kajian tafsir al-qur’an

CORAK TAFSIR BIL MA’TSU

oleh : Ainul Yaqin


Makalah

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Sejarah Perkembangan Tadsir Dan Hadits

Kelas. A

Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Muhibbin, MA

NIM : 095 112 065

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

2009

CORAK TAFSIR BIL MA’TSUR

  1. I. PENDAHULUAN

Ÿxsùr& tbr㍭/y‰tGtƒ šc#uäöà)ø9$# ôQr& 4’n?tã A>qè=è% !$ygä9$xÿø%r& ÇËÍÈ

Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad,24)(Depag, 1993: 45)

Sengaja ayat tersebut sebagai pengantar wacana awal pada makalah kali ini karena dari abad ke abad atau masa ke masa Mu’jizat Allah yang abadi ilaa ahiriz-zaman hanya di lafhalkan  berulang-ulang dengan irama yang merdu dan menawan hati, ada juga yang hanya sebatas dilafadlkan pada acara sakral mulai dari acara resepsi sampai pada acara penguburan mayat bahkan lebih naïf lagi hanya sebatas sebagai pengusir dedemit atau Kenderuwo,  akan tetapi yang kita dapatkan tak lebih hanyalah sebatas keberkahan dan  pahala tidak lebih dari itu. Sementara perkembangan zama dari abad ke abad mengalami kemajuan pesat yang meningkat tentunya  akan seiring dengan tantangan dan rintangan generasi Muslim. Apakah dengan menghadapi segala permasalahan yang multi musykilah tersebut kita cukup dengan membacakan Al-Quran yang diiringi asap harumnya dupa…? Kita sebagai generasi muslim yang diilhami akal untuk mencapai predikat Ulul Albab akan mengatakan tidak.

Sering kita temukan pada ayat-ayat yang diahiri dengan أفلا تعقلون,  أفلا يتدبرون  dari hasil penelusuran pemakalah pada maktabah Syamilah lafald  أفلا تعقلون terdapat 14 kaliamat dan أفلا يتدبرون terdapat 4 kalimat, (maktabah syamilah, tafsir At-thabari), Quaestion besar bagi para Ulul Albab “Kanapa harus ada pengulagan pada kalimat tersebut?

Tentunya perlu kita sadari betapa pentingnya kita akan penela’ahan dan pengkajian Al-Quran, selain merupakan unsur pedoman Life Of Humanity, Al-Quran merupakan sumber pengetahuan yang pantas dan layak untuk dikaji, tak heran apabila Qurais Syihab mengumpamakan Al-Quran sebagai Intan yang berkilauan indah di pandang dari sudut manapun dan dari masing-masing sudut akan berbeda bentuk warna kilauannya, (Qurais Syihab, 1999: 64).  Tentutunya hal tersebut membuktikan keajaiban mukjizat Allah yang di berikan kepada nabi ahir zaman.

Al-Quran itu adalah untuk di renungi dan di kaji sebagaimana yang di sebutkan pada

ë=»tGÏ. çm»oYø9t“Rr& y7ø‹s9Î) Ô8t»t6ãB (#ÿr㍭/£‰u‹Ïj9 ¾ÏmÏG»tƒ#uä t©.x‹tFuŠÏ9ur (#qä9’ré& É=»t6ø9F{$# ÇËÒÈ

ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.(QS.Shaad.29)  (Depag, 1993: 45)

Rasulallah juga pernah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan ashhabus sunnah : “Sesungguhnya telah kutinggalkan untuk kalian dua pegangan, selama kalian berpegang dengan keduanya, kalian tidak akan tersesat, yaitu kitabullah (Al-Quran) dan sunnahku” (HR.Ashabus sunnah)  .

Karena Al-Quran merupakan pedoman yang diibaratkan Intan berkilau dari masing-masing sudut dengan kilauan sinar yang tentunya berbeda, mak para pemegang tongkat Estafet generasi  Muhammad atau para  Mufassirin dari generasi kegenerasi dari abad keabad telah sangat cukup menyadari akan tantangan yang dihadapi, hal itu terbukti dengan munculnya para mufassirin dari generasi ke generasi dengan model  penafsiran yang berbeda, yaitu dengan pendekatan Tekstual dan pendekatan Kontekstual, semua model penafsiran tersebut tentunya menggunakan metode penafsiran yang disebut dengan Tahlily, Ijmaliy, Muqaran, Maudhu’i.

ada juga dari beberapa Mufassirin mengtaakan dengan istilah tafsir Birriwayah (Tafsir bil Ma’tsur) dan tafsir Biddiroyah (Tafsir bil Ma’qul/Ra’yi)

Pada permasalahan kali ini pemakalah tidak akan membahas macam-macam metodologi penfsirannya akan tetapi memfukuskan pada pembahasan Corak Tafsir Bil ma’tsur.

  1. II. PENGERTIAN TEFSIR BIL MA’TSUR

Sebelum kita menjelaskan pengertian tafsir bil ma’tsur, alangkah baiknya arti tafsir Itu  sendiri kita pahami. Tafsir berasal dari bentuk masdar Fassara yang yang berarti Keterangan/Ta’wil,(kamus Al-Mufid) menurut ibnu manzhur yang di kutip oleh Baidan dalam bukunya ialah membuka dan menjelaskan maksud yang sukar dari suatu lafald, (Baidan, Nasruddin, 2002,39).

Sedangkan Ma’tsur berasal dari fiil madhi Atsara yang berarti mengutip (kutipan), menurut ibnu abi bakr  Ma’tsur berarti,  ما نقله خلف من سلف   yaitu sesuatu yang ditransfer oleh khalaf (orang baru) dari salaf (orang terdahulu). (al-raz, moh. ibnu abi bakr 1973, 5), bisa disimpulkan secara Etimologi bisa di artikan Tafsir (keterangan/Ta’wil) bilma’tsur (dengan Kutipan).

Sedangkan menurut Ali as-Shabuni dan Zarqani yang di kutib oleh Yudhie R.Haryono dalam bukunya, tasir bil ma’tsur adalah Huwa ma ja’a fil Quran was sunnah aw kalamus shohabah bayanan limuradillahi ta’ala min kitabihi (keterangan dalam Al-Quran, al-sunnah, atau ucapan sahabat yang menjelaskan maksud yang di kehendaki Allah dalam Al-Quran). (Haryono,2002, 133).

Sedangkan menurut Ash-Shabuniy manjelaskan bahwa Tafsir bilma’tsur adalah Rangkaian keterangan yang terdapat dalam Al-Quran, sunnah, atau kata-kata Shahabat sebagai  penjelasan maksud dari firman Allah, yaitu penafsiran Al-Quran dengan As-sunnah nabawiyah, (Ash-shabuniy,Moh.Ali,1991,248).

Juga Muhammad Husain al-dzahabi yang dikutib dalam bukunya Muhaimin berkata “Tafsir bilma’tsur disebut juga tafsir birriwayah atau juga disebut tafsir bilmanqul, yaitu tafsir yang penjelasannya diambil dari ayat-ayat al-quran sendiri,dari hadits nabi, atsar para shahabat atau dari perkataan  dari para tabiin, dari sini diambil contoh penafsiran ayat ditafsirkan dengan ayat seperti kata “Zulm” pada ayat 82 surat al-an’am, yang dimaksud kata tersebut adalah “sirik” sebagaimana yang dalam surat luqmanayat 13. (Muhaimin,2005:109).

Dalam tafsir bilma’tsur yang mengarahkan pada ayat demi ayat, surat demi surat juga tidak mengabaikan pada azbabunnuzul yang di katagorikan pada metode Tahlily, namun dalam metode tahlily secara garis besar dibedakan menjadi dua yaitu tafsir bil ma’tsur dan tafsir birra’yi, (Haryono,2002,132)

Menurut pemakalah  kesimpulan dari pengertian di atas bahwa tafsir bilma’tsur adalah   upaya para kelompok khalaf (orang baru) untuk mentransfer penjelasan-penjelasan yang sukar dari kelompok salaf (orang terdahulu) dengan menggunakan kutipan-kutipan (Quran, Sunnah, Qaulu shohabah).

  1. III. BEBERAPA TAFSIR BILMA’TSUR YANG TERKENAL
    1. Tafsir Ibnu Jarir

Pengarang Tafsir Ibnu Jararir adalah Abu Jakfar Muhammad Ibnu Jarir Ibnu Yazid Ath-Thabariy, beliau lahir pada tahun 224.H dan wafat pada tahun 310.H. Tafsir tersebut merupakan yang dipandang sebagai puncak tafsir bilma’tsur paling shoheh, sebagaimana yang dipandang para ulama’ sebuah kitab yang dapat mengumpulkan riwayat-riwayat yang berkenaan dengan tafsir baik dari shahabat atau tabi’in.

An-nawawiy dalam kitabnya yang di kutip oleh bukunya ash-shiddiqiey berkata “Kitab ibnu jarir didalam bidang ilmu tafsir adalah kitab yang tidak ada bandingannya” demikian juga pendapat abu hamid al-isfarayini berkata “Andaikan seseorang pergi ke tanah cina untuk mencari tafsir ibnu jarir, niscaya perbuatannya tidak di pandang suatu perbuatan yang berlebihan  (Ash-shiddieqy, 2002,228).

  1. Tafsir Ad-darul ma’tsur fitafsiri bilma’tsur

Tafsir ini adalah karangannya Jalaluddin As-Syayuthy, didalam muqaddimahnya diterangkan bahwa tafsir ini adalah hasil kesimpulan tafsir yang dinamakan Tarjumanul-Quran Tafsir ini menerangkan maksud ayat dengan meyebut riwayat-riwayat yang disandarkan kepada Rasulullah SAW.

  1. Tafsir Ibnu Katsir

Pengarangnya adalah Imaduddin Abul Fida’i Isma’il Ibnu al-Khatib Abu Hafas Umar al-Quraisy Ad-Dimasyqi Asy-Syaf I’y, lahir pada tahun 705 H. wafat pada tahun 774 H. Tafsirnya beliau masuk pada katagorai  tafsir bilma’tsur yang shoheh. didalamnya di terangkan riwayat-riwayat  yang diterima dari nabi Muhammad SAW, sahabat dan tabi’in tafsir tersebut telah diringkas oleh al-ustad Ahmad Muhammad Syakir yang boleh kita katakana sebagai tafsir Ibnu Katsir yang telah di Revisi, (Ash-Shiddieqy, 2002, 229)

  1. IV. BEBERAPA CONTOH PENAFSIRAN AYAT PADA TAFSIR BILMA’TSUR
    1. Penafsiran  Al-Quran dengan Al-Quran

Penafsiran tersebut antara lain terdapat pada QS. Al-ma’idah ayat 1:

…………  ôM¯=Ïmé& Nä3s9 èpyJŠÍku5 ÉO»yè÷RF{$# žwÎ) $tB 4‘n=÷Fム. u. …………….

… Dihalalkan bagimu binatang ternak, ……(QS. Al-ma’idah : 1) (Depag, 1993: 45)

Kemudian ayat tersebut ditafsirkan atau di jelaskan pada surah Al-Maidah ayat 3, yaitu:

ôMtBÌhãm ãNä3ø‹n=tæ èptGøŠyJø9$# ãP¤$!$#ur ãNøtm:ur ͍ƒÌ“Yσø:$# !$tBur ¨@Ïdé& ΎötóÏ9 «!$# ¾ÏmÎ/ …….. ÇÌÈ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[394], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, …. Al-Maidah :3 (Depag, 1993: 45)

[394] Ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat 145.

Termasuk pada bagian penafsiran Al-Quran dengan Al-Quran adalah pada turunnya Al-Quran di malam lailatul Qadr. Surat ad-dukhan ayat 3.

!$¯RÎ) çm»oYø9t“Rr& ’Îû 7’s#ø‹s9 >px.t»t6•B 4 $¯RÎ) $¨Zä. z`ƒÍ‘É‹ZãB ÇÌÈ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. QS. ad-dukhan : 3 (Depag, 1993: 45)

[1369] Malam yang diberkahi ialah malam Al Quran pertama kali diturunkan. di Indonesia umumnya dianggap jatuh pada tanggal 17 Ramadhan.

Pada penafsiran   px.t»t6•B  ‘s#ø‹s9 adalah LAilatul QAdr sebagaimana yang terdapat pada surat Al-Qadr : 1

!$¯RÎ) çm»oYø9t“Rr& ’Îû Ï’s#ø‹s9 ͑ô‰s)ø9$# ÇÊÈ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan (QS. Al-Qadr : 1) [1593]. )(Depag, 1993: 45)

[1593] Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr Yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Quran

b.  Penafsiran Al-Quran dengan Sunah

Ketika Rasulullah menafsir الحساب اليسيرا        dengan  العرض menampilkan perbuatan/memberi contoh kepada  orang mukmin dan  menguatkan saja.

Sebagaimana sabda nabi.

َمن نوقس الحساب عذب

Artinya: “Barangsiapa yang menyalahi perhitungan, niscaya akan disiksa “

Kemudian ‘Aisyah berkata kepada nabi Ya….Rasulallah bukankah berkenan dengan hal itu. Allah telah berfirman:

$¨Br’sù ô`tB š†ÎAré& ¼çmt7»tGÏ. ¾ÏmÏYŠÏJu‹Î/ ÇÐÈ   t$öq|¡sù Ü=y™$ptä† $\/$|¡Ïm #ZŽÅ¡o„ ÇÑÈ   Ü=Î=s)Ztƒur #’n<Î) ¾Ï&Î#÷dr& #Y‘rçŽô£tB ÇÒÈ

7. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya,

8. Maka Dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,

9. dan Dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. (QS. Al-Insyqaq:7-9) (Depag, 1993: 45)

Kemudian nabi menjawab  #ZŽÅ¡o„ $\/$|¡Ïm di situ berarti  َ    من نوقس الحساب عذب

Sedangkan orang yang menyalahi hisab niscaya akan disiksa (Ash-Shabuni,1991.253)

  1. V. PERKEMBANGAN TAFSIR BILMA’TSUR DIBAGI MENJADI DUA PRIODE

Tafsir bilma’tsur yang menempati posisi pertama dalam masa penafsiran al-quran dibagi menjadi dua priode

  1. Priode Riwayah

Pada priode ini para sahabat menukil sabda nabi dan para sahabat sendiri dan tabiin untuk menjelaskan tafsir al-quran, dan pengambilan tersebut dilakukan dengan teliti dan waspada demi menjaga keshalehan dan keshohehan Isnad penukilan sehinggadapat menjaga apa yang di ambil.

  1. Priode Tadwin (pembukuan)

Pada Priode ini para sahabat atau tabiin mencatat dan menghimpun penukilannya yang sudah dianggap shaheh setelah diadakan penelitian, sehingga himpunan tersebut membentuk ilmu sendiri.

Sekalipun aliran ini mempunyai banyak kelebihan seperti penafsiran yang mendekati obyektivitas yang didasarkan atas ayat-ayat al-quran dan hadis nabi Muhammad SAW. Tetapi ia juga mempunyai  kelemahan, misalnya adanya cerita Israiliyat yang dianggapsebagai hadits dan hal itu menyesatkan umat, munculnya hadits palsu.(Muhaimin, 2005: 111)

  1. VI. PERBEDAAN PERSEPSI DALAM PENAFSIRAN DAN KELEMAHANNYA

Dari berbagi  pendapat bahwa tafsir bilma’tsur betul-betul di telusuri keoutentisitasannya ayat, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Azzarqani  atas pernyataannya terhadap keengganan beliau memasukkan penafsiran tabi’in kedalam Al-ma’tsur karena dilatar belakangi oleh : Banyak diantara tabi’in itu terlalu terpengaruh oleh riwayat-riwayat isra’iliyat  yang berasal dari kaum Yahudi dan Ahli kitab  yang masuk islam seperti kisah para nabi dan kisah ash-habul kahfi, akan tetapi ada diantara tabiin membenarkannya (Baidan nasruddin,2002,42-43)

Sebagian mufassirin meneliti terjadinya perbedaan yang dimaksud diatas akan memunculkan terhadap beberapa kelemahan terhadap tafsir bilma’tsur, antara lain munculnya periwayatan yang tanpa sanad walaupun sekecil mungkin.

Berikut beberapa faktor terjadinya kelemahan tafsir bilma’tsur :

  1. Campur baur antara yang shahih dan yang tidak shahih  serta banyak mengutib kata-kata yang dinisbatkan kepada shahabat atau tabiin tanpa memiliki sandaran dan ketentuan, sehingga menimbulkan percampur adukkan antara hak dan yang bathil.
  2. Riwayat-riwayat tersebut ada yang dipengaruhi oleh cerita-cerita israiliyat dan khuffarat yang bertentangan dengan Aqidah islamiyah dan telah ada dalil yang dan ahli kitab yang telah masuk islam
  3. Di kalangan sahabat ada golongan yang extrim mereka mengambil beberapa pendapat dan membuat-buat kebatilan  yang dinisbatkan kepada sebagian sahabat, misalkan kelompok syi’ah yang fanatic kepada Ali, mereka sering mengatakan hadisnya dari Ali akan tetapi setelah dilakukan penelusuran Ali sendiri tidak pernah mengetahuinya.
  4. Musuh-musuh islam dari orang sindik berusaha mengecoh sahabat dan tabi’in sebagaimana mereka pernah mengecoh Nabi SAW. Hal ini dimaksudkan untuk menghancurkan agama islam dengan jalan menghasud dan membuat hadis. (Ash-Shabuniy, 1991:257)
  1. VII. KESIMPULAN

Tafsir yang dikenal dengan nama tafsir birriwayah ini (bilma’tsur), sudah mulai antara lain tafsir sufyan bin umayyah, tafsir waki ibnu al-jarrah, tafsir  adam bin abi ilyas dan yang lainnya, kecuali tafsir ibnu jarir yang dikarang oleh Abu ja’far mohammad ibnu jarir yazid ath-thabari (224.H-310.H) beliau juga menerangkan pandangannya tentang pendapat mana yang kuat dari beberapa pendapat yang di kemukakan dan yang ditarjihkan sebagian atas yang lain.

Dapat disimpulkan disimpulkan pada tafsir bilma’tsur terdapat sisi kelemahan dan kelebihan antara lain kelebihan pada tafsir ibnu jarir, diakui oleh para ulama’ bahkan Annawawi dalam tahdzibnya berkata “Kitab ibnu jarir dalam bidang ilmu tafsir, adalah kitab yang tidak ada bandingannya “ (Ash-shiddieqy,2002,227), sedangkan sisi kelemahan pada tafsir bilma’tsur  antara lain tercampur baurnya riwayat yang shahih dengan yang tidak shahih, an masuknya kisah-kisah israiliyat.

  1. VIII. PENUTUP

Bagaimanapun segala sesuatu hal sudah barang tentu akan terdapat sisi kelemahanya,  hal itu merupakan perinsip sunnatullah. Dan harapan pemakalah semuga pembaca dan audien’s bisa memahami serta mampu menarik benang sutra yang tersirat diantara alinea ke alinea, juga pemakalah mengakui akan banyaknya kekurangan dan pembahasan topic ini , oleh kerana itu diharapkan sumbangan pemikiran dan keritikan yang membangun.

Pada ahir penulisan ini, pemakalah ingat akan suatu ayat dalam surat Al-waqiah:79.

žw ÿ¼çm¡yJtƒ žwÎ) tbr㍣gsÜßJø9$# ÇÐÒÈ

79.tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.(Depag,1993:)

Yang di tafsirkan oleh Muhaimin dalam bukunya “bahwa isi kandungan Al-quran tidak akan tidak akan diperoleh seseorang , kecuali dengan ketulusan dan kesucian hati, br㍣gsÜßJ di sini diartikan kesucian hati.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Ash-Shiddieqy Mohammad hasbi, Ilmu-ilmu Al-quran, PT. Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2002

……………….Ulumul Quran, PT. Pustaka   Rizki Putra, Semarang, 2009

Ash-Shabuni Mohammad. Ali. Penerj. Amnuddin, Attibyan fii ulumi quran,(Studi Ulumul Alquran), CV. Pustaka Setia.  bandung,1998

Arifin Junaidi, Akhmad, Pembaruan Metodologi TAfsir Al-Quran, CV.Gunung Jati Semarang, 2000

Al-Zarqani,manahil al-irfan filulumul al-quran, isa babeil halaby wa-sirkah, mesir

Baidan, Nasruddin. Metode Penafsiran Al-Quran, Pustaka Pelajar. Yogyakarta, 2002

Departemen Agama, Al-Quran dan terjemahan, Semarang,1993

Goldziher Ignez, Perjmh,Alaikah Salamullah Mazhab Tafsir Dari Klasik sampai Moderen. eLSAQ Pres Yogyakarta. 2006

Haryono,M.Yudhie, R, Bahasa Politik Al-quran, Mencurigai makna tersembunyi di balik teks, PT.Gugus Press, Bekasi, 2002

Muhaimin, dkk. Kawasan Dan Wawasan Studi Islam Prenada Media. Jakarta, 2005

Quraisy Syihab, Muhammad, Membumikan Al-Quran, Mizan, Bandung, 1999

Suryadilaga, M. Al-fatih dkk. Metodologi ilmu tafsir, Teras, Yogyakarta, 2005

Zuhdi, Masyfuk H. Pengantar Ulumul Quran, CV. Karya Adi Fana, Surabaya, 1993