rekonstruksi mindset madrasah


gambar madrasah NW sanggeng lombok tengah NTB

by budi santosa

ada satu cara berfikir yang sudah berurat dan berakar oleh para punggawa madrasah, kepala madrasah, guru madrasah dan pengelola madrasah lainnya. pemahaman ini kemudian menjadi ayat-ayat suci para pengelola madrasah. adalah benar bahwa membangun madrasah yang berkualitas didukung dengan bangunan fisik madrasah yang memadai, fasilitas yang cukup, sarana dan prasarana yang mendukung, tetapi mindset para pengelola madrasah tentang semua itu adalah di atas segalanya, bangunan madrasah yang bertingkat dua, tiga atau bahkan empat tingkat akan menjadi ukuran madrasah itu adalah madrasah yang bertaraf berkemajuan dibanding madrasah yang mempunyai bangunan sederhana. maka persoalan mutu madrasah menjadi persoalan yang tidak begitu penting. berbicara mutu, maka banyak hal yang harus dibicarakan. saya tidak akan menguraikan seperti apa mutu dan kualitas madrasah, saya lebih senang menyebutnya dengan bagaimana membangun budaya madrasah. budaya madrasah dalam menbangun suasana belajar, suasana membaca, suasana madrasah yang bersih, asri, dan menyenangkan. banyak madrasah yang mempunyai bangunan yang mentereng tapi kebersihannya cukup menghawatirkan, hampir tidak kita temukan madrasah yang begitu serius menjaga kebersihan madrasahnya, sebenarnya persoalan kebersihan adalah tanggungjawab semua elemen madrasah, siswa madrasah bisa dilibatkan untuk menjaga kebersihan madrasah, misalnya mengadakan lomba kebersihan ruangan dan halaman madrasah setiap bulannya. dengan demikian siswa akan termotivasi untuk menjaga kebersihan dan keindahan ruangan dan halaman kelasnya, tanpa harus memaksa mereka menjaga kebersihan madrasah. menumbuh kembangkan budaya dan suasana belajar dan membaca siswa tidak harus dengan mempunyai bangunan perpustakaan yang mewah. pengelola bisa membuat pojok-pojk baca disudut ruangan kelas, bisa juga membuat tempat-tempat duduk baca di halaman sekolah dengan menyediakan buku-buku disudut halaman madrasah, buku-buku yang disediakan madrasah tidak harus buku-buku yang terlalu serius dan membutuhkan siswa untuk berfikir, tapi buku-buku komik yang menarik dan senang dibaca siswa juga hendaknya disediakan, yang terpenting adalah bagaimana menjadikan siswa mempunyai hobi membaca. bangunan madrasah yang mewah tidak menjamin mutu siswanya baik, tetapi madrasah yang dibangun dengan mindset cara berfikir dengan membangun budaya madrasah adalah jaminan penting menuju madrasah yang maju dan berkualitas

nahdlatul madrasah


by budi santosa

adalah sebuah kenyataan yang harus secara jujur kita akui, bahwa ketika seseorang ingin memasukkan anaknya ke sebuah sekolah, maka madrasah adalah pilihan terburuk yang menjadi pilihan rata-rata orang tua, atau dengan kata lain paling apes daripada anak tidak sekolah karena tidak diterima di sekolah umum, masukkan saja di madrasah. atau ketika seorang anak sudah mengalami tingkat kenakalan yang sangat parah, maka solusinya adalah memasukkan anak ke madrasah. jadi madrasah menjadi pilihan terakhir para orang tua siswa untuk menyekolahkan anaknya, dengan alasan-alasan yang kebanyakan berbau negatif. seorang anak akan merasa kurang percaya diri ketika ditanya sedang sekolah dimana?ia akan merasa malu kalau akan menjawab sedang sekolah di madrasah. demikianlah beberapa steriotip yang masih sampai ini menempel pada madrasah. padahal madrasah adalah lembaga pendidikan pertama yang ada di negara ini, dengan pondok pesantren sebagai basisnya. namun sampai hari ini madrasah mengalami nasib yang kurang beruntung dibandingkan dengan sekolah umum. dalam kondisi madrasah yang “laa yamuutu wala yahya” (hidup segan mati tak mau) inilah banyak lembaga-lembaga pemberi bantuan bagi madrasah, sebut saja salah satunya program LAPIS, kerja sama antara pemerintah Australia dengan Indonesia. program ini telah banyak membantu madrasah terutama dalam hal peningkatan mutu pendidikan madrasah, dan yang terakhir ini adalah program integrasi, dimana madrasah dibantu untuk bangun dari tidur panjangnya, tidur dalam kesenjangan mutu pendidikan. madrasah-madrasah ini dituntun untuk mampu memenuhi 8 standar nasional pendidikan guna meningkatkan akreditasi madrasah. program ini terdapat di tiga propinsi, yaitu di Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. semoga dengan momentum ini adalah awal dari apa yang saya sebut sebagai “nahlatul madrasah” (kebangkitan madrasah) walaupun program integrasi LAPIS ini hanya membantu beberpa madrasah tetapi kontribusinya cukup signifikan untuk kebangkitan madrasah. kesibukan departemen agama dalam mengurus semua bidang keagamaan di negara ini mungkin menjadikan madrasah agak kurang terurus dan kurang terawat, lain halnya dengan sekolah-sekolah umum yang diurus dan dirawat oleh departemen pendidikan nasional, mempunyai nasib yang lebih baik daripada madrasah.