PENDIDIKAN KARAKTER DAN AGENDA PENYELAMATAN KEBANGKRUTAN BANGSA

Sejak bergulirnya era reformasi tahun 1997, sebuah era yang menjadi tumpuan asa dan harapan seluruh rakyat Indonesia atas keterpurukan dan kegelapan rezim orde baru, 14 tahun sudah era reformasi itu bergulir sampai di penghujung tahun 2011 memasuki tahun baru 2012 era itu belum juga menampakkan hasil yang menggembirakan. Bahkan bangsa ini terlihat tidak memiliki masa depan cerah ke depannya, semakin terpuruk dan menuju jurang kebangkrutan. Bangsa ini nyaris bangkrut di semua lini kehidupan dan pelan-pelan namun pasti akan menuju kebangkrutan yang sempurna. Kebangkrutan bangsa dari semua lini itu terlihat lengkap, lihatlah sektor ekonomi yang tidak kunjung membaik, penyakit kemiskinan akut yang sulit terobati, persoalan ini selanjutnya melebar dan menulari perilaku masyakat yang negatif, taruhlah misalnya tingkat kriminalitas yang tinggi, buruknya kesehatan masyarakat, rasa putus asa sebagian masyarakat akan sulitnya perekonomian telah nampak dari beberapa peristiwa yang sulit kita percaya, misalnya sebuah keluarga bunuh diri berjama’ah karena putus asa bagaimana cara mempertahankan keberlangsungan hidupnya, seorang ibu rumah tangga membunuh anaknya lalu ibu itu membunuh dirinya adalah pemandangan yang telah banyak kita saksikan di media-medi elektronik dan media masa. Itulah sederet peristiwa nyata betapa kemiskinan yang dialami bangsa ini telah mencapai taraf yang sempurna. Telah banyak program pengentasan kemiskinan digelindingkan, program-program itu bersifat ad hoc (hanya tidak menyebutkanya instan) yang kemudian melahirkan hasil yang instan pula. Perilaku masyarakat yang hanya mengharapkan bantuan, tidak mandiri, hedonis, konsumtif bahkan semakin nampak.
Lihatlah perilaku koruptif para pelaku dan pemangku jabatan bangsa ini dari atas sampai bawah, dari pusat sampai daerah. Perilaku koruptif para koruptor yang mencuri uang negara ini telah sampai kepada taraf yang paling menghawatirkan dan mematikan, kalau kita menengok sejarah banyak bangsa-bangsa terdahulu masuk ke jurang kehancuran karena perilaku koruptif yang tak terbendung. Rakyat setiap hari dipertontonkan dengan berbagai kasus korupsi yang hampir semuanya menjadi misteri, kasus bank century, kasus suap cek pelawat, yang terakhir kasus korupsi wisma atlet dan hambalang yang terindikasi melibatkan para penguasa di negeri ini. Hampir seluruh lembaga di negara ini tidak luput dari virus korupsi, dan rakyat hanya bisa menonton tanpa bisa berbuat apapun. Atas perilaku korupsi itu, negara kemudian membentuk sebuah lembaga ad hoc yang bernama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), di awal pembentukan lembaga ini, rakyat menaruh harapan besar dengan banyaknya penangkapan pelaku korupsi, namun akhir-akhir ini harapan itu perlahan namun pasti telah sirna, korupsi semakin menjadi-jadi, akhirnya negara ini nyaris kalah dengan para koruptor. Lihatlah penegakan hukum di negara ini yang carut marut, bagaimana mungkin seorang anak pelajar SMP di Sulawesi Utara mencuri sandal diancam hukuman 5 tahun penjara? Bandingkan dengan para koruptor yang hanya mendapat hukuman 2 tahun serta mendapat remisi, amnesti dan sebagainya, Tidak bisakah pencurian sandal jepit diselesaikan secara kekeluargaan serta musyawarah? Kemanakah karakter manusia-manusia Indonesia yang lebih suka mengedepan kekeluargaan, gotong-royong serta musyawarah itu? Karakter dan nilai-nilai luhur bangsa itu bagaikan mutiara-mutiara yang hilang. Lihatlah nasib para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang semakin buruk, buruk diperlakukan di negeri sebrang dan buruk pula diperlakukan di negeri sendiri, di luar negeri mereka mendapat perlakuan yang tidak manusiawi, dianiaya, diperkosa tidak digaji, bahkan dihukum mati tanpa diberikan kesempatan untuk memperoleh bantuan hukum, dan negara ini selalu telat dan lamban melindungi mereka. Mereka para TKI juga kurang mendapatkan pendidikan keTKIan yang maksimal, sehingga mereka terkadang tidak dapat bekerja dengan baik di tempat kerja mereka. Lihatlah pula perilaku dan budaya kekerasan yang kian hari semakin parah. Kekerasan telah menjadi watak dan karakter penghuni negeri ini, baik itu kekerasan oleh aparat negara terhadap warga masyarakat, kekerasan antar sesama warga, tawuran antar pelajar dan mahasiswa serta koflik horizontal semakin menampakkan eksistensinya. Kejadian pelanggaran HAM di Mesuji, penembakan warga di Bima NTB serta yang terakhir penembakan di Aceh, kelihatannya hampir seluruh persoalan diselesaikan dengan selongsong senapan dan ujung parang, sungguh kondisi yang tidak patut diwariskan bagi anak cucu negeri ini. Semua hal di atas telah cukup untuk memberikan kesimpulan bahwa bangsa ini berada di ambang kebangkrutan. Pertanyaan selanjutnya adalah, kepada siapa dan apa rakyat akan menaruh harapan ketika seluruh elemen bangsa ini menyumbang benih-benih kebangkrutan itu? Pembentukan lembaga ad hoc seperti KPK, Komnasham, Komisi Perlindungan Anak, pencanangan program-program program-program kemiskinan, kesehatan, pendidikan sepertinya tidak menjanjikan penyelematan kebangkrutan bangsa ini secara permanen. Semua itu hanya bersifat sementara dan instan bahkan nyaris tak membuahkan hasil yang memuaskan. Seluruh tanda-tanda kebangkrutan itu tidak lain dilakukan oleh manusia-manusia Indonesia sendiri. Mereka pelaku tanda-tanda kebangkrutan itu adalah produk bangsa ini, mereka adalah anak-anak bangsa yang dilahirkan dari bangku-bangku sekolah di negeri ini. Mulai dari mereka diasuh keluarga semenjak kecil kemudian mengenyam pendidikan sampai mereka bekerja dan melakukan tindakan-tindakan korupsi. Karena itu harus ada jalan keluar dari kondisi ini, solusi jangka panjang adalah reformasi pada sektor pendidikan, pendidikan dalam arti luas, pendidikan keluarga, pendidikan formal dan non formal. Karena sektor inilah yang mencetak kader bangsa. Generasi bangkrut ini harus terpotong saat ini dengan melakukan formula baru sistem pendidikan yang melahirkan anak-anak bangsa yang mempunyai good character (karakter yang baik). Karakter seseorang tidaklah muncul secara tiba-tiba, karakter haruslah dibentuk sedari kecil. Semenjak seorang anak berada di lingkungan keluarga, sampai mengenyam pendidikan, lingkungan sosial juga turut membentuk karakter seorang anak.
sebuah iklan yang menarik di media televisi swasta, tentang bagaimana seorang anak yang sejak kecil sudah sering tidak jujur kepada orang tuanya, kemudian di sekolah ia mempunyai kebiasaan menyontek, sampai ia tumbuh dewasa dan dijalanan ia melanggar peraturan lalu lintas dan menyogok aparat kepolisian, dengan istrinya ia melakukan tindakan tidak jujur dengan berselingkuh dan akhirnya ditempat kerja ia akrab dengan melakukan tindakan korupsi dan suap, selanjutnya ia dipenjara. Pesan iklan ini adalah, sesungguhnya perilaku negatif, tidak jujur, menyuap dan sebagainya adalah perilaku yang memang telah terbentuk dari kecil dan dari hal-hal yang kecil dan sederhana, tetapi menjadi karakter yang mengkristal sampai si anak itu tua. Karena itu, jika sektor pendidikan tidak mampu mencegah kepribadian buruk anak negeri ini dan jika sektor pendidikan tidak mampu lagi mencetak kader bangsa yang jujur, amanah, santun serta mempunyai karakter yang baik maka kebangkrutan bangsa sudah tidak bisa terhindarkan lagi. Saya tidak mengatakan bahwa, pendidikanlah yang menjadi resep mujarab untuk menyelesaikan seluruh persoalan bangsa, tetapi saya yakin memperbaiki kondisi bangsa pada konteks jangka panjang adalah sektor pendidikan tempatnya, dari sinilah generasi baru itu terbentuk, walaupun sektor pendidikanpun seringkali terjangkiti wabah perilaku buruk semisal uraian di atas. Kita mungkin sepakat, dengan melihat pengantar di atas, bahwa penghuni negeri ini telah mengalami pengikisan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang menjadi karakter individu-individu warga negaranya, sehingga yang muncul adalah karakter bangsa yang mulai jauh dari cerminan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Menurut saya pembentukan karakter anak bangsa yang baik akan sangat efektif dilakukan melalui jalur pendidikan, tetapi sector pendidikan tidak boleh diberikan sendiri menanggung tugas ini, seluruh komponen bangsa ini harus merasa bertanggungjawab atas upaya-upaya tumbuhkembangnya good character.