beberapa renungan pasca 1 muharam tahun baru islam 1431 Hijriyah

by budi santosa.

sejarah adalah tidak lebih dari sekedar kumpulan catatan peristiwa politik, negara, budaya, dan peradaban masa lalu yang diceritakan pada masa sekarang, demikian kira-kira Ibnu Khaldun dalam muqaddimahnya menggambarkan persepsinya tentang sejarah. islam sebagai sebuah agama yang diturunkan Allah SWT, ke muka bumi untuk manusia dan seluruh alam telah menorehkan catatan peristiwa sejarah yang turut membangun peradaban umat manusia. setiap tahun dalam kalender islam kita memperingati tahun baru islam 1 muharam, maka kita akan teringatkan oleh peristiwa hijrah Rasululah dari Makkah ke Madinah. peristiwa hijrah Rasulullah inilah yang oleh Umar bin Khattab dijadikan sebagai titik awal kalender islam. walaupun di Indonesia umat islam mendominasi secara kuantitas bahkan terbesar di dunia, akan tetapi kalender islam masih kalah bersaing dengan kalender masehi. hal ini bisa kita lihat dengan mudah, antusiasme masyarakat dalam merayakan tahun baru islam ini masih kurang “terdengar nyaring” sebagaimana masyarakat merayakan tahun baru masehi yang sebentar lagi akan dirayakan, tentunya dengan terompet tahun baru dan segudang instrumen perayaan pergantian tahun paling gegap gempita sedunia itu. “tetapi ya sudahlah saya tidak akan membanding bandingkan perayaan kedua tahun baru tersebut”, saya akan mengajak pembaca untuk sedikit merenungkan peristiwa hijrah Rasulullah. saya melihat bahwa Rasulullah adalah sosok yang mempunyai tingkat kecerdasan tinggi dalam membaca peluang dimana dan bagaimana islam dapat berkembang dengan pesat dan baik. maka Rasulullah memutuskan kota Madinah sebagai wadah untuk pengembangan islam di masa-masa yang akan datang. maka zaman dinasti abbasiyah yang disebut sebut sebagai zaman keemasan islam sebagai salah satu bukti keputusan hijrah Rasulullah adalah keputusan yang tepat. sekilas dari peristiwa hijrah ini, ada hal penting yang patut kita renungi bersama, bahwa menurut saya pengertian hijrah dalam konteks kehidupan kita ummat islam sekarang adalah perpindahan dari tradisi kejumudan menuju tradisi yang dinamis dan tercerahkan. realitas sosial, ekonomi, keilmuan, pendidikan dan lain sebagainya, islam masih berada jauh dari harapan. kita umat islam, saat ini membutuhkan semangat dan spirit yang dibangun Rasulullah ketika melakukan hijrah. oleh karena itu peringatan 1 muharam sebagai permulaan tahun dalam kalender islam, seharusnya bukan hanya dijadikan rutinitas seremonial belaka. saya melihat kita saat ini terjebak oleh apa yang saya sebut sebagai “penyakit rutinitas” menunaikan acara-acara seremonial peringatan tahun baru islam, tanpa ada bekas apalagi perubahan kehidupan umat islam secara menyeluruh, walaupun memang tidak mungkin dengan hanya memperingati tahun baru islam, maka dalam sekejap islam akan menemukan masa keemasannya. hanya saja saya mengajak para pembaca untuk menjadikan peringatan tahun baru islam ini untuk merenungkan catatan akhir tahun dan merenungkan catatan apa yang akan ditulis dalam buku harian kehidupan kita sebagai umat islam. belajar dari sejarah adalah tradisi para tokoh besar dunia, maka kita umat islam diwarisi gudang sejarah yang seharusnya kita membuka pintu gudang sejarah itu dan mengambil helai demi helai lembaran sejarah itu untuk kita pelajari dan renungkan sebagai referensi kita untuk menjalani kehidupan di tahun-tahun yang akan datang. saya akan tutup tulisan singkat dan sederhana ini dengan sebuah pesan Rasulullah “siapa orang yang hari sekarangnya lebih baik dari hari kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. siapa orang yang hari kemarinnya sama dengan hari sekarang maka dia termasuk orang yang merugi. siapa orang yang hari sekarangnya lebih buruk dari hari kemarinnya maka dia termasuk orang yang dilaknat”. pertanyaannya adalah pada posisi yang manakah kita berada? jawabannya ada pada diri kita masing-masing…selamat menjawb. wallahua’lam bissawab….

One thought on “beberapa renungan pasca 1 muharam tahun baru islam 1431 Hijriyah

Komentar ditutup.