Pelajaran Agama Ditambah, Ulama Ikut Mengajar

Laporan wartawan KOMPAS Yulvianus Harjono
Senin, 1 Februari 2010 | 17:28 WIB

KOMPAS/NUR HIDAYATI
Ilustrasi: Bagi mereka yang muslim, siswa baru juga diwajibkan memiliki ijazah Diniyah Awaliyah, sementara SMA/SMK berupa ijazah Diniyah Wustho.
BANDUNG, KOMPAS.com – Pemerintah Kota Banjar, Jawa Barat, melakukan improvisasi di bidang pendidikan dengan menambah jam mata pelajaran Agama. Uniknya pula, pelajaran Agama ini langsung diampu oleh para ulama setempat.

“Ini kami lakukan karena selama ini ada kritik bahwa pendidikan budi pekerti di sekolah sangat kurang”
— Saeful Akbar

Diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjar Saeful Akbar, Senin (1/2/2010), penambahan jam mata pelajaran Agama itu dilakukan selama dua jam per minggu. Itu dilakukan tidak hanya untuk SD, melainkan di seluruh jenjang pendidikan, yaitu hingga SMA. Kini, pelajaran Agama di Banjar mencapai 4 jam per pekan.
“Ini kami lakukan karena selama ini ada kritik bahwa pendidikan budi pekerti di sekolah sangat kurang,” ujarnya menyebutkan alasan kebijakan Pemkot Banjar memberi tambahan jam pelajaran Agama tersebut di sekolah.
Para pengajarnya, ucapnya, adalah para ulama. “Kami bekerjasama dengan MUI Kota. Mereka pun digaji dari APBD,” ungkapnya kemudian.
Di Banjar, bagi mereka yang muslim, siswa baru juga diwajibkan memiliki ijazah Diniyah Awaliyah, sementara SMA/SMK berupa ijazah Diniyah Wustho. Lembaga-lembaga setingkat Diniyah ini mendapat bantuan dari APBD setempat.

One thought on “Pelajaran Agama Ditambah, Ulama Ikut Mengajar

  1. Bagus juga trobosannya…tapi pada hakikatnya itu juga tugas orang tua dengan menciptakan lingkungan religi dirumah, masyarakat dengan menghidupkan majelis-majelis serta menghidupkan mushola dan masjid, pemerintah dengan kebijakan dan program yang yang mendukung…jangan cuma sekolah yang djadikan ‘kambing hitam’ kalau ada akhlak yang bobrok…

Komentar ditutup.