MELAKUKAN PEMBELAJARAN PAIKEM

pendekatan pembelajaran paikem sejatinya bukan untuk diajarkan, atau diworkshopkan, tetapi untuk dirasakan dan dilakukan. PAIKEM itu seperti melakukan sebuah keikhlasan, ketika seseorang mengatakan bahwa “saya ikhlas” orang itu sedang tidak ikhlas. ikhlas itu adalah ketika seseorang sedang melakukan suatu keikhlasan tanpa sadar dia sedang ikhlas. begitu juga hakikat terdalam pembelajaran paikem.

rapat persiapan workshop PAIKEM

rapat persiapan workshop PAIKEM

Baca lebih lanjut

perpustakaan gratis dan jasa penerbitan/percetakan, pengadaan dan pembelian buku

kami adalah lembaga yang bergerak di bidang perbukuan, nama lembaga kami adalah rumah buku madani institute. silahkan berkunjung ke tempat kami. mahasiswa dapat membaca buku2 yang berkaitan dengan perkuliahan dan konsultasi skripsi/tesis. madrasah atau seko!ah jga dapat kami layani untuk pengadaan buku2 perpustakaan atau koleksi perpustakaan pribadi.Potret Buram Baca lebih lanjut

SATUAN ACARA PERKULIAHAN SEMESTER GENAP JURUSAN PENDIDIKAN IPS EKONOMI FAKULTAS TARBIYAH IAIN MATARAM Tahun Akademik 2011/2012

1. Identitas Mata Kuliah

Nama Mata Kuliah : Ilmu Kalam
Jumlah SKS : 2 SKS
Semester/Kelas : IV/A, D dan E
Jurusan : Pendidikan IPS Ekonomi
Fakultas : Tarbiyah IAIN Mataram
Dosen : Budi Santosa, M.S.I.
HP :
2.Kompetensi Mata Kuliah
Mahasiswa mengenali dan memahami pemikiran kalam yang dikonstruk oleh para teolog klasik dan dapat merumuskan rancang bangun keilmuan kalam dari teologi menuju teoantropologi sehingga dapat merefleksikannya dalam pola pikir, pola rasa dan pola laku.
3.Deskripsi Mata Kuliah
Merekontruksi teologi Islam klasik merupakan sebuah keniscayaan. Karena dengan mempertahankan doktrin-doktrin teologi Islam klasik yang lebih cenderung kepada trend teosentris atau Ketuhanan (theos) yang menjadi pembahasan pokok teologisnya telah jauh menyimpang dari misinya yang paling awal dan mendasar, yaitu liberasi atau emansipasi umat manusia. Rumusan klasik di bidang teologi pada hakikatnya tidak lebih dari sekumpulan diskursus keagamaan yang kering dan tidak punya kaitan apapun dengan fakta-fakta nyata kemanusiaan. Paradigma teologi klasik yang ditinggalkan para pendahulu hanyalah sebentuk ajaran langitan, wacana teoritis murni, abstrak-spekulatif, elitis dan statis; jauh sekali dari fakta-fakta nyata kemanusian dan kenyataan sosial kemasyarakatan. Padahal, semangat awal dan misi paling mendasar dari gagasan teologi Islam (Tauhid) sebagaimana tercermin di masa Nabi saw. sangatlah liberatif, progresif, emansipatif dan revolutif.
Disamping itu, kita membutuhkan formulasi teologi Islam kontemporer sebagai sintesis dari perkembangan pemikiran manusia kontemporer yang diakibatkan oleh perubahan sosial yang dibawa oleh arus ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam perspektif perkembangan masyarakat modern dan postmodern, Islam harus mampu meletakkan landasan pemecahan terhadap problem kemanusiaan (kemiskinan, ketidakadilan, hak asasi manusia, ketidakberdayaan perempuan dan sebagainya). Oleh karena itu, diskursus teologi Islam kontemporer adalah isu-isu kemanusiaan universal, pluralisme keberagamaan, kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Dengan demikian, agar Islam lebih survive dalam menghadapi dunia modern dan postmodern, maka perlu adanya perubahan diskursus teologi Islam yang pada mulanya hanya berbicara tentang Tuhan (teosentris) beralih pada persoalan-persoalan kemanusiaan universal (antroposentris).
4. Materi Pokok
a. Quo Vadis Ilmu Kalam Di Perguruan Tinggi (refleksi dan reorientasi14 abad ilmu kalam)
b. Sejarah timbulnya persoalan-persolan teologi dalam Islam
Kajian pemikiran-pemikiran kalam (isme-ime kalam klasik)
c. Khawarij dan Murji’ah
d. Mu’tazilah, Asy’ariyah dan Maturidiyah
e. Jabariyah dan Qadariyah
f. Ahlussunnha wal Jama’ah
Kajian pemikiran kalam modern
g. Seykh Muhammad Abduh dan Muhammad Iqbal
h. Hasan Hanafi dan Fazlurrahman
Rancang bangun ilmu kalam di abad 21(studi atas tema-tema kalam kontemporer)
i. Tauhid dan idealitas tatanan masyarakat madani
j. Iman, Islam dan agenda kesejahteraan masyarakat
k. Adil dan persoalan ekonomi kontemporer
l. Rumusan dan rekomendasi, dari teologi menuju teoantropologi

5. Buku-buku rujukan
Amin Nasihun, 2009, Dari Teologi menuju Teoantropologi pemikiran teologi pembebasan Ashghar Ali Enginer, Walisongo Press, Semarang.
Suyono, Yusuf, 2008, Reformasi Teologi, Muhammad Abduh vis a vis Muhammad Iqbal, Rasail Media Group, Semarang.
Hanafai,A., 1980, Theology Pengantar Islam, Pustaka al-Husna, Jakarta.
Santosa, Budi, tt, Membumikan Ajaran-ajaran Langit Pendalaman Aspek Aqidan dan Akhlak, Wisdom Institute. Yogyakarta.
Nasution Harun, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, UI Press, Jakarta.
Asmuni, Yusran, 1994, Pertumbuhan dan Perkembangan Berfikir dalam Islam, al-Ikhlas, Surabaya.

PENDIDIKAN KARAKTER DAN AGENDA PENYELAMATAN KEBANGKRUTAN BANGSA

Sejak bergulirnya era reformasi tahun 1997, sebuah era yang menjadi tumpuan asa dan harapan seluruh rakyat Indonesia atas keterpurukan dan kegelapan rezim orde baru, 14 tahun sudah era reformasi itu bergulir sampai di penghujung tahun 2011 memasuki tahun baru 2012 era itu belum juga menampakkan hasil yang menggembirakan. Bahkan bangsa ini terlihat tidak memiliki masa depan cerah ke depannya, semakin terpuruk dan menuju jurang kebangkrutan. Bangsa ini nyaris bangkrut di semua lini kehidupan dan pelan-pelan namun pasti akan menuju kebangkrutan yang sempurna. Kebangkrutan bangsa dari semua lini itu terlihat lengkap, lihatlah sektor ekonomi yang tidak kunjung membaik, penyakit kemiskinan akut yang sulit terobati, persoalan ini selanjutnya melebar dan menulari perilaku masyakat yang negatif, taruhlah misalnya tingkat kriminalitas yang tinggi, buruknya kesehatan masyarakat, rasa putus asa sebagian masyarakat akan sulitnya perekonomian telah nampak dari beberapa peristiwa yang sulit kita percaya, misalnya sebuah keluarga bunuh diri berjama’ah karena putus asa bagaimana cara mempertahankan keberlangsungan hidupnya, seorang ibu rumah tangga membunuh anaknya lalu ibu itu membunuh dirinya adalah pemandangan yang telah banyak kita saksikan di media-medi elektronik dan media masa. Itulah sederet peristiwa nyata betapa kemiskinan yang dialami bangsa ini telah mencapai taraf yang sempurna. Telah banyak program pengentasan kemiskinan digelindingkan, program-program itu bersifat ad hoc (hanya tidak menyebutkanya instan) yang kemudian melahirkan hasil yang instan pula. Perilaku masyarakat yang hanya mengharapkan bantuan, tidak mandiri, hedonis, konsumtif bahkan semakin nampak.
Lihatlah perilaku koruptif para pelaku dan pemangku jabatan bangsa ini dari atas sampai bawah, dari pusat sampai daerah. Perilaku koruptif para koruptor yang mencuri uang negara ini telah sampai kepada taraf yang paling menghawatirkan dan mematikan, kalau kita menengok sejarah banyak bangsa-bangsa terdahulu masuk ke jurang kehancuran karena perilaku koruptif yang tak terbendung. Rakyat setiap hari dipertontonkan dengan berbagai kasus korupsi yang hampir semuanya menjadi misteri, kasus bank century, kasus suap cek pelawat, yang terakhir kasus korupsi wisma atlet dan hambalang yang terindikasi melibatkan para penguasa di negeri ini. Hampir seluruh lembaga di negara ini tidak luput dari virus korupsi, dan rakyat hanya bisa menonton tanpa bisa berbuat apapun. Atas perilaku korupsi itu, negara kemudian membentuk sebuah lembaga ad hoc yang bernama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), di awal pembentukan lembaga ini, rakyat menaruh harapan besar dengan banyaknya penangkapan pelaku korupsi, namun akhir-akhir ini harapan itu perlahan namun pasti telah sirna, korupsi semakin menjadi-jadi, akhirnya negara ini nyaris kalah dengan para koruptor. Lihatlah penegakan hukum di negara ini yang carut marut, bagaimana mungkin seorang anak pelajar SMP di Sulawesi Utara mencuri sandal diancam hukuman 5 tahun penjara? Bandingkan dengan para koruptor yang hanya mendapat hukuman 2 tahun serta mendapat remisi, amnesti dan sebagainya, Tidak bisakah pencurian sandal jepit diselesaikan secara kekeluargaan serta musyawarah? Kemanakah karakter manusia-manusia Indonesia yang lebih suka mengedepan kekeluargaan, gotong-royong serta musyawarah itu? Karakter dan nilai-nilai luhur bangsa itu bagaikan mutiara-mutiara yang hilang. Lihatlah nasib para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang semakin buruk, buruk diperlakukan di negeri sebrang dan buruk pula diperlakukan di negeri sendiri, di luar negeri mereka mendapat perlakuan yang tidak manusiawi, dianiaya, diperkosa tidak digaji, bahkan dihukum mati tanpa diberikan kesempatan untuk memperoleh bantuan hukum, dan negara ini selalu telat dan lamban melindungi mereka. Mereka para TKI juga kurang mendapatkan pendidikan keTKIan yang maksimal, sehingga mereka terkadang tidak dapat bekerja dengan baik di tempat kerja mereka. Lihatlah pula perilaku dan budaya kekerasan yang kian hari semakin parah. Kekerasan telah menjadi watak dan karakter penghuni negeri ini, baik itu kekerasan oleh aparat negara terhadap warga masyarakat, kekerasan antar sesama warga, tawuran antar pelajar dan mahasiswa serta koflik horizontal semakin menampakkan eksistensinya. Kejadian pelanggaran HAM di Mesuji, penembakan warga di Bima NTB serta yang terakhir penembakan di Aceh, kelihatannya hampir seluruh persoalan diselesaikan dengan selongsong senapan dan ujung parang, sungguh kondisi yang tidak patut diwariskan bagi anak cucu negeri ini. Semua hal di atas telah cukup untuk memberikan kesimpulan bahwa bangsa ini berada di ambang kebangkrutan. Pertanyaan selanjutnya adalah, kepada siapa dan apa rakyat akan menaruh harapan ketika seluruh elemen bangsa ini menyumbang benih-benih kebangkrutan itu? Pembentukan lembaga ad hoc seperti KPK, Komnasham, Komisi Perlindungan Anak, pencanangan program-program program-program kemiskinan, kesehatan, pendidikan sepertinya tidak menjanjikan penyelematan kebangkrutan bangsa ini secara permanen. Semua itu hanya bersifat sementara dan instan bahkan nyaris tak membuahkan hasil yang memuaskan. Seluruh tanda-tanda kebangkrutan itu tidak lain dilakukan oleh manusia-manusia Indonesia sendiri. Mereka pelaku tanda-tanda kebangkrutan itu adalah produk bangsa ini, mereka adalah anak-anak bangsa yang dilahirkan dari bangku-bangku sekolah di negeri ini. Mulai dari mereka diasuh keluarga semenjak kecil kemudian mengenyam pendidikan sampai mereka bekerja dan melakukan tindakan-tindakan korupsi. Karena itu harus ada jalan keluar dari kondisi ini, solusi jangka panjang adalah reformasi pada sektor pendidikan, pendidikan dalam arti luas, pendidikan keluarga, pendidikan formal dan non formal. Karena sektor inilah yang mencetak kader bangsa. Generasi bangkrut ini harus terpotong saat ini dengan melakukan formula baru sistem pendidikan yang melahirkan anak-anak bangsa yang mempunyai good character (karakter yang baik). Karakter seseorang tidaklah muncul secara tiba-tiba, karakter haruslah dibentuk sedari kecil. Semenjak seorang anak berada di lingkungan keluarga, sampai mengenyam pendidikan, lingkungan sosial juga turut membentuk karakter seorang anak.
sebuah iklan yang menarik di media televisi swasta, tentang bagaimana seorang anak yang sejak kecil sudah sering tidak jujur kepada orang tuanya, kemudian di sekolah ia mempunyai kebiasaan menyontek, sampai ia tumbuh dewasa dan dijalanan ia melanggar peraturan lalu lintas dan menyogok aparat kepolisian, dengan istrinya ia melakukan tindakan tidak jujur dengan berselingkuh dan akhirnya ditempat kerja ia akrab dengan melakukan tindakan korupsi dan suap, selanjutnya ia dipenjara. Pesan iklan ini adalah, sesungguhnya perilaku negatif, tidak jujur, menyuap dan sebagainya adalah perilaku yang memang telah terbentuk dari kecil dan dari hal-hal yang kecil dan sederhana, tetapi menjadi karakter yang mengkristal sampai si anak itu tua. Karena itu, jika sektor pendidikan tidak mampu mencegah kepribadian buruk anak negeri ini dan jika sektor pendidikan tidak mampu lagi mencetak kader bangsa yang jujur, amanah, santun serta mempunyai karakter yang baik maka kebangkrutan bangsa sudah tidak bisa terhindarkan lagi. Saya tidak mengatakan bahwa, pendidikanlah yang menjadi resep mujarab untuk menyelesaikan seluruh persoalan bangsa, tetapi saya yakin memperbaiki kondisi bangsa pada konteks jangka panjang adalah sektor pendidikan tempatnya, dari sinilah generasi baru itu terbentuk, walaupun sektor pendidikanpun seringkali terjangkiti wabah perilaku buruk semisal uraian di atas. Kita mungkin sepakat, dengan melihat pengantar di atas, bahwa penghuni negeri ini telah mengalami pengikisan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang menjadi karakter individu-individu warga negaranya, sehingga yang muncul adalah karakter bangsa yang mulai jauh dari cerminan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Menurut saya pembentukan karakter anak bangsa yang baik akan sangat efektif dilakukan melalui jalur pendidikan, tetapi sector pendidikan tidak boleh diberikan sendiri menanggung tugas ini, seluruh komponen bangsa ini harus merasa bertanggungjawab atas upaya-upaya tumbuhkembangnya good character.

Sebelum Final, Muhammadiyah Tegal Tolak Fatwa Haram Rokok

http://www.republika.go.id
Senin, 22 Maret 2010, 12:14 WIB
Smaller
TEGAL–Pengurus Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Tegal, Jawa Tengah, menolak kebijakan fatwa mengharamkan merokok karena keputusan ini belum final dan masih sebatas fatwa.

“Kami telah meminta pada masyarakat jangan mengambil sikap terlebih dahulu sebelum ada putusan resmi dari Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Majelis Tarjih dan Tajdid,” kata Ketua PD Muhammadiyah Kota Tegal, Mursalin, Senin 922/3).

Pada prinsipnya, PD Muhammadiyah akan sami`na wa atho`na atas putusan PP Muhammadiyah. Namun, kebijakan larangan merokok hingga kini masih sebatas fatwa dan belum mencapai final.

“Yang jelas, kami belum bersikap tentang fatwa itu karena yang berwenang terhadap masalah itu adalah majelis tarjih dan tajdid,” katanya.

Menurut dia, dalam aturan lembaga Muhammadiyah menyatakan bahwa hukum agama ada tiga tingkat, yaitu wacana tarjih, fatwa tarjih, dan putusan tarjih. “Haramnya merokok `kan baru sebatas fatwa dan kami akan bersikap setelah ada putusan final,” katanya.

Sekretaris PD Muhammadiyah Kota Tegal, Kaharudin, mengatakan bahwa PD Muhammadiyah Kota Tegal hingga kini belum menerima tembusan fatwa haram merokok dari PP Pusat Muhammadiyah. Namun secara prinsip, kata dia, PD Muhammadiyah akan mengikuti kebijakan dan putusan dari PP Muhammadiyah.

Ia memperkirakan keputusan haram atau tidaknya merokok diputuskan pada pertengahan April 2010, atau pada saat majelis tarjih dan tajid melaksanakan muktamar di Malang, Jawa Timur
Red: ajeng