Kenapa Sekolah Alam, Inilah Alasan Mereka…


JAKARTA, KOMPAS.com – Belum semua orang tua percaya pada sekolah alam, sehingga tetap bergeming memilihkan sekolah konvensional bagi putra-putrinya. Tapi, bagi sebagian orang tua lain, memilih sekolah alam adalah satu kebutuhan untuk mengubah paradigma pendidikan bagi masa depan anak-anaknya. Kenapa?

Nuning (36), orang tua siswa dari Naswa (5) dan Faras (11), mengaku membawa kedua putrinya bersekolah di sekolah alam adalah karena mencari alternatif yang berbeda dari sekolah konvensional untuk memberi pendidikan anak-anaknya. “Paradigmanya sudah berubah buat saya. Selama ini anak belajar penuh keterpaksaan, dikejar target dengan hapalan-hapalan yang sebetulnya tidak tepat untuk periode usia emas mereka, di sini anak belajar sesuai keinginan dan penuh kepraktisan yang memang sudah semestinya,” ujar Nuning.

Menurutnya, kemandirian dan skill kepemimpinan kedua anaknya yang duduk di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar di dua sekolah alam yang berbeda itu sangat terbangun. “Keberanian dan rasa percaya dirinya berkembang dengan baik di luar perkiraan saya, karena memang di sekolah ini life skill itu dipentingkan dan diselaraskan dalam semua materi pembelajaran. Anak saya benar-benar mandiri,” ujar Nuning.

Sementara itu, menurut orang tua siswa lainnya, Romy (42), memilih sekolah alam buat mendidik anaknya adalah untuk mendapatkan ilmu yang berbeda dari yang pernah Romy dapatkan ketika bersekolah di sekolah konvensional dulu. “Dulu itu murid takut dengan gurunya, di sini malah gurunya yang dipanggil-panggil terus oleh siswanya. Saya lihat, anak-anak bisa enjoy belajar tanpa tekanan apapun, itu yang terpenting,” ujar orang tua siswa dari Ruhama Afifah (13), Zahra (9) dan Syamila (4), yang semuanya disekolahkan di Sekolah Alam Indonesia (SAI) ini.

Romy mengatakan, ketimbang anak-anak lain seusia anaknya, perkembangan anaknya jauh lebih cepat dan matang, selain juga lebih mandiri. Romy meyakini, semua itu berkat pembelajaran di sekolahnya. “Saya tahu, di sekolah dia tidak dicetak untuk punya nilai bagus, tapi mampu menjadi pribadi yang mandiri dan berani mengambil keputusan selama mengikuti proses pembelajaran. Saya yakin, kemampuan akademis bisa dikejar, tetapi kemandirian, budi pekerti dan soft skill lainnya itu harus ditempa sejak di usia emasnya,” ujar Romy.

Penuturan lain, yang sebetulnya sama, juga dilontarkan oleh Mei (36). Ia menyekolahkan putrinya, Zia (7), di sekolah alam karena menginginkan perubahan pada cara mengedukasi anaknya. “Secara visi dan misi sekolah alam itu sama dengan saya, yaitu menempa kemandirian anak dan leadership-nya. Bukan soal prestasi, tapi bagaimana membuat anak terus memiliki keinginan berpikir ilmiah dan bisa memanfaatkan ilmunya dengan baik,” ujar Mei.