Awas, Salman Rushdie Hendak Bikin Ulah

ATLANTA–
sumber tulisan : http://www.republika.co.id
Ingat Salman Rushdie? Sosok yang menggunakan nama Islami tapi mencari popularitas dengan cara menghina Islam. Pria kelahiran India 19 Juni 1947 ini namanya melejit setelah menulis novel yang menghina Islam berjudul Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Kini dia hendak bikin ulah lagi.

Dalam waktu dekat, dia akan menulis buku yang menceritakan kehidupannya setelah Ayatullah Khameini menjatuhkan fatwa mati. Begitu novel yang melecehkan Islam itu terbit tahun 1988, Khameini memang langsung menjatuhkan fatwa mati untuk Salman Rushdie. “Ini cerita tentang saya, dan saya harus memberitahukannya,” kata dia saat berkunjung ke Universitas Emory, Atlanta, seperti dikutip guardian.co.uk.

Selama ini, kata dia, catatan soal kehidupannya setelah menerima fatwa mati tersimpan di kotak dan komputer rusak. Dia pun menyatakan sangat sulit untuk mengumpulkannya kembali. Tapi, menurut dia, sekarang semua data yang telah dikumpulkannya itu telah terorganisir dan tinggal menuangkannya dalam tulisan.

Saat ini adalah tahun ke 21 bagi Salman Rushdi dalam menjalani kehidupan setelah mendapatkan fatwa mati. Khameini juga punya alasan yang sangat kuat untuk mengeluarkan fatwa tersebut. Novel Ayat-ayat Setan berisi penjelasan yang sangat menghina Islam. Di situ antara lain disebutkan bahwa Nabi Muhammad menderita gangguan jiwa.

Setelah mendapat fatwa mati, dia malah mendapat perlindungan dari pemerintah Inggris. Dengan sikap itu, tahun 1988 Iran pun memutuskan hubungan diplomatik dengan Inggris. Tak hanya itu, banyak lembaga dukungan Barat pun memberikannya penghargaan setelah berhasil menghina Islam

6,5 Juta Perempuan Indonesia Buta Aksara


sumber tulisan : http://www.republika.co.id
JAKARTA–Jumlah perempuan Indonesia yang sudah melek huruf masih rendah. Hal itu terbukti dari masih tingginya jumlah perempuan yang buta aksara di berbagai kalangan, yakni mencapai 64 persen.

Persoalan ini dikarenakan banyaknya perempuan yang tidak punya akses pendidikan dan drop out (DO) atau putus sekolah dari bangku sekolah lantaran tidak ada biaya atau kemiskinan.

Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), Hamid Muhammad mengatakan, jumlah perempuan buta aksara sekitar 6,5 juta orang, sisanya laki-laki atau 3,5 juta orang. Mayoritas perempuan buta aksara berada pada usia 40 tahun ke atas.

Dari data yang dihimpun Kemendiknas angka buta aksara per Desember 2009, sebesar 8,2 juta orang. ”Memang sekitar 64 persen perempuan, berarti dua kali lipat laki-laki, atau 6,5 juta perempuan buta aksara,” tutur Hamid, usai acara Lokakarya Pengalaman Terpetik Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan, di Kantor Kemendiknas, Rabu malam (24/2).

Hamid mengungkapkan, penyebab buta aksara adalah budaya, tidak ada akses, dan angka putus sekolah. Ia mengamati, buta aksara umumnya tidak pernah masuk sekolah, dan pernah sekolah tapi DO. ”Yang kami harapkan tidak terjadi lagi karena biasanya sekarang dibantu sehingga ke depan proporsi perempuan yang buta aksara dapat ditekan,” jelasnya.

Upaya yang akan dilakukan untuk mengurangi buta aksara perempuan, lanjut Hamid, adalah mengurangi sumber buta aksara, yakni yang tidak sekolah, dan DO. ”Tugas di sekolah menekan itu, yang DO harus ditekan seminimal mungkin, karena sekarang saja di SD ada 480 ribu perempuan yang DO, kalau mereka tidak baca nulis sekian lama biar kelas 4 atau 5 nantinya akan buta aksara kembali,” ungkapnya.

Yang kedua, kata Hamid, memberi akses pendidikan bagi anak di daerah terpencil, anak jalanan, dan yang tidak mampu secara finansial. Sementara, lanjut dia, untuk menarik minat warga kelompok umur di atas 40 tahun kembali belajar membaca, menulis, dan menghitung, pihaknya memperkenalkan pula program kewirausahaan.

Pelaku Nikah Siri Terancam Kurungan 3 Bulan


sumber tulisan : http://www.kompas.co.id
JAKARTA, KOMPAS.com- Rancangan undang-undang (RUU) peradilan agama tentang perkawinan sudah diajukan Kementerian Agama kepada Presiden Susuilo Bambang Yudhoyono untuk selanjutnya diratifikasi.

Dalam RUU tersebut terdapat pasal yang mengatur sanksi pidana bagi para pelaku nikah siri. Apabila terbukti melakukan nikah siri, para pelakunya terancam dikenai hukuman kurungan maksimal tiga bulan dan denda maksimal Rp 1 juta.

Terkait aturan tersebut, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maaruf Amin menilai wajar apabila para pelaku nikah di bawah tangan dikenai sanksi pidana. “Tidak berlebihan saya kira kalau pelaku nikah siri, lebih tepatnya nikah di bawah tangan mendapat sanksi kurungan. Tapi kalau perbuatannya memang layak diberikan sanksi kurungan,” ungkapnya, Selasa (15/2/2010).

Menurut Maaruf, pelaku nikah siri layak dikenai sanksi pidana apabila pernikahan yang dilakukannya berpotensi merugikan banyak pihak. “Merugikan anak-anak dan keluarganya, menzalimi orang lain, anak-anak jadi tidak dinafkahi atau terabaikan, dan lainnya. Saya kira parameternya luas, agama juga mengaturnya,” ujarnya.

Yang jelas, Ketua Komisi Fatwa MUI itu mengaku mendukung adanya aturan sanksi pidana bagi para pelaku nikah siri asalkan aturan tersebut membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

PBNU : Jangan Ada Kebebasan Mendirikan Agama Baru

sumber tulisan : http://www.republika.co.id
JAKARTA–Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ahmad Bagdja mengatakan, penistaan agama akan semakin mendapat tempat di Indonesia, jika Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugatan UU No 1 tahun 1965 tentang penodaan agama. ”Jika gugatan itu dikabulkan, penistaan agama akan semakin marak,” tandas Ketua PBNU Ahmad Bagdja kepada wartawan di Kantor PBNU Jakarta beberapa hari lalu.

Menurutnya, UU tersebut masih sangat dibutuhkan di Indonesia. Karena itu, PBNU meminta MK untuk tidak menggabulkan gugatan sejumlah tokoh dan LSM itu. Ya, kita masih membutuhkan UU itu,” tegas mantan Ketua Umum PB PMII ini.

Kebebasan dalam iklim demokrasi sekalipun tidak dapat dinikmati dengan keluasan yang seluas-luasnya. Apalagi menyangkut keyakinan. ”Kebebasan berkeyakinan tidak bisa diartikan, setiap orang bisa bebas mendirikan agama baru,” tandas calon Ketua Umum PBNU ini.

Lebih lanjut, ia mengatakan, pencabutan UU penodaan agama akan menjadi preseden buruk bagi Negara demokrasi yang plural seperti Indonesia. ”Saya kira sudah bagus ada UU itu sebagai suatu pengaturan tentang bagaimana sebuah bangsa yang plural,” katanya.

Bagdja menilai elemen masyarakat yang menginginkan UU tersebut dicabut menunjukkan ketidakpahaman mereka tentang keyakinan keagamaan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat.

Bagdja melihat bahwa tuntutan tersebut dibingkai paradigma yang keliru soal definisi keyakinan atau kepercayaan dan agama. “Saya kira yang menolak itu tidak mengerti soal fungsi dan tentang keyakinan keagamaan,” kata Sekjen PBNU pada era kepemimpinan Gus Dur ini.

Ia melihat tuntutan tersebut dibingkai paradigma yang keliru soal definisi keyakinan atau kepercayaan dan agama. ”Apa yang mereka maksud dengan agama itu? Kita tidak bisa menyebut apa yang dimaksud dengan keyakinan atau kepercayaan seperti yang mereka katakan itu sebagai sebuah agama,” tuturnya.

Seperti diketahui, gugatan UU No 1 Tahun 1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama diajukan oleh 7 LSM yakni Imparsial, Elsam, PBHI, Demos, Perkumpulan Masyarakat Setara, Desantara Foundation, dan YLBHI.

Materi yang digugat, antara lain Pasal 1 UU yang menyebutkan, ”Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.”

Materi lainnya adalah Pasal 2 ayat (1) berbunyi, ”Barang siapa melanggar ketentuan tersebut dalam pasal 1 diberi perintah dan peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya itu di dalam suatu keputusan bersama Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.”

Tiga materi lainnya berkenaan dengan Pasal 2 ayat (2), Pasal 3, dan Pasal 4. Para penggugat menilai, ada beberapa pasal dalam UU itu yang tidak sesuai dengan ihwal kebebasan beragama yang diamanatkan oleh UUD 1945.
Redaksi – Reporter
Red:
taqi
Reporter:
osa

Mulla Sadra: Berbicara tentang Jiwa


sumber tulisan : http://www.republika.co.id
Bagi Sadra, jiwa merupakan substansi.
Jiwa, menarik minat Sadr ad-Din Muhammad Shirazi. Cendekiawan Muslim, yang lebih dikenal dengan nama Mulla Sadra ini, membahas tentang jiwa dalam kajian filsafat yang ia tekuni. Dan, dalam bidang ini, ia menuliskan karya penting. Salah satunya, Al-Hikmah al-Muta’aliyyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba’ah .

Dr Kholid Al Walid, pengajar di Islamic College, Jakarta, dalam Seminar ”Nasional Filsafat dan Mistitisme Islam, Ibnu Arabi dan Mulla Sadra,” di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 16 Januari 2010 lalu, mengatakan, Sadra membahas soal jiwa dalam satu jilid penuh bukunya itu. Buku tersebut terdiri atas delapan jilid.

Dalam karyanya itu, Sadra menyodorkan serangkaian bukti tentang keberadaan jiwa. Ia mengatakan, wujud mumkin merupakan wujud paling utama dan tidak ada kesia-siaan dalam penciptaannya atau dikenal dengan istilah Imkan al-Asryaf wa ‘Adam Abatsiah Khalq al-Mumkinan . Ia pun memberikan penjelasan mengenai hal ini.

Ketika Allah SWT menciptakan makhluk-makhluk-Nya, Dia memulainya dengan penciptaan zat yang paling utama dan sempurna. Zat pertama yang diciptakan, ungkap Sadra, memiliki kualitas yang tak terbatas karena kedekatannya dengan Sang Pencipta dan merupakan ciptaan yang pertama.

Sedangkan zat berikutnya, memiliki tingkat kesempurnaan yang sama dengan zat yang pertama. Namun, kualitasnya di bawah zat yang pertama itu. Sadra pun menyatakan, proses aktualisasi potensi menjadi aksi merupakan proses penyempurnaan wujud. Ini menunjukkan bahwa setiap bentuk wujud tak sia-sia diciptakan.

Menurut Sadra, hal ini hanya bisa terjadi jiwa pada wujud mumkin tersebut dan terdapat elemen yang menggerakkan aktualisasi, yakni jiwa. Ia pun melontarkan bukti lainnya mengenai keberadaan jiwa. Dalam hal ini, ia membicarakan tentang efek dari materi. Misalnya, tentang indera yang bisa mempersepsi apa yang terdapat di sekitarnya.

Pun, mengenai indera yang bisa mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya. Menurut dia, hal ini hanya bisa terjadi jika ada jiwa. Sebab, jika ada materi, tapi tidak memiliki jiwa, materi tersebut tidak mungkin bisa mempersepsikan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Sadra menyampaikan pula hal penting lainnya mengenai keberadaan jiwa. Menurut dia, kehidupan adalah jiwa atau al-Hayah Hiya al-Nafs . Terkait hal ini, ia mengatakan, berbagai macam makhluk memiliki indera dan mampu mempersepsi berbagai macam gambaran. Sehingga, makhluk tersebut bisa disebut sebagai makhluk hidup.

Indera yang mempunyai kemampuan untuk mempersepsikan berbagai macam objek itu, ungkap Sadra, berasal dari tiga kemungkinan, yakni sumber utama yang disebut jiwa, fisik yang mempunyai jiwa, atau fisik. Namun, ia menegaskan, kemampuan indera untuk mempersepsikan berbagai objek itu bersumber dari jiwa.

Di sisi lain, Sadra menolak pendapat yang menyatakan bahwa kemampuan indera untuk mempersepsikan objek berasal dari fisik yang mempunyai jiwa. Sebab, fisik sendiri dikendalikan oleh jiwa sehingga jiwalah yang sebenarnya mampu mempersepsikan objek-objek itu. Pandangan bahwa kemampuan indera mempersepsi objek disebabkan fisik, juga ditentang.

Sebab, kata Sadra, fisik itu tidak akan hidup tanpa ada jiwa. Dalam membahas masalah ini, Sadra memberikan contoh. Sebuah perahu, kata dia, akan memberikan manfaat tertentu bagi manusia. Ini terwujud jika ada yang mendayung atau mengendalikannya, yaitu manusia. Tanpa ada orang yang mendayungnya, perahu itu akan kehilangan makna.

Menurut Sadra, perahu itu menjadi materi yang tak bermanfaat. Dengan demikian, bentuk fisik membutuhkan sesuatu yang lain selain dari dirinya. Lebih lanjut, ia melihat jiwa sebagai substansi. Artinya, beragam efek, seperti tumbuh, bergerak, dan berkembang biak pada manusia ataupun binatang disebabkan oleh apa yang ada dalam dirinya.

Namun, diri yang berada di dalam makhluk hidup tersebut bukanlah raga materi melainkan jiwa. Segala bentuk yang menjadi lokus dan sandaran bagi sesuatu adalah substansi. Dan, Sadra menyimpulkan bahwa jiwa adalah substansi. Ia menambahkan pula, terjadinya jiwa bersamaan dengan terbentuknya fisik.

Raga dan jiwa
Sadra menjelaskan, baik jiwa maupun materi pada awalnya, sama-sama berawal dari materi. Materi itu terdiri atas dua unsur, yakni forma dan materi dasar. Lalu, dalam perkembangannya, forma berubah menjadi jiwa dan materi dasar berubah menjadi fisik. Pandangan Sadra ini berbeda dengan pandangan para filsuf sebelumnya.

Sebab, para filsuf itu menganggap bahwa jiwa terlebih dahulu diciptakan, baru setelah itu fisik diciptakan lalu keduanya bersatu dan saling berkaitan. Namun, Sadra juga memiliki pandangan yang hampir sama dengan para filsuf lainnya. Ini soal keterkaitan antara raga dan jiwa.

Para filsuf Muslim menyatakan, jiwa akan tetap hidup meskipun raga telah hancur. Hal itu terjadi karena jiwa bersifat transenden dan tidak bergantung pada raga kecuali sebagai identitas bagi dirinya. Keberadaan jiwa itu menjadi lokus bagi keberadaan raga, namun tidak sebaliknya.

Seorang filsuf yang juga dokter, Ibnu Sina, mengatakan, sesungguhnya jiwa tidaklah mengalami kematian dengan matinya raga. Bahkan, kata dia, jiwa tidak mengalami kehancuran sedikit pun. Tanpa adanya jiwa, raga tak bisa dibangkitkan. Kebangkitan akan terjadi jika jiwa itu ada. Sadra juga memiliki pandangan serupa.

Sadra berpendapat, jiwa tidak mungkin mengalami kehancuran sebab potensi tersebut bukanlah substansi jiwa. Menurutnya, sesuatu yang mempunyai potensi kehancuran adalah sesuatu yang bisa hancur dan itu adalah materi. Sedangkan jiwa, itu merupakan substansi yang bersifat transenden. Sehingga, jiwa tidak mungkin mengalami kehancuran.

Ikatan antara jiwa dan raga, ujar Sadra, merupakan ikatan keharusan atau luzumiyyah . Keterikatan keduanya adalah keterikatan keharusan, seperti ikatan antara materi dan forma. Dalam pandangan dia, raga membutuhkan jiwa secara mutlak dalam aktualisasinya. Sedangkan jiwa, memerlukan raga dari segi keberadaan personalitas dan identitasnya.

Oleh karena itu, Sadra menyimpulkan, posisi raga hanya sebagai reseptif, penerima. Ketergantungan raga terhadap jiwa, ujar dia, adalah ketergantungan mutlak. Ketergantungan ini tak akan lenyap selama jiwa bersamanya dan tidak akan ada, jika jiwa tidak ada.

Kisah Mulla Sadra

Mulla Sadra lahir di Shiraz, Iran, pada 1571 Masehi. Pada 1591, ia pindah ke Qazvin, lalu ke Isfahan pada 1597. Hal ini dilakukan dalam rangka untuk menimba ilmu dalam bidang filsafat dan teologi. Ia memiliki banyak guru, di antaranya adalah Mir Damad.

Sadra menuntaskan pendidikannya di Isfahan yang merupakan pusat intelektual dan kebudayaan termuka pada masa itu. Beberapa waktu kemudian, ia menghasilkan sejumlah karya. Di antaranya adalah Asfar atau Perjalanan .

Karya tersebut berisi sebagian besar filsafatnya yang dipengaruhi oleh pemikiran pribadinya selama ia menyepi di Kahak, sebuah desa dekat Qom, Iran. Ia pun kemudian menjelma menjadi seorang filsuf yang memiliki pemikiran-pemikiran gemilang.

Sadra pun mampu menyerap pemikiran sejumlah filsuf ternama, kemudian mengelaborasinya. Ia mengkaji pemikiran filsafat Ibnu Sina, filsafat iluminasi yang diusung Shihab al-Din al-Suhrawardi, dan metafisika sufi yang dilontarkan Ibnu Arabi.

Setelah lama meninggalkan kampung halamannya, seorang gubernur dari Provinsi Fars meminta Sadra untuk kembali ke Shiraz. Ia pun memenuhi permintaan tersebut. Ia diminta untuk megajar. Kemudian, ia mengajarkan ilmunya kepada banyak murid.

Namun, saat terakhir masa hidupnya, Sadra ditakdirkan tak berada di Shiraz. Mengutip laman muslimphilosophy , maut menjemputnya ketika ia berada di Basra, Irak. Ia lalu dimakamkan di Najaf. Ia mengembuskan napas terakhir saat dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Red:
taqi
Reporter:
Dyah Ratna Meta Novi

Berlebihan, Pecat Siswa Gara-gara Facebook

sumber tulisan : http://www.republika.co.id
TANJUNGPINANG – Wali Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Suryatati A Manan, menilai berlebihan tindakan sekolah yang mengeluarkan empat siswa lantaran menghina gurunya melalui situs jejaring sosial Facebook. “Pihak sekolah sepertinya terlalu berlebihan, anak-anak tersebut juga punya hak untuk belajar,” kata Suryatati usai menghadiri perayaan Tahun Baru Imlek 2561 di Jalan Merdeka Tanjungpinang, Ahad.

Suryatati mengatakan, seharusnya anak-anak tersebut dibina terlebih dahulu sebelum ada tindakan terakhir yang dilakukan oleh pihak sekolah. “Saya akan panggil Kepala Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang,” kata Suryatati.

Sementara itu, Gubernur Kepulauan Riau, Ismeth Abdullah, mengaku belum mengetahui permasalahan adanya empat orang siswa-siswi di SMA 4 Kota Tanjungpinang yang dikeluarkan dari sekolah karena menghina seorang guru perempuan dengan kata-kata kotor melalui jejaring sosial Facebook. “Saya akan cek dulu, nanti saya akan panggil Wali Kota Tanjungpinang,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang, Ahadi, menilai tindakan sekolah mengembalikan empat orang siswanya kepada orang tua sudah sesuai aturan. Pengembalian siswa ini akibat mereka melakukan penghinaan di jfacebook terhadap seorang guru. “Kami menilai tindakan yang diambil pihak sekolah sudah sesuai aturan dan kami mendukung tindakan yang diambil pihak sekolah untuk mengembalikan siswa tersebut kepada orang tuanya,” kata Ahadi.

Menurut Ahadi, empat orang siswa SMA 4 Tanjungpinang itu semestinya tahu akibat tindakan mereka itu kredibilitas sang guru tercemar di dunia maya. “Seluruh guru juga sepakat untuk mengembalikan mereka kepada orang tuanya, karena tindakan mereka bukan sekali itu saja melakukan tindakan yang tidak pantas, kalau sekali mungkin masih diberikan teguran atau surat peringatan,” katanya.

Wakil Kepala Sekolah SMA 4 Tanjungpinang, Yose Rizal menyebutkan, kata-kata yang ditulis siswanya tersebut di situs jejaring sosial itu sudah menyebut sesuatu yang sensitif bagi seorang perempuan.

Inilah Ciri-ciri Anak Kecanduan Pornografi


KUDUS, KOMPAS.com- Pakar psikologi anak Elly Risman mengimbau orangtua untuk memantau kegiatan anak-anaknya ketika menggunakan media elektronik, seperti internet, game, DVD, dan sejenisnya. Sebab, di media-media tersebut banyak terkandung materi pornografi.

Jika anak biasa mengonsumi materi pornografi itu, maka lama-lama anak akan kecanduan. Lalu, apa saja sih sebenarnya ciri-crii anak yang kecanduan pornografi. Berikut adalah ciri-ciri yang disampaikan Elly, Sabtu (13/2/2010) dalam sebuah seminar di Kudus, Jawa Tengah.

Berikut adalah ciri-ciri anak yang kecanduan pornografi:

– mudah haus

– sering buang air kecil

– sering berkahayal

– sulit konsentrasi,

– sering bermain “play station” dan internet dalam waktu yang lama,

– prestasi akademik menurun.

Kenapa anak menjadi sasaran pemasaran pornografi? Menurut elly, itu terjadi karena anak-anak menjadi pasar masa depan, mental model pornografi, perpustakaan porno pada anak yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja.

“Pembuat pornografi juga menginginkan sasarannya mengalami kerusakan otak permanen,” katanya. Banyaknya kalangan anak remaja yang kecanduan pornografi, disebabkan karena sejumlah faktor. Salah satunya, karena orang tua tidak memiliki waktu yang cukup untuk anak, kurang tanggap dan gagap teknologi, serta pendidikan agama dan pengontrolannya masih kurang.

Untuk menghindarkan anak remaja kecanduan pornografi, dia menganjurkan, kepada orang tua untuk menghadirkan Allah SWT dalam dirinya. “Anak juga harus dibantu untuk berfiikir kritis, memilih, dan mengambil keputusan,” katanya.

Selain itu, orang tua juga harus mengupayakan agar anak tetap memiliki harga diri dan melatih memiliki rasa belas kasihan, demikian Elly Risman.