MELAKUKAN PEMBELAJARAN PAIKEM

pendekatan pembelajaran paikem sejatinya bukan untuk diajarkan, atau diworkshopkan, tetapi untuk dirasakan dan dilakukan. PAIKEM itu seperti melakukan sebuah keikhlasan, ketika seseorang mengatakan bahwa “saya ikhlas” orang itu sedang tidak ikhlas. ikhlas itu adalah ketika seseorang sedang melakukan suatu keikhlasan tanpa sadar dia sedang ikhlas. begitu juga hakikat terdalam pembelajaran paikem.

rapat persiapan workshop PAIKEM

rapat persiapan workshop PAIKEM

Baca lebih lanjut

Iklan

Sebelum Final, Muhammadiyah Tegal Tolak Fatwa Haram Rokok

http://www.republika.go.id
Senin, 22 Maret 2010, 12:14 WIB
Smaller
TEGAL–Pengurus Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Tegal, Jawa Tengah, menolak kebijakan fatwa mengharamkan merokok karena keputusan ini belum final dan masih sebatas fatwa.

“Kami telah meminta pada masyarakat jangan mengambil sikap terlebih dahulu sebelum ada putusan resmi dari Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Majelis Tarjih dan Tajdid,” kata Ketua PD Muhammadiyah Kota Tegal, Mursalin, Senin 922/3).

Pada prinsipnya, PD Muhammadiyah akan sami`na wa atho`na atas putusan PP Muhammadiyah. Namun, kebijakan larangan merokok hingga kini masih sebatas fatwa dan belum mencapai final.

“Yang jelas, kami belum bersikap tentang fatwa itu karena yang berwenang terhadap masalah itu adalah majelis tarjih dan tajdid,” katanya.

Menurut dia, dalam aturan lembaga Muhammadiyah menyatakan bahwa hukum agama ada tiga tingkat, yaitu wacana tarjih, fatwa tarjih, dan putusan tarjih. “Haramnya merokok `kan baru sebatas fatwa dan kami akan bersikap setelah ada putusan final,” katanya.

Sekretaris PD Muhammadiyah Kota Tegal, Kaharudin, mengatakan bahwa PD Muhammadiyah Kota Tegal hingga kini belum menerima tembusan fatwa haram merokok dari PP Pusat Muhammadiyah. Namun secara prinsip, kata dia, PD Muhammadiyah akan mengikuti kebijakan dan putusan dari PP Muhammadiyah.

Ia memperkirakan keputusan haram atau tidaknya merokok diputuskan pada pertengahan April 2010, atau pada saat majelis tarjih dan tajid melaksanakan muktamar di Malang, Jawa Timur
Red: ajeng

Kampanye “Cinta Islam” Lewat Fashion


http://www.republika.go.id
Senin, 22 Maret 2010, 16:16 WIB
BERLIN–Tak perlu demonstrasi turun ke jalan untuk meneriakkan pembelaan atas Islam dan memerangi Islamophobia. Komunitas Muslim di Witten, Jerman punya cara unik untuk itu: promosi Islam lewat fashion. Mereka menjual aneka fashion yang kini digandrungi anak muda dengan pesan-pesan damai.

Maka jangan kaget saat berjalan-jalan di area publik di Witten, Anda akan menemukan anak muda setempat dengan kaus bertulis “Terrorism has no religion”. Atau di belakang kaus perempuan berjilbab bertuliskan “Hijab. My right. My choice. My life.”

Fashion yang semula ditujukan untuk komunitas Muslim ini, belakangan juga digandrungi anak muda Witten non-Muslim. Kaus bertulis penegasan Islam yang anti-terorisme lah yang paling laris manis. “Sungguh di luar dugaan,” ujar Melih Kesman, sang desainer, seperti dikutip Washington Times.

Ide pembuatan fashion cinta Islam muncul tahun 2006, saat dunia ramai-ramai menghujat kartun Nabi Muhammad di Denmark. Bersama beberapa rekannya, Melih Kesman memikirkan cara mengekspresikan Islam yang ramah tanpa melalui “cara yang tidak ramah”. Maka lahirlah ide itu.

Kesmen, imigran asal Turki yang besar di Jerman, memilih fashion sebagai media ekspresi. Alasannya sederhana, “Semua orang berpakaian.”

Semula, pria yang sehari-hari berprofesi sebagai desainer kaca mata ini hanya membuat kaus, topi, dan ikat kepala ala anak muda dengan tulisan I Love My Prophet. Belakangan, banyak permintaan agar ia membuat versi lain yang berisi pesan-pesan damai Islam.

Ia dan komunitasnya menjadi “model berjalan”. Dengan cara ini, dagangannya laris manis. “Kerap dicegat orang di jalan dan menanyakan dimana saya mendapatkannya,” ujarnya tergelak.

Ia lantas membuat banyak varian. Tak hanya kaus dan topi, tapi juga penutup kepala, ikat tangan, hingga perlengkapan kasual anak muda lainnya. Fokusnya tetap pada tulisan-tulisan yang mengkampanyekan Islam yang ramah.

Tak sampai tiga tahun, ide Kesman sudah mewabah di seluruh kota. Penggemarnya tak hanya kalangan Muslim, tapi juga non-Muslim. Untuk mereka, ia membuat desain dengan tulisan berbeda. Isinya tentang pesan-pesan toleransi dan multikultural. “Bahkan ada yang meminta desain untuk anak balita mereka,” ujarnya. Wah…

Quantum ikhlas. IKHLAS Mengundang Kemudahan HIDUP


“jika Ikhlas Sudah Menjadi kebiasaan, jangan heran kalu hidup menjadi penuh kedamaian dan kasih saying, juga penuh kedamaian dan kasih saying, juga kemudahan dan berbagai kejaiban”.

Oleh Wahyu hidayat :: Readers Digest Indonesia

Dengan tersenyum, seorang pria yang tinggal di sebuah kompleks perumahan di Jakarta merelakan dan mengikhlaskan perasaanya begitu mendengar kabar sebuah mobilnya telah hilang dicuri. Dampaknya, ia justru mendapatkan ganti dua buahh mobil dan semuanya baru!

Dengan keikhlasan pemiliknya, sebuah rumah di Depok, Jawa Barat, yang disantroni kelompok pencuri selamat dari aksi penjarahan. Para pencuri tidak mengambil satupun barang yang ada di dalam rumah meski mereka sudah melihat bahkan memegangnya!

Seorang karyawati putus asa karena mendapatkan dua kali surat peringatan akibat target penjualan perusahaannya di Bekasi, Jawa Barat, sebesar Rp 1,5 milyar tidak pernah terkejar. Setelah ia ikhlaskan hatinya, keajaiban pun datang. Hingga setahun kemudian, ia berhasil memberi pemasukan ke perusahaan sebesar Rp. 80 milyar. Ia tak jadi dipecat dan justru dihadiahi berbagai bonus, seperti sebuah rumah, dua kali berangkat umrah, dan melanjutkan sekolah ke S2!

Ketiga kisah tersebut tidaklah mengada-ada. Semuanya merupakan kisah nyata yang dialami orang-orang yang telah menerapkan ’i|mu’ ikhlas dalam kehidupannya, ilmu yang sesungguhnya sudah diajarkan secara turun temurun oleh nenek moyang kita. Tentu kita tidak asing dengan saran seorang teman atau saudara ketika kita tertimpa masalah dengan melontarkan kalimat, “Sudah|ah, ikhlaskan saja …. ”

Kalau mau digali, sebenarnya kalimat itu bermakna sangat dalam. “Ketika masalah mendatangi kita dan kita bersedia mengikhlaskan perasaan kita terhadap masalah tersebut, maka Tuhan akan memberikan solusi untuk kita,” kata Erbe Sentanu, pendiri Katahati Institute, lembaga pengembangan diri di Jakarta. Dan kalau Tuhan memberikan solusi, kata Erbe, maka solusinya bisa datang secara tidak terduga, atau dengan kata Iain, ajaib. Inilah yang terjadi dalam ketiga c0nt0h kasus di awal tulisan ini.

Erbe menegaskan, jalan keluar atau kemudahan tersebut memang sudah dijaminkan oleh Tuhan yang Dia tuangkan di sebuah surat dalam Alquran yang kira-kira berbunyi,“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. 65:2-4)

Ikhlas sendiri, bagi Erbe, memiliki arti keterampilan menyerahkan segala urusan kehidupan kepada Tuhan berlandaskan keyakinan dan kepasrahan atas kekuatan-Nya. Seperti saat kita mau menumpang pesawat terbang karena kita yakin bahwa sang pilot (yang tidak pernah kita lihat) akan mengantarkan kita selamat sampai ke tujuan. Sayang, di zaman yang serba cepat dan penuh kompetisi ini, keterampilan tersebut sudah terpinggirkan. Akibatnya, selain semakin banyaknya manusia stres, krisis demi krisis terus terjadi.

KEAJAIBAN IKHLAS ITU ILMIAH

Bagi kita, bangsa Indonesia, ikhlas bukanlah merupakan hal yang baru. Menurut Erbe, ini karena ikhlas sudah merupakan fitrah manusia sejak dilahirkan di dunia. Dan nenek moyang kita tahu itu sehingga muncullah ajaran-ajaran untuk selalu ikhlas. R.M.P. Sosrokartono, kakak kandung RA Kartini, misalnya, terkenal dengan salah satu ajarannya, trimah mawi pasrah (menerima dengan pasrah), yang mencakup “ikhlas terhadap apa yang terjadi, nlenerima apa yang dijalani, dan pasrah terhadap apa yang akan ada.”

First Lady pertama RI, Fatmawati Soekarno, sewaktu menunaikan ibadah ke Tanah Suci untuk terakhir kalinya, pergi bertiga dengan istri-istri musuh politik Bung Karno. Ketika akhirnya meninggal di Malaysia pun, ia ditunggui mereka bertiga. Menariknya, ketika Bung Karno meninggal, yang menyalatkan jenazahnya adalah Buya Hamka, orang yang pernah dijebloskannya ke dalam penjara. Kita bisa menarik pelajaran bagaimana konflik bisa terselesaikan dengan manis melalui keikhlasan hati yang ditunjukkan semuapihak yang memiliki hati yang besar.

Kalau benar-benar kita amati, selain ikhlas, keajaiban atau kejadian yang sulit dipercaya, juga bukan hal yang aneh. Sebetulnya kita sering atau pernah mengalami. Dan jika diperhatikan, keajaiban tersebut biasanya terjadi saat kita sudah menyerah kepada keadaan. Ini karena ketika kita menyerah, biasanya kita memasrahkan semuanya kepada Tuhan dan ikhlas apa pun yang terjadi. “Maka, saat itulah Tuhan memberikan solusinya secara tidak diduga-duga seperti yang Dia janjikan,” kata Erbe.

Sesungguhnya, tandas Chief Facilitator berbagai pelatihan teknologi spiritual ini, ikhlas dan keajaiban itu adalah sebuah mekanisme alamiah yang ilmiah. llmu Fisika Kuantum menjelaskan bahwa semua benda di alam semesta ini, baik yang tampak mau-pun yang tidak, bahan bakunya sama, berupa vibrasi energi yang memiliki kecerdasan dan kesadaran yang hidup yang disebut quanta. Kalau dilihat melalui mikroskop nuklir, benda-benda padat yang ada di sekeliling kita sama sekali tidak terlihat padat, tapi hanya berupa rongga berisi getaran quanta.

Salah satu hukum Fisika Kuantum juga menyebutkan bahwa tingkah Iaku partikel yang berubah-ubah dari benda padat menjadi getaran vibrasi dan sebaliknya itu sangat tergantung dari niat penelitinya. Ini bisa berarti bahwa semua benda yang Anda Iihat merupakan susunan energi quanta yang tercipta oleh kerja pikiran dan perasaan kita sendiri.

Hal itu sesuai dengan hukum semesta, Law ofAttraction, yang menyebutkan, setiap energi akan menarik energi yang sejenis. Dan karena pikiran dan perasaan itu bahan dasarnya adalah juga quanta, maka keduanya akan menarik apa yang kita pikirkan atau rasakan.

Ini pula yang terjadi ketika seseorang sedang mengikhlaskan perasaan nya terhadap masalah yang tengah dihadapinya. Ia sedang menyelaraskan pikiran dan perasaannya dengan kehendak Ilahi di level kuantum untuk menarik apa yang ia inginkan tersebut. “Maka, solusi yang kemudian hadir itu sebenarnya karena ‘kita undang’, bukan tanpa sebab apalagi ajalb,” jelas penulis buku Iaris Quantum lkhlas dan The Science and Miracle of Zona lkhlas ini.

Tentu saja, Erbe melanjutkan, “keajaiban” itu akan hadir kalau kita mampu menciptakan kondisi ikhlas di hati kita dengan cara mengakses zona ikhlas yang ada di dalamnya. Zona ikhlas ini adalah wilayah di dalam hati yang bersifat kuantum yang diyakini para ilmuwan sebagai sumber , segala hal yang dibutuhkan umat manusia. Dalam ilmu pengetahuan, zona ini disebut dengan berbagai nama, seperti Zero Point Field, The Field, Divine Matrix, atau Unified Field.

Lynne McTaggart, peneliti yang menulis buku The Intention Experiment, menyebutkan adanya ruang kosong di alam kuantum di mana semua energi dilahirkan. Ia menamakan nya, Zero Point Field.

Sama dengan Lynne, Gregg Braden dalam bukunya, Divine Matrix, menunjukkan bahwa di dalam Matrix Ilahi itu tersimpan blue print semua ciptaan dalam bentuk ‘benih’ segala kemungkinan yang belum mewujud — balk maupun yang buruk, tergantung pikiran, perasaan, atau niat kita. Jadi, Erbe menegaskan, Zero Point Field, Divine Matrix, atau Zona Ikhlas inilah yang perlu kita akses dan olah dengan pikiran, perasaan, dan doa-doa yang positif untuk membuat perubahan di dalam kehidupan.

MENGAKSES ZONA IKHLAS

Untuk memasuki Kona Ikhlas, Erbe menyarankan brainwave management atau pengaturan gelombang otak agar mendapatkan gelombang yang sesuai dengan gelombang di Zona Ikhlas tersebut. Bila dlrekam dengan alat perekam gelombang otak, EEG (elektroensefalogram), otak terlihat memancarkan gelombang sesuai kondisi jiwa seseorang. Gelombang tersebut dibagi menjadi:

* Beta (14—i0oHz): kita berada dalam kondisi sadar penuh, konsentrasi, otak didominasi logika.
* Alpha (8-13,9Hz): kondlsl relaks, lstlrahat, nyaman, medltatli bahagla.
* Theta (4—;9Hz): kondlsl medltatif yang leblh dalam, khusyuk, domlnasl lntuisl.
* Delta (o,1—3,9Hz): kondlsl tldur lelap tanpa mimpl, tldak sadar; tidak merasakan punya badan.

Dari keempat gelombang otak tersbut, Alpha dan Theta merupakan plntu masuk ke bawah sadar (dunia kuantum) dI mana Zona Ikhlas Itu terletak. Untuk mencapal gelombang Alpha dan Theta, Erbe menjelaskan, maka otak perlu dllstirahatkan dengan cara relaksasl atau medltasi. Caranya, dengan menstimulir panca Indra kIta. Untuk Indra peraba, blsa dilakukan pemIjatan, sedangkan untuk Indra penglihatan klta melakukannya dengan melihat dan menikmati keindahan. Sementra untuk Indra pengecapan, blsa dilakukan dengan berpuasa, Indra pencluman blsa di Iakukan dengan aromaterapi, serta Indra pendengaran, klta blsa melakukannya dengan mendengarkan Irama alam atau metode terapl musik.

Begitu klta merasakan relaks, nyaman, dan perasaamperasaan posItIf Ialnnya, Itu artlnya otak kIta. sedang dlpenuhl gelombang Alpha. Inllah saat yang tepat bagi kita untuk memberslhkan piklran dan perasaan negatif, trauma atau memorl yang tersimpan di bawah sadar dan menggantlkannya dengan semua hal yang posltlf sehingga tercapallah kondisl ikhlas itu.

Tanda-tanda kelkhlasan Itu adalah kalau klta sudah mampu mengubah perasaan negative tersebut menjadl perasaan nyaman, damal, clnta, syukur dan bahagla. Bralnwave management juga blsa dllakukan dengan menggunakan teknologi terkini, yaItu audio bralnwave, yang kinl sudah mu|aI banyak dlgunakan dI Indonesia. Ini adalah teknologi digital yang dapat memudahkan penggunanya memasuki gelombang Alpha atau Theta secara otomatis melalul suara atau musik. Suara atau muslk itu direkam dalam sebuah compact dlsc (CD) dan dIsIsIpI frekuensl tertentu yang akan melakukan slnkronisasl dengan gelombang otak penggunanya sehlngga tercapallah kondlsi relaks atau medltatif yang dIIngInkan. “JIka menerapkan Ikhlas sudah menjadi suatu keblasaan, maka jangan heran jlka hasll akhlrnya adalah hldup yang tldak hanya penuh kedamaian dan kasih sayang, tapI juga kemudahan dan berbagal keajaIban,” ujar Erbe. Sungguh menyenangkan. Mau? I

tradisi iblis “saya lebih baik daripada dia”


by budi.s

kata “ana khairun minhu” atau “aku lebih baik dari dia” pertama kali diucapkan iblis untuk menunjukkan ketakaburannya untuk sujud kepada Nabi Adam a.s., tapi iblis tidak mau. ia beralasan “Ia beralasan aku lebihh baik dari dia, Kau ciptakan aku dari api, dan kau ciptakan dia dari tanah” takabur yang dilakukan oleh iblis pertama kali itu adalah takabur karena nasab, takabur karena keturunan.
menurut Al-Ghazali, diantara beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi takabur dan berfikir “aku lebi baik daripada dia”, adalah nasab. iblis adalah tokoh takabur karena nasab yang paling awal. kebanggaan kebanggaan atau kesombongan karena nasab ini pernah menjadi satu sistem kemasyarakatan yang membagi masyarakat dalam masyarakat feodal. feodalisme adalah sistem kemasyarakatan yang membagi masyarakat berdasarkan keturunannya. sebagian masyarakat disebut darah dan sebagian lagi berdarah merah.
jadi jangan pernah merasa bangga dengan kedarahan yang biru, merah, kuning, hijau, kuning, pink atau yang lainnya, karena kesombongan atas nama keturunan adalah tradisi iblis.

disadur dari buku ‘the road to Allah” kang jalal

PARA PEMBACA TUHAN


Tuhan ada di dalam langkah
Tuhan ada di dalam darah
Tuhan ada di mana-mana
Tuhan ada dan menyatu di dalam diri
Konon, sebuah tim astronot Amerika mencari Tuhan di bulan. Mereka datang dengan sebuah pesawat dengan motivasi mencari sebuah kehidupan baru dan sekaligus mencari Tuhan. “Apakah betul Tuhan ada di sana” Tanya ketua tim pemberangkatan. Tidak ada sesuatu yang dapat membawa mereka kepada sebuah kesimpulan mengenai keberadaan Tuhan. Tidak ada tanda-tanda Tuhan di bulan. Apalagi mencari wujud Tuhan seperti keinginan Nabi Musa di bukit Tursina. Mereka kecewa, lalu berkesimpulan bahwa Tuhan tidak ada. Seorang anggota tim yang cerdas kemudian menemukan cara menemukan Tuhan. “Buka baju astronotmu, lepaskanlah tabung oksigenmu dan keluarlah dari pesawat. Karena Tuhan hanya mau ketemu dengan manusia tanpa aksesori dari bumi!”, katanya. Usulan ini rupanya cukup jitu. Seorang kemudian memberanikan diri melakukannya. Ia keluar pesawat tanpa tabung oksigen. Lima menit kemudian napasnya tersengal-sengal. Ia mati di permukaan bulan. Astronot itu memang akhirnya “bertemu” Tuhan di alam baka.
Awal abad XIX seseorang mencari Tuhan di sebuah pasar. Si pencari datang ke pasar pada siang hari dengan membawa lentera. “Aku mencari Tuhan”, katang berulang-ulang. Orang-orang disekitarnya, yang kebetulan tidak percaya Tuhan mengejek dan tertawa terbahak-bahak. “Kenapa, apakah Tuhan tersesat?” kata seseorang. “Apakah Ia tidak tahu jalan seperti anak kecil?” kata yang lain. “Ataukah Ia bersembunyi? Takut pada kita? Apakah Ia sedang bepergian?”, timpal yang lain sambil mencemooh si pencari.
Si pencari bukan orang sembarangan. Dia-lah yang pertama kali memaklumatkan kematian Tuhan. “Tuhan sudah mati! Karena kita membunuhnya”, kata laki-laki itu. Ia kerap ke gereja dan menyanyikan lagu kematian Tuhan, requem acternam dea. Ia menganggap gereja sebagai kuburan Tuhan. Di kemudian hari, orang ini memberikan pengaruh besar terhadap filsafat dan teologi. Ia adalah Friedrich Wilhelm Nietzshe (1844-1900).
Teori Nietzshe tentang “kematian Tuhan” tidak menyurutkan orang untuk mencari Tuhan. Ilmuan modern yang hidup setelah Nietzshe, tidak mencari Tuhan di pasar lagi. Einstein mencari Tuhan di alam semesta dengan ilmu fisikanya. Dengan fisika, ia menuju bagian terdalam alam semesta. Baginya, tuhan tidak bermain dadu dalam menciptakan alam semesta ini. max Planck mencari Tuhan di alam yang lebih kecil, dalam partikel-partikel atomic. Partikel-partikel yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop, menampakkan keghaiban yang tiada tara. Karena pada alam yang paling kecil, tidak ada lagi benda-benda. Yang ada hanya energy dan keghaiban. Charles Darwin bahkan tidak ragu-ragu tentang keberadaan Tuhan.
Filosof benedict Spinoza (1632-1677) bahkan membangun filsafatnya dengan ide-ide ketuhanan. Misalnya ketika ia mengganti “Tuhan Transenden” dengan “Tuhan Imanen”. Termasuk disini dapat disebutkan filosof-filosof muslim seperti al-Kindi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, dan lain-lain. Tak terkecuali, kelompokj teologi Asy’ariyah dengan konsep atomistiknya dan teori-teori geometric dari Umar Khayyam.
Pembacaan untuk menghadirkan Tuhan bukan pekerjaan yang dibangun kemarin sore. Para ahli yang meneliti mitos-mitos kuno menemukan bahwa secara sadar atau tidak, masyarakat telah membuat kodifikasi terhadap perasaan ketuhanan itu. Kodifikasi itu muncul daklam bentuk norma-norma spiritual dan social, ritus-ritus, dan etika sosial.
Psikolog Karl Gustaf misalnya mencatat bahwa kodifikasi itu berlanjut menjadi rujukan-rujukan utama dalam kehidupan. Misalnya, perjanjian baru dan perjanjian lama dalam agama Yudeo-Kristiani, Zarathustra Avesta pada orang Persia, al-Qur’an pada orang Islam, buku kematian (Book of Death) pada orang Mesir dan Tibet, Hesiod’s Theogini, Illiad, dan Odyssei dari Homerus, Virgil Aeneid, Sagus Keltik, Urartian di Armenia, Kojiki di Jepang, naskah-naskah Babylonia, mitos Ugaritik di Palestina dan Suriah, kitab Shi Ching di China, Rig Veda pada orang Hindu, kitab Mahabara dan Ramayana di India, dan lain-lain. Rujukan-rujukan ini telah menjadi bukti shahih bahwa manusia tidak pernah tuntas memanifestasikan apa yang dirasakannya sebagai naluri-naluri bertuhan (Pasiak, 2003:249-259)
Bahkan sampai hari, ketika dunia nyaris dihinggapi demam spiritual setelah sebelumnya kerasukan modernitas, tenggelam dan hanyut dalam gemerlap, hiruk pikuk kehidupan dunia yang ternyata menyebabkan manusia jatuh pada irasionalitas dan dehumanisasi yang mendalam. Orang-orang banyak mencari pemuas untuk ketenangan jiwa, alkoholisme, pergaulan bebas, bunuh diri, adalah bentuk-bentuk praktik pelarian dari kegamangan jiwa dan batin. Spiritualitas dan pencarian Tuhan Sang Adi Kuasa menjadi “kiblat” baru bagi penemuan hakikat kedirian manusia. Karena itu, bagaimana mengkonsruksi bangunan spiritual untuk hari ini (genarasi sekarang) dan masa yang akan datang…..?

disadur dari buku “Tasawuf Alam Tara, membaca alam, membaca diri dan membaca Tuhan”

“GENARASI TERDAHULU TELAH MEWARISKAN TRADISI UNTUK GENERASI MEREKA DAN GENERASI SETELAHNYA, MAKA KITA HARUS MEWARISKAN TRADISI UNTUK GENERASI KITA DAN GENARI YANG AKAN DATANG”
Budi.s

Buku “The World of Islam” Terus Menuai Polemik


sumber : http://www.republika.co.id

PHILADELPHIA–Aktivis Muslim Amerika Serikat hari ini menyerukan penarikan kembali buku “The World of Islam”, serial buku mengenai Islam untuk anak-anak terbitan Mason Crest Publishers, Philadelphia, Amerika Serikat. Buku yang ditujukan untuk “memahamkan islam” bagi anak-anak ini justru dinilai berisi pengetahuan yang menyesatkan dan mendorong sikap anti-Islam.

“The World of Islam” berisi 10 seri buku, yang masing-masing dijual seharga 22,95 dolar AS. Ke-10 buku ini ditulis oleh para peneliti dari Foreign Policy Research Institute, dan tak satupun yang beragama Islam.

Buku ini, meski berlabel buku islam, namun berisi pesan-pesan anti-Islam. Dalam salah satu bab di satu buku, misalnya, disebutkan “Muslimin datang ke Amerika Serikat adalah untuk mengubah tatanan sosial di AS, salah satunya melalui penyebaran ide-ide terorisme.”

Sampai hari ini, sudah puluhan pengaduan berisi keberatan atas buku itu disampaikan pada The Council on American-Islamic Relations (CAIR) di Pennsylvania. Moein Khawaja, director Hak-Hak Sipil CAIR, menyatakan telah meminta sang penerbit menarik buku itu untuk direvisi, namun permohonannya diabaikan.

Khawaja menyatakan, berdasar penelitian yang dilakukan lembaganya, buku yang ditujukan untuk siswa sekolah menengah ini “penuh dengan informasi yang tak benar dan menyesatkan”. Namun Foreign Policy Research Institute (FPRI) yang menggagas terbitnya buku ini menyatakan isi bukunya “sudah sesuai dengan kondisi sebenarnya.”

FPRI adalah lembaga “think tank” yang turut mendukung pendudukan AS atas Irak. Lembaga ini didirikan tahun 1955 dan salah satu anggota dewan direksinya adalah Alexander Haig, mantan menteri luar negeri pada masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan.