PARA PEMBACA TUHAN


Tuhan ada di dalam langkah
Tuhan ada di dalam darah
Tuhan ada di mana-mana
Tuhan ada dan menyatu di dalam diri
Konon, sebuah tim astronot Amerika mencari Tuhan di bulan. Mereka datang dengan sebuah pesawat dengan motivasi mencari sebuah kehidupan baru dan sekaligus mencari Tuhan. “Apakah betul Tuhan ada di sana” Tanya ketua tim pemberangkatan. Tidak ada sesuatu yang dapat membawa mereka kepada sebuah kesimpulan mengenai keberadaan Tuhan. Tidak ada tanda-tanda Tuhan di bulan. Apalagi mencari wujud Tuhan seperti keinginan Nabi Musa di bukit Tursina. Mereka kecewa, lalu berkesimpulan bahwa Tuhan tidak ada. Seorang anggota tim yang cerdas kemudian menemukan cara menemukan Tuhan. “Buka baju astronotmu, lepaskanlah tabung oksigenmu dan keluarlah dari pesawat. Karena Tuhan hanya mau ketemu dengan manusia tanpa aksesori dari bumi!”, katanya. Usulan ini rupanya cukup jitu. Seorang kemudian memberanikan diri melakukannya. Ia keluar pesawat tanpa tabung oksigen. Lima menit kemudian napasnya tersengal-sengal. Ia mati di permukaan bulan. Astronot itu memang akhirnya “bertemu” Tuhan di alam baka.
Awal abad XIX seseorang mencari Tuhan di sebuah pasar. Si pencari datang ke pasar pada siang hari dengan membawa lentera. “Aku mencari Tuhan”, katang berulang-ulang. Orang-orang disekitarnya, yang kebetulan tidak percaya Tuhan mengejek dan tertawa terbahak-bahak. “Kenapa, apakah Tuhan tersesat?” kata seseorang. “Apakah Ia tidak tahu jalan seperti anak kecil?” kata yang lain. “Ataukah Ia bersembunyi? Takut pada kita? Apakah Ia sedang bepergian?”, timpal yang lain sambil mencemooh si pencari.
Si pencari bukan orang sembarangan. Dia-lah yang pertama kali memaklumatkan kematian Tuhan. “Tuhan sudah mati! Karena kita membunuhnya”, kata laki-laki itu. Ia kerap ke gereja dan menyanyikan lagu kematian Tuhan, requem acternam dea. Ia menganggap gereja sebagai kuburan Tuhan. Di kemudian hari, orang ini memberikan pengaruh besar terhadap filsafat dan teologi. Ia adalah Friedrich Wilhelm Nietzshe (1844-1900).
Teori Nietzshe tentang “kematian Tuhan” tidak menyurutkan orang untuk mencari Tuhan. Ilmuan modern yang hidup setelah Nietzshe, tidak mencari Tuhan di pasar lagi. Einstein mencari Tuhan di alam semesta dengan ilmu fisikanya. Dengan fisika, ia menuju bagian terdalam alam semesta. Baginya, tuhan tidak bermain dadu dalam menciptakan alam semesta ini. max Planck mencari Tuhan di alam yang lebih kecil, dalam partikel-partikel atomic. Partikel-partikel yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop, menampakkan keghaiban yang tiada tara. Karena pada alam yang paling kecil, tidak ada lagi benda-benda. Yang ada hanya energy dan keghaiban. Charles Darwin bahkan tidak ragu-ragu tentang keberadaan Tuhan.
Filosof benedict Spinoza (1632-1677) bahkan membangun filsafatnya dengan ide-ide ketuhanan. Misalnya ketika ia mengganti “Tuhan Transenden” dengan “Tuhan Imanen”. Termasuk disini dapat disebutkan filosof-filosof muslim seperti al-Kindi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, dan lain-lain. Tak terkecuali, kelompokj teologi Asy’ariyah dengan konsep atomistiknya dan teori-teori geometric dari Umar Khayyam.
Pembacaan untuk menghadirkan Tuhan bukan pekerjaan yang dibangun kemarin sore. Para ahli yang meneliti mitos-mitos kuno menemukan bahwa secara sadar atau tidak, masyarakat telah membuat kodifikasi terhadap perasaan ketuhanan itu. Kodifikasi itu muncul daklam bentuk norma-norma spiritual dan social, ritus-ritus, dan etika sosial.
Psikolog Karl Gustaf misalnya mencatat bahwa kodifikasi itu berlanjut menjadi rujukan-rujukan utama dalam kehidupan. Misalnya, perjanjian baru dan perjanjian lama dalam agama Yudeo-Kristiani, Zarathustra Avesta pada orang Persia, al-Qur’an pada orang Islam, buku kematian (Book of Death) pada orang Mesir dan Tibet, Hesiod’s Theogini, Illiad, dan Odyssei dari Homerus, Virgil Aeneid, Sagus Keltik, Urartian di Armenia, Kojiki di Jepang, naskah-naskah Babylonia, mitos Ugaritik di Palestina dan Suriah, kitab Shi Ching di China, Rig Veda pada orang Hindu, kitab Mahabara dan Ramayana di India, dan lain-lain. Rujukan-rujukan ini telah menjadi bukti shahih bahwa manusia tidak pernah tuntas memanifestasikan apa yang dirasakannya sebagai naluri-naluri bertuhan (Pasiak, 2003:249-259)
Bahkan sampai hari, ketika dunia nyaris dihinggapi demam spiritual setelah sebelumnya kerasukan modernitas, tenggelam dan hanyut dalam gemerlap, hiruk pikuk kehidupan dunia yang ternyata menyebabkan manusia jatuh pada irasionalitas dan dehumanisasi yang mendalam. Orang-orang banyak mencari pemuas untuk ketenangan jiwa, alkoholisme, pergaulan bebas, bunuh diri, adalah bentuk-bentuk praktik pelarian dari kegamangan jiwa dan batin. Spiritualitas dan pencarian Tuhan Sang Adi Kuasa menjadi “kiblat” baru bagi penemuan hakikat kedirian manusia. Karena itu, bagaimana mengkonsruksi bangunan spiritual untuk hari ini (genarasi sekarang) dan masa yang akan datang…..?

disadur dari buku “Tasawuf Alam Tara, membaca alam, membaca diri dan membaca Tuhan”

“GENARASI TERDAHULU TELAH MEWARISKAN TRADISI UNTUK GENERASI MEREKA DAN GENERASI SETELAHNYA, MAKA KITA HARUS MEWARISKAN TRADISI UNTUK GENERASI KITA DAN GENARI YANG AKAN DATANG”
Budi.s