke 8, Pustaka al-Husna Baru.

Mufrodi, Ali, 1997, “Islam di Kawasan Kebudayaan Arab”, Jakarta, cet. Ke 1, logos

Nasution, harun, 1996, “Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan”, Jakarta, Bulan Bintang.

Tim Penyusun, 2002, “Ensiklopedi Islam”, Jakarta, Ikhtiar Baru Van Hoeve

Wahab, Abdul, Ibnu Muhammad, 2007, “Kitab Tauhid Alladzi Huwa Haqqullah ‘Alal ‘Iabad”, terjemahan, Jakarta. Yayasan al-Sofwa.