perpustakaan gratis dan jasa penerbitan/percetakan, pengadaan dan pembelian buku

kami adalah lembaga yang bergerak di bidang perbukuan, nama lembaga kami adalah rumah buku madani institute. silahkan berkunjung ke tempat kami. mahasiswa dapat membaca buku2 yang berkaitan dengan perkuliahan dan konsultasi skripsi/tesis. madrasah atau seko!ah jga dapat kami layani untuk pengadaan buku2 perpustakaan atau koleksi perpustakaan pribadi.Potret Buram Baca lebih lanjut

Iklan

Keliru, Anak Dipaksa “Calistung” di TK


KOMPAS.com — Adanya tes masuk untuk SD unggulan kian menaikkan harapan orangtua atas anak-anaknya, yaitu pada usia TK anak-anak ditargetkan bisa baca-tulis-hitung (calistung). Namun, sebetulnya justru bukan calistung yang harus ditekankan.
Ada kekeliruan, orang merasa anak harus bisa tulis hitung untuk masuk SD.

Roslina Firauli, psikolog anak yang lebih akrab dipanggil Vera, ketika ditanya mengenai tes masuk SD ini mengatakan, secara prinsip dirinya setuju ada ujian. Namun, secara tegas Vera mengatakan, “Ada kekeliruan, orang merasa anak harus bisa tulis hitung untuk masuk SD.” Alasannya, justru kemampuan calistung itu dikembangkan semasa SD, bukan sebelumnya. Otak anak idealnya mulai mempelajari calistung pada usia 6-7 tahun, atau kira-kira kelas 1 atau 2 SD. “Jadi kalau baca tulis hitung untuk masuk SD itu tak tepat,” tuturnya pada Kompas.com via telepon, Jumat (12/2/2010).

“Tapi ujian perlu ada,” ujarnya.

Maksud Vera adalah bahan yang diuji seharusnya adalah tiga hal berikut ini. Pertama, kemampuan psikososial, yaitu kemampuan berinteraksi dengan sesama teman, dan mendengarkan figur otoritas, yaitu guru dan orangtua. Kedua, stimulasi untuk tugas-tugas dasar, seperti mewarnai, menggunting, atau menggambar, terutama untuk bentuk-bentuk dasar seperti lingkaran, kotak, dan segitiga.

Ketiga, lanjut Vera, konsep-konsep dasar seperti pengertian jauh dekat, membedakan warna, mengenali nama-nama binatang, dan mengenali bentuk-bentuk dasar yang disebutkan tadi. “Khusus untuk bentuk-bentuk dasar ini bila si anak bisa mengenali dan menggambarkannya, maka itu bekal untuk mengenali tulisan dan menulis. Tapi bukan berarti si anak yang usia TK dipaksa baca tulis,” katanya.

Menurut Vera, di luar ketiga hal di atas, terutama ujian calistung, sangat tak disarankan.

Sementara Ratih Ibrahim, psikolog personal growth, dalam konteks ujian calistung dengan tegas menyatakan, “Saya menentang ujian masuk SD.”

Ia menjelaskan bahwa memosisikan calon anak SD ke dalam proses seleksi melalui ujian belum-belum sudah memberikan stres yang tidak perlu. Mempertimbangkan kemungkinan orangtua jadi panik karena ada ujian masuk SD ini akan menambah tingkat tekanan kepada anak-anak kecil ini.

“Potensi kerusakan emosional yang ditimbulkannya besar sekali. Dan dampak traumanya ke masa depan bisa mengerikan, sebetulnya. Bisa-bisa anak-anak jadi tidak mau sekolah, benci sekolah, dan mengembangkan sikap anti-sekolah,” katanya.

Ratih juga berpendapat bahwa tes seharusnya konsep dasar saja, seperti bentuk bangun, warna, dan konsep besar kecil. “Jadi masyarakat tak panik,” tegasnya.

Dari Kemdiknas sendiri sebetulnya dikenal program PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Dalam situsnya, Kemdiknas menyebutkan bahwa PAUD memang lebih menekankan konsep bermain, walaupun ujungnya memang bisa mengajarkan anak untuk calistung. Namun, orangtua justru mengira PAUD itu adalah untuk calistung saja, dan malah menolak kegiatan bermain. Sepertinya memang butuh sosialisasi lebih agar masyarakat, pemerintah, dan sekolah-sekolah serempak dalam kebijakan ujian ini.

Beasiswa S-2 dan S-3 ke Prancis, Mau?


JAKARTA, KOMPAS.com – Masih ada kesempatan besar bagi para staf pemerintahan, dosen, maupun mahasiswa Indonesia yang ingin mendapatkan Beasiswa Pemerintah Prancis atau Bourse du Gouvernement Français (BGF) untuk tahun ajaran 2010/2011. Pengiriman aplikasinya paling lambat sampai 31 Maret 2010 mendatang.

BGF diperuntukkan bagi para staf pemerintahan, dosen, serta mahasiswa di instansi-instansi atau universitas yang telah memiliki program kerjasama dengan pemerintah Prancis. Program beasiswa ini pun diberikan hanya untuk dua jenjang pendidikan, yaitu Master (beasiswa penuh selama 2 tahun) dan Doktoral (beasiswa penuh selama 18 bulan).

Untuk memeroleh beasiswa ini, BGF pun hanya akan memberikan prioritas kepada para pelamar yang telah melakukan identifikasi program, baik itu Master (S-2) atau Doktoral (S-3), dan yang telah memiliki respon positif atau memperoleh rekomendasi dari profesor Prancis atau surat penerimaan.

Adapun skema beasiswa ini meliputi biaya kursus Bahasa Prancis di CCF Jakarta, biaya hidup, asuransi, serta tiket pulang pergi Indonesia-Prancis. Semua informasi dan formulir aplikasi beasiswa ini bisa segera diunduh di sini.

Aplikasi diserahkan paling lambat 31 Maret 2010 ke Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia (Ambassade de France en Indonesie) di Jalan Panarukan No.35, Menteng, Jakarta Pusat, 10310.

madrasahku sayang madrasahku malang


by budi santosa
potret madrasah yang selama ini kita ketahui adalah salah satu jenis mahluk sekolah yang bernama madrasah. madrasah adalah tempat didiknya para siswa, santri hampir 24 jam madrasah atau pondok pesantren memberikan didikan dan bimbingan, bahkan madrasah adalah sekolah pertama yang ada di negara ini. tidak ada lembaga pendidikan yang begitu ikhlas mendidik siswa-siswanya, yang guru-gurunya digaji hanya beberapa puluh ribu rupiah saja, jauh lebih mahal pembayaran suara burung beo yang tidak fasih mengucapkan “assalamualaikum” ketimbang bacaan seorang ustadz/guru madrasah yang begitu fasih mengucapkan materi pelajarannya. sekarang-sekarang ini para guru, termasuk guru madrasah mendapat tambahan rupiah dari berbagai kebijakan pemerintah, diantaranya ada tunjangan fungsional. ada sertifikasi guru yang katanya untuk meningkatkan mutu profesionalitas guru. program-program ini sedikit tidak memberikan tambahan asap dapur para guru madrasah, walaupun peningkatan mutu para guru ini tidak kunjung menampakkan hasil yang signifikan, karena yaa jujur saja beberapa orang guru sudah tidak jujur dalam mengikuti proses sertifikasi, sertifikat-sertifikat yang diajukan untuk memenuhi ketentuan proses sertifikasi, dokumennya begitu tebal, tebal karena sertifikat tetangganya juga ikut masuk ke dokumen yang diajukan. inilah kenyataan yang hari ini kita lihat dan hadapi, sampai kapan? ya hanya waktu yang bisa menjawab. hanya ada satu mindset menurut saya yang harus kita pegang “mengadakan perubahan tradisi”. merubah tradisi dari madrasah yang kurang kreatif menjadi madrasah yang kaya dengan kreatifitas, merubah tradisi dari madrasah yang kurang percaya diri menjadi madrasah yang begitu percaya diri. merubah tradisi madrasah yang kumuh menjadi madrasah yang bersih dan asri…bersegeralah merubah tradisi itu hari ini atau tidak sama sekali…

said agil : menjadi muslim moderat itu tak mudah


sumber : http://www.republika.co.id
AKARTA–Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj, mengatakan kezaliman terhadap umat Islam sudah sangat serius. Sebab itu, untuk bersifat moderat nampaknya merupakan hal yang sulit.

“Terdapat dua kezaliman yang berada di hadapan umat Islam. Pertama Kezaliman politik internasional melalui wajah Dewan Keamanan PBB dan kedua, kezaliman Moneter dengan mata Uang dollar sebagai kolateralnya,” tegasnya saat penutupan Rakernas I Majelis Alumni IPNU di Jakarta, Senin (1/2).

Kezaliman politik, kata Siradj, banyak disebabkan oleh keberadaan Dewan Keamanan PBB. Keputusan yang telah dirumuskan bersama negara-negara anggota PBB lenyap seketika ketika satu dari lima anggota DK PBB mem-veto. Ketidakadilan inilah kata dia, kerap merugikan umat Islam.

“Harusnya, DK PBB itu isinya organisasi-organisasi dunia seperti OKI, ASEAN, Uni Afrika, Uni Eropa, dan lain-lain, tidak hanya 5 negara saja,” katanya.

Kezaliman kedua, papar Siradj, berasal dari penggunaan mata uang dollar sebagai kolateral pengganti emas. “Indonesia misalnya mau mengeluarkan emas maka harus membeli dollar sebagai kolateralnya,” katanya.

“Dua hal inilah yang menyebabkan umat Islam untuk berbuat moderat itu sulit. Bagaimana tidak berat, lha wong kita dizalimi. Sulit untuk mencegah itu,” tegasnya.

“Hal itu pula yang menyebabkan ekstrimisme berkembang, Bukan karena kebodohan mereka bersifat seperti itu, tapi karena kezaliman berada di depan mereka. Orang-orang ekstrimisme itu tidak bodoh,” tukasnya.

Oleh karenanya, kandidat Ketum PBNU ini menilai, kedua hal inilah tantangan berat yang ada di depan mata umat Islam di seluruh Indonesia.
Redaksi – Reporter
Red:
taqi
Reporter:
cr2